Sudut Pandang

Bersama dalam Keberagaman

Momentum hari raya umumnya menjadi ajang silaturahmi bagi  masyarakat Indonesia. Kegiatan saling mengunjungi ini merupakan momen untuk mempererat tali persaudaraan. Hal ini dibenarkan Cok Istri Anom Pemayun, S.H., M.H. Bahkan, dosen Fakultas Hukum Unud ini sangat menikmati suasana “indahnya bersama dalam keberagaman”.

Ia menuturkan, dulu semasih ibu mertuanya hidup, ia bersama suami Cokorda Ngurah Pemayun (mantan Sekda Provinsi Bali) beserta putri-putrinya tak pernah melewatkan tradisi “mudik Lebaran” dan “Natalan” seperti halnya kaum Muslim dan Nasrani. Maklum, di keluarga besar almarhumah ibu mertuanya itu menganut keyakinan yang beragam. Ada Muslim, Nasrani, dan Budha. “Almarhumah ibu mertua saya dari Malang dengan keluarga  beragam agama. Jadi saat Lebaran atau Natal kami pasti mudik ke Malang,” ucapnya.

CIA Pemayun, demikian perempuan 60 tahun ini biasa disapa mengisahkan, mereka sengaja berangkat dari Bali bertepatan dengan hari raya, sehingga jalanan tak terlalu macet. “Kami biasanya naik mobil sendiri. Capek memang, tapi kami sangat menikmati perjalanan sembari singgah makan dan bawa bekal di Situbondo, kadang di Pasir Putih sambil meregangkan otot-otot,” tuturnya.

Saat Lebaran, hari pertama di Malang kegiatan yang mereka lakukan adalah nyekar pada keluarga yang sudah mendahului, baru kemudian berkeliling ke sanak keluarga disana. Makanan khas Lebaran yakni lontong cap gomeh menjadi makanan favorit CIA Pemayun, juga dodolnya. “Saya suka sekali makanan tradisi ini, dan kami dari Bali juga membawakan makanan khas Bali, ayam betutu,” ucapnya.

 

TRADISI SUNGKEMAN

Dalam momen silaturahmi tersebut, ada satu tradisi orang Jawa yang sangat ia kagumi yakni sungkeman, yang juga ia lakukan kepada ibu mertua dan ibu kandungnya. Menurutnya, tradisi yang tidak ada di Bali ini sangat bagus, sehingga ia terapkan juga dalam kehidupannya dan keluarga.

Ia menuturkan, sang suami yang masih kental menganut warisan tradisi sungkeman dari ibunya itu, tak hanya sujud di kaki ibu, meminta maaf, meminta restu, namun  sampai membasuh kaki ibu dan air basuhan kaki tersebut dipakai keramas. “Biasanya suami melakukan saat otonan yang dibuatkan banten kecil di kampung. Astungkara saya merasa semua jalan suami saya dipermudah,” ungkapnya.

Tradisi sungkeman ini pun juga dilakoni CIA Pemayun. Tak hanya menunggu momen-momen tertentu. “Misalkan ketika saya suntuk, bingung, apalagi saat harus menyelesaikan tugas-tugas, saya langsung pulang kampung sungkem kepada Ibu, meminta maaf dan meminta doa tulusnya agar memudahkan jalan saya. Biasanya setelah sungkeman, perasaan menjadi lebih tenang,” ungkapnya.

Kini ibu kandung dan ibu mertuanya sudah berpulang. Tradisi sungkeman ini pun masih terus dilanjutkan dan diturunkannya pada putri-putrinya.

“Alangkah baiknya juga jika tradisi sungkeman ini dipakai di Bali. Kalau memang tradisi daerah lain baik, menurut saya tak ada salahnya kita mengikutinya,” ucap  CIA Pemayun.

Lebih jauh ia mengatakan tak sepaham dengan pelaksanaan prosesi upacara ngaben yang jor-joran sebagai bentuk penghormatan tertinggi terakhir kepada orangtua. “Menurut saya, ketika orangtua masih hiduplah kita berikan wujud bakti kasih sayang yang tulus, memberikan perhatian yang lebih, pada orangtua, tidak saat mereka sudah meninggal karena itu sudah tidak ada artinya,” sentilnya. (Inten Indrawati)

Paling Populer

To Top