Kolom

Suami Susah Ereksi, Istri Kecewa

Tanya:
“Dok, langsung saja ya, saya mau bilang sebuah keluhan, yaitu suami saya belakangan ini kelaminnya susah mengalami ereksi, walaupun sudah mendapat rangsangan yang lama dari saya. Ini membuat saya kecewa, Dok.  Bagaimana memastikannya ini beneran gagal ereksi dan bagaimana solusinya, Dok? (Susi, 32)

Jawab:
Disfungsi ereksi adalah kondisi saat laki-laki tidak dapat mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang optimal untuk mencapai kepuasan seksual dalam hubungan seksual. Ini paling tidak sudah berlangsung tiga bulan. Sebelum memastikan penyebabnya,  yang juga perlu dicaritahu adalah seberapa berat kemungkinan derajat disfungsi ereksinya. Ada sebuah cara sederhana mengukur kekerasan ereksi penis yang disebut tes Erection Hardness Score (EHS). EHS ini mengelompokkan kekerasan ereksi dalam empat skala. Coba disimak keempat skala tersebut sekalian membandingkan dengan kondisi ereksi yang terjadi:

Skala 1 : Saat ereksi, penis membesar namun tidak mengeras, kalau diraba atau dipencet terasa lembek, bisa dianalogikan serupa lembeknya tape singkong. Disfungsi ereksi dalam skala ini termasuk disfungsi ereksi derajat berat.

Skala 2 : Penis terasa keras namun tidak cukup keras untuk penetrasi dalam hubungan seksual, kalau diraba atau dipencet terasa seperti pisang yang sudah dibuka kulit buahnya. Disfungsi Ereksi skala ini terbilang moderat, penis membesar namun tidak cukup keras.

Skala 3 : Penis cukup keras untuk penetrasi namun benar-benar keras, teraba seperti sosis. Walaupun masih bisa melakukan hubungan seks, ereksi yang dirasakan tetap tidak optimal. Seringkali disfungsi ereksi di skala ringan ini tidak disadari laki-laki.

Skala 4 : Saat ereksi, penis keras seluruhnya dan tegang sepenuhnya, seperti buah ketimun. Ereksi terasa optimal dan saat penetrasi akan terasa maksimal sehingga hubungan seksual terasa memuaskan.

Laki-laki dengan EHS skala 4 tentu saja dapat lebih menikmati hubungan seksual dan lebih merasa puas. Pasangan seksual pun merasakan kepuasan saat berhubungan seksual. Selanjutnya memiliki dampak kualitas hidup lebih baik dan lebih memiliki pola pikir positif dalam hidupnya. Juga merasakan lebih optimis dengan hubungannya bersama pasangan, memiliki kestabilan dan keimbangan hidup serta memiliki keyakinan untuk maju dan berhasil dalam hidup. Yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa tidak hanya laki-laki yang menginginkan ereksi lebih optimal. Perempuan pasangannya juga ingin meningkatkan kepuasan seksual, dengan ereksi suami yang lebih optimal.

Perlu sekali memperhatikan apa saja penyebab gangguan seksual yang memungkinkan menjadi penyebab atau pemicunya. Mulai dari problem psikis seperti: 1) Stres, bisa karena pekerjaan, kemacetan lalu lintas atau problem lain. Bila ternyata  pasangan sendiri juga ikut menambah ketegangan, ini akan memperburuk komunikasi seksual. 2) Tidak percaya diri, misalnya pasangan lebih kaya, berpenghasilan lebih besar, atau selalu memandang rendah si laki-laki. Atau justru karena pernyataan-pernyataan yang merendahkan seperti mempermasalahkan ukuran penis yang kecil dan sebagainya. 3) Perselingkuhan, yang mungkin terjadi atau sekedar perkiraan saja akan mempengaruhi komunikasi dan hubungan seksual di antara kedua pasangan. Sedangkan beberapa penyebab fisik yang dapat mengakibatkan disfungsi seksual dan ikut berkontribusi membuat ereksi tidak optimal antara lain : 1) Kelelahan, yang bisa menyebabkan aliran darah terganggu, 2) Penyakit, misalnya kencing manis dan kolesterol tinggi, 3) Merokok, di mana nikotin yang terserap oleh darah akan dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah, penyumbatan pembuluh darah, termasuk penyumbatan pembuluh darah dalam penis. Juga obatan-obatan tertentu seperti obat tekanan darah tinggi golongan tertentu, juga obat penenang tertentu, yang jika dikonsumsi cukup lama dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Demikian pula kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol dan makanan yang mengandung kolesterol tinggi dapat menyumbat pembuluh darah.

Jika sudah mulai mengalami gangguan ereksi, prinsip utamanya sebenarnya adalah semakin awal dikonsultasikan dan dicari penyebabnya maka akan menjadi semakin lebih cepat sembuh. Jangan mencoba menggunakan obat yang tidak jelas atau malah praktik-praktik berbahaya seperti menyuntikkan penis dengan bahan-bahan tertentu misalnya. Biasanya jika yang terjadi hanyalah disfungsi ereksi, tanpa komplikasi yang lain, saat ini sudah dapat dibantu dengan penggunaan obat pembantu ereksi golongan PDE5 Inhibitor yang diminum sebelum berhubungan seksual atau ada juga yang diminum setiap hari dalam dosis lebih kecil. Tapi jika ini juga belum bisa dibantu, ada cara lainnya mulai dari injeksi, pompa hingga tindakan pembedahan. Tentu saja dipastikan lagi nanti jika ada masalah psikis, perlu dibantu dengan memulihkan masalah psikisnya dulu. Polahidup yang lebihsehat, termasuk mengonsumsi makanan yang sehat, cukup olahraga, cukup istirahat dan menghindari stres juga harus dilakukan.

Berhati-hati mengonsumsi obat sembarangan dengan dosis tidak terukur, misalnya mengonsumsi obat yang banyak dikenal dengan “obat kuat” di masyarakat, yang tidak jelas kandungannya, termasuk jika disebutkan bila kandungannya adalah herbal atau jamu. Nah, satu lagi yang terpenting adalah apakah obat yang digunakan itu benar-benar punya efek, punya manfaat atau malah seringkali obat itu bukan obat asli, bahkan oplosan, dicampur dengan bahan kimia yang berbahaya. Sekali lagi, segeralah melakukan konsultasi yang benar. Untuk dipastikan gangguan fungsi seksual apa yang sebenarnya yang dialami, apa penyebabnya, apa obat yang sesuai dan bagaimana kemungkinan keberhasilan pengobatan. Sebaiknya memang tidak dibiarkan lebih lama lagi agar tidak menimbulkan akibat lebih buruk, termasuk buat pasangan.

Paling Populer

To Top