Kata Hati

Perempuan Lebih Intuitif

Romi Sudhita

Ada semacam ungkapan untuk menyebut dua sosok anak manusia yaitu “laki-perempuan sama saja.” Ungkapan ini sering dilontarkan oleh pegiat Gerakan Pemuda untuk Pertambahan Penduduk Nol (Zero Population Growth/ZPG) dengan misinya dua anak cukup, baik laki-laki maupun perempuan sama saja.

Sepintas memang bisa saja demikian tapi dalam kenyataannya dua sosok tersebut secara kodrati memang berbeda, seperti misalnya yang laki lebih “garang” dan yang perempuan lebih “lembut.” Secara kebatinan, yang laki umumnya lebih rasional (lebih mengandalkan pikiran) sedangkan yang perempuan lebih emosional dan bisa juga dikatakan lebih intuitif dengan mengutamakan bisikan hati ketimbang akal sehat. Disebabkan mereka itu (kaum perempuan) yang lebih intuitif, sampai-sampai seorang pakar pendidikan Imam Barnadib, M.A, Ph.D. (1975), berani “memvonis” bahwa penemu pertanian, yang dimulai dari skala kecil, adalah kaum hawa alias perempuan. Seperti apa ceritanya, mari kita ikuti berikut ini.

 

Fase Kehidupan

Cerita dimulai dari pembeberan bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia secara evolutif meliputi lima fase yaitu; (1) Hidup berburu dan mencari ikan, (2) Hidup atas dasar peternakan, (3) Hidup atas dasar pertanian, (4) Hidup atas dasar kerajinan, dan (5) Hidup pada fase industrialisasi.

Hidup manusia pada tingkatan pertama pada umumnya berlangsung dalam gua-gua. Berburu dan menangkap ikan adalah mata pencaharian pokok mereka. Cara hidup seperti itu tergolong sangat terkebelakang dan berada pada fase pra-historis. Alam pikiran mereka pun lalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat itu. Persembahan mereka berupa sesaji tertuju pada lingkungan beserta segala isinya seperti; pohon besar, lautan, petir, guntur, angi ribut, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan pendidikan mereka ? Situasi pendidikan pada zaman itu bersifat mekanis alias menurut garis kebiasaan tiada perubahan dan kurang memberikan dorongan bagi perkembangan akal dan kecerdasan.

Tingkatan atau fase hidup yang kedua sudah terlihat adanya kemajuan di mana manusia sudah makin cerdas dan dilihat dari segi cara mempertahankan hidup sudah tampak adanya pergeseran dari berburu dan menangkap ikan lalu beralih ke sektor peternakan. Binatang hasil buruan mereka (para suami), kemudian dipelihara dan tanpa disadari mereka sudah memasuki era peternakan. Ibu-ibu yang mayoritas tinggal di rumah banyak mengambil peran sebagai peternak meski masih dalam taraf amatiran. Manusia tidak lagi menyembah alam sekitar yang bersifat fisis, melainkan sudah beralih menyembah kepada binatang-binatang seperti buaya, sapi, kerbau, rusa, gajah, dan lain-lain.

 

Daya Intuitif

Secara tegas Imam Barnadib menyatakan wanitalah yang pertama kali menemukan pertanian, sejalan dengan perkembangan fase hidup manusia yang ketiga itu adalah fase bercocok tanam (pertanian). Kemampuan di bidang yang satu ini (pertanian) belum pernah terbayangkan pada fase pertama (berburu dan menangkap ikan) maupun pada fase kedua di bidang peternakan. Konon, wanita atau ibu-ibu yang kurang mendapat kesempatan ke luar rumah ikut berburu dan menangkap ikan dengan sang suami, dengan setia melakukan “uji coba” di rumahnya masing-masing. Apanya yang diujicobakan ? Yang diujicobakan tidak lain adalah sisa-sisa makanan hasil buruan sang suami, seperti misalnya biji-bijian dari suatu buah tertentu.

Setelah melalui proses dicoba-gagal, dicoba-gagal (trial and error), akhirnya sang ibu menemukan suatu kepuasan bahwa biji yang ditanam itu tumbuh menjadi pohon kecil lanjut makin meninggi lalu menjadi pohon besar yang siap berbunga dan berbuah. Lalu ? Ya… apa lagi kalau bukan bersiap-siap memetik buah tersebut. Dengan demikian —-percaya atau tidak—- bahwa wanita atau perempuan atau ibu-ibulah yang dikatakan sebagai penemu pertanian. Sesuai dengan uraian sebelumnya di mana wanita atau perempuan dikatakan memiliki daya intuitif yang luar biasa, boleh jadi kemampuan “bertani”mereka diilhami oleh daya intuitif tersebut. Kemampuan seperti ini jarang dimiliki oleh kaum laki-laki.

 

                                                                                                Romi Sudhita

                                                                                                Pemerhati Pendidikan

Paling Populer

To Top