Sehat

Olahraga Anak Berkebutuhan Khusus

Berolahraga adalah hal yang sangat penting bagi setiap orang,   tak terkecuali mereka yang berkebutuhan khusus atau autis.  Autisme atau Aautism spectrum disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku.

Ada yang menarik di Taman Kota Denpasar, tiap dua minggu sekali di  hari Jumat. Anak-anak berkebutuhan khusus dari homeschooling Yayasan Peduli Austisme  Bali melakukan olahraga bersama.

Tepat pukul 07.00, beberapa anak sudah terlihat datang. Mereka memulainya dengan pemanasan yakni jalan atau lari bersama,. Ada yang bersama teman-temannya, dan guru pembimbing, Namun, ada juga yang bersama orangtuanya berjalan santai.

Setelah melakukan pemanasan jalan santai sekali putaran Taman Kota, anak-anak membentuk lingkaran. Mereka saling  bergandeng tangan dan memulai peregangan. “Memang tak mudah mengarahkan mereka. Perlu kesabaran dan cara yang tepat. Kita hanya perlu menggunakan bahasa sederhana dalam menyampaikan intruksi,” ujar Ibu Ina, pengelola Yayasan Peduli Autisme Bali ini.

Menurut Ina, intruksi  untuk anak autis beda dengan anak pada umumnya.  “Bahasa yang kami gunakan sangat sederhana tidak terlalu panjang, singkat, tapi mereka mengerti. Tapi ada juga yang tidak bisa bicara, jadi mereka mengerti dengan melihat intruksi,” katanya menambahkan.

Namun, pada dasarnya, para guru  tetap  mengusahakan menggunakan gerakan mulut, karena ke depannya mereka  berharap, anak-anak berkebutuhan khusus tersebut bisa bicara. Biasanya, kata dia, jika anak tidak mengerti sama sekali, bahasa tulisan bisa membantu.

Gerakan dimulai  dari mengangkat tangan ke atas, ke samping kanan dan kiri, Kemudian dilanjutkan dengan menunduk sembari merentangkan tangan ke depan.  Gerakan dilanjutkan kemudian  dengan pelemasan tangan dan kaki. “Gerakan  yang dilakukan sangat sederhana ini, intinya, gerakan  yang bisa melatih motorik dan sesuai dengan kemampuan mereka dan bermanfaat  bagi tumbuh kembangnya,” katanya.

Menurut Bu Ina, selain senam ringan, anak-anak juga dilatih menangkap dan menendang bola. Ia menambahkan, acara olahraga di Taman Kota, Lumintang, hanya  dilakukan dua minggu sekali. Sementara, tiap Jumat, anak-anak  melakukan yoga di sekolah.

Untuk gerakan  yoga, kata Bu Ina, juga sangat sederhana. Tujuannya, agar mereka menjadi lebih tenang, karena berkebutuhan khusus itu lebih ke prilaku, agar mereka tidak hiperaktif.

Bu Ina menyebutkan, olahraga merupakan variasi pembelajaran, yang berkaitan dengan perkembangan mereka. Jika mereka senang otomatis mereka mau belajar,” ucapnya.

Awalnya, saat yoga,  guru yang memberi contoh, lama-kelamaan, anak yang dianggap sudah bisa mengikuti intruksi, bisa menjadi instruktur di depan yang lainnya.  Untuk  merangsang perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus, mereka  juga diajarkan modern dance dan menari Bali.

Memang ia mengakui, cara mengajar anak-anak berkebutuhan khusus berbeda, ada tahapannya, dan melihat kemampuan si anak bagaimana. “Olahraga untuk anak berkebutuhan khusus ini sangatlah penting, karena selain bisa meluapkan emosinya dan membuatnya sehat, juga bisa membuatnya untuk lebih memahami dunia luar sehingga ketika dia dewasa bisa tumbuh seperti layaknya orang normal,” kata bu Ina.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, diperkirakan ada sekitar 2,4 juta orang penyandang autisme di Indonesia pada tahun 2010. Jumlah penduduk Indonesia pada saat itu mencapai 237,5 juta jiwa, berarti ada sekitar satu penyandang autisme pada setiap 100 bayi yang lahir.

Bagi anak yang menyandang autis disarankan,  lebih baik pilih olahraga individual yang gerakan-gerakannya mudah ditiru. Jika sudah lebih mantap dan terbiasa, anak berkebutuhan khusus juga dapat berpartisipasi dalam tim olahraga yang berdasarkan pada performance individual.
–Wirati Astiti

To Top