Kreasi

Kreasi Inovasi Pasar-Pasaran

Kreasi dan inovasi adalah cermin sebuah ide. Kualitas ide sangat dipengaruhi oleh kreasi dan inovasi. Kini tidak sulit untuk menemukan hasil dari ide itu. Ide yang dicari tentu ide segar dan menarik. Ada tawaran dengan konsep baru dan unik. Semua akan senang dan memburu hasil karya itu. Karya yang berkualitas tidak mustahil akan dapat membentuk target marketnya sendiri. Saat ini anak muda semakin berani tampil menyuguhkan karya-karyanya. Banyak telah lahir komunitas-komunitas kreatif yang mampu menginspirasi. Mereka tidak saja eksis di media sosial, tetapi mampu menggelar pameran karya.

Sebut saja Komunitas Kerdus. Komunitas Kerdus yang diprakarsai oleh Arei Triono, Ata Sipayung, Ana Kasmira itu mampu menampilkan konsep unik dalam karyanya. Awalnya nama Kerdus  dipilih karena berasal dari Kardus. “Kardus adalah wadah yang cocok utuk membawa apapun termasuk produk buruan dan karya kami,” terang Arie. Mereka memiliki konsep unik di bidang kerajinan tangan. Uniknya, kerajinan tangan dibuat dari bahan bekas atau bahan yang dapat diolah kembali. Di tangan mereka, sebuah kayu sisa bangunan mampu disulap menjadi barang yang lebih berguna dan berkualitas tinggi, seperti flashdisk case, kalung, gelang, dll. Tidak jarang target market mereka adalah orang asing yang gemar mengoleksi atau menggunakan barang hasil kerjainan tangan lokal.

Kerdus tidak saja terampil dalam membuat karya, tetapi mereka mampu menampilkan karya. Bagi mereka, karya-karya seniman lokal tidak kalah bagus dengan seniman luar negeri. ”Ide kami berawal, karena kami ingin membuat acara kerajinan tangan lokal, asli dari seniman lokal Indonesia,” tutur Arie Triono. Dengan pikiran itu, Kerdus berhasil menyelenggrakan Pasar-pasaran pada tahun 2013.

Pasar-pasaran pertamakali diadakan di Café Topi, Ubud. “Kebetulan waktu itu, kita sering ke Café Topi, jadi kami mengadakan pameran perdana di sana. Kebetulan pemilik café, Naomi yang berasal dari Jepang banyak memiliki kawan-kawan Jepang yang sangat suka bahan kerajinan. Jadi itu momen yang bagus untuk kami mengadakan pameran perdana,” jelas Ata Sipayung.

Nama pameran pun tedengar unik, nama unik itu diakui mereka muncul spontanitas. “Kami awalnya bingung untuk memberi nama. Setelah kami pikir-pikir kami memutuskan nama Pasar-Pasaran. Nama itu kami ambil karena kami ingat saat anak-anak. Kami sering main  dagang-dagangan, rumah-rumahan ya seperti itu. Maka kami berpikir, mengapa tidak beri nama Pasar-Pasaran saja ya?” jelas Arie.

Pasar-Pasaran merupakan pameran kerajinan tangan produk seni yang diadakan di Bali. Konsep yang ditawarkan oleh Pasar-Pasaran yakni pameran berbasis kekeluargaan, santai, dan apresiatif. Pengunjung diharapkan santai dan menikmati suasana kekeluargaan dengan mengapresiasi kerajinan tangan dari seniman lokal. Acara sederhana dan bermakna ini hanya diadakan dua kali dalam setahun.

Tidak saja menyuguhkan suasana baru dalam industri kreatif, mereka juga mempunyai visi yakni menyuarakan kepedulian sosial dan mengajak calon partisipan muda untuk produktif dengan tema unik, memberi wadah untuk memamerkan karya mereka dengan jaringan seluas-luasnya baik di dalam negeri maupun luar negeri. “Selain itu kami juga mimiliki visi sosial yakni keuntungan dari pameran untuk membantu sesama. Kemarin kami sempat membantu masalah Hutan Kalimantan melalui  Yayasan Hutan Kalimantan,” tukas Ata.

Pasar-Pasaran pada penyelenggaraan pertamanya sudah mampu membawa produk-produk seniman muda lokal untuk dibawa ke ranah publik. Contoh brand yakni Jimat, Etalase, dll. Tujuan utama Pasar-Pasaran yakni untuk memasarkan kerajinan tangan. Mengangkat produk lokal asli Indonesia di ranah lokal, nasional, maupun internasional.

Kini, Kerdus bersama Made Agus Rudiartha mengelola Pasar-Pasaran yang semula hanya pameran kini dapat ditemui di toko. Toko yang diresmikan pada 7 Agustus 2016 itu,  beralamat di Uma Seminyak, Jalan Kayu Cendana No. 1 Seminyak. Pada saat peresmian itu juga digelar pameran ke-8 Pasar-Pasaran. “Kami saat ini fokus pada toko dan membawa Pasar-Pasaran ke ranah yang lebih luas. Pelan tapi pasti. Harapan saya semoga makin banyak anak muda Bali dan muda Indonesia menyukai kerajinan tangan produk lokal. Tidak saja itu, kami pun berharap semoga banyak seniman lokal yang mampu menghasilkan ide kreatif dan menarik untuk mengangkat citra produk lokal Indonesia,” jelas Arie. –Wulan

To Top