Bunda & Ananda

Satu Sakit, yang Lain Ikut Sakit

Memiliki momongan tentu menjadi harapan setiap pasangan suami istri. Demikian halnya pasutri I Gusti Agung Bagus Arimbawa , S.T., M.T. dan Kadek Kompyang Widyastuti, S.T., M.T. Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya penantian panjang mereka membuahkan hasil yang manis.

Setelah 7 tahun usia pernihakan, akhirnya Kompyang (40) positif hamil. “Pas tahu positif saja saya sudah senang, apalagi isi 3. Waktu itu saya langsung nangis mendengar hasil yang disampaikan pihak RS. Makanya saya langsung bela-belain bedrest dari awal  hingga akhir program,” ungkap Kompyang (40) yang mengikuti program bayi tabung.

Dikaruniai anak kembar tiga (triplets) di pengujung tahun 2013 menjadi anugerah yang luar biasa bagi pasutri Kompyang-Arimbawa. “Dibilang repot, iya, tapi lebih repot lagi kalau tidak punya anak,” ucap Kompyang tersenyum. Jika ditanya tentang suka dukanya, ia menyebut lebih banyak sukanya. Seru, apalagi ketika mengajak jalan ketiga bayinya ini selalu mencuri perhatian orang. “Sukanya lagi kalau ada promo beli baju 2 gratis 1, ..hahahaha pas,” candanya.

Kompyang tak menampik sempat kewalahan mengurusi bayi triplets-nya ini. Ia mengaku tak bisa menghandel sendiri Gung Rama, Gung Juna, Gek Sita yang kala itu masih bayi. “Waktu itu belum punya asisten rumah tangga, hanya mertua dan saudara yang bantu. Dan mereka pun juga sedikit stres karena tidak bisa kemana-mana,” tuturnya.

Selain itu, Kompyang yang dianjurkan harus makan banyak karena menyusui, kehabisan waktu. Terkadang, sambil menyanyikan bayi sembari netekin sekaligus disambilin makannya. Seiring berjalannya waktu, triplets semakin besar ternyata tak membuat semuanya makin mudah. “Makin besar semakin repot juga ternyata karena selalu membuatemosi emaknya..hahaha. Tapi saya dan suami menikmati saja,” paparnya.

Anak kembar memang unik. Banyak orang bilang jika satu anak sakit, kembarannya pasti akan menyusul sakit. “Jangankan kembar, kakak adik serumah pun kalau satu sakit, yang lain pasti tertular. Ini pun terjadi pada triplets walaupun tidurnya dipisahin tetap juga kena,” ucap Kompyang.

Ia mengisahkan dulu saat mereka berusia 2,5 tahun, Gung Juna (anak nomor 2) tiba-tiba kena demam berdarah dan harus opname di RS. Setelah diperbolehkan pulang, Gung Rama (anak nomor 1) kena dan masuk RS, dan disusul besoknya sama Gek Sita (anak nomor 3).

Untuk mengantisipasi supaya mereka tidak tertular dikatakan Kompyang susah karena mereka sekamar, mainnya bareng, makannya bareng. “Kalau pas satu anak sakit, pernah saya coba pisahkan tidurnya, mereka tidak mau,” imbuhnya.

Ia juga merasa sudah higienis memperlakukan mereka, mulai dari alat-alat makan yang sudah khusus, juga perlengkapan lainnya yang beda dengan orang dewasa. Tetapi, ia mengaku tidak bisa mengontrol gerak-gerik “si triplets” tiap detik, kadang main tanah, tangan kotor masuk mulut, atau minum langsung dari gelas orang dewasa yang mungkin lagi batuk pilek. “Paling dibantu vitamin saja, dan balik lagi kalau si anak diberikan penambah daya tahan tubuh ketika orang di sekitarnya sakit, tetap kena juga,” terangnya.

Untuk urusan berpakaian, anak kembar identik memakai pakaian yang sama pula. Terkait hal ini, Kompyang mengungkapkan, awalnya dari kado-kado yang dikasi kebanyakan sama. Selanjutnya, ia jadi ikut membeli baju-baju yang sama. “Ketika mereka sudah mengerti, kadang protes juga minta baju yang sama. Sekarang mereka punya tokoh kartun masing-masing, jadi sekarang ini sudah sebagian baju mereka berbeda. Intinya kalau dibeliin satu, yang lain pasti minta dibeliin juga. Apalagi kalau ke toko mainan, semua harus dibeliin, mereka tidak mau sharing,” kisahnya.

TEAM WORK URUS ANAK

Triplets yang kini sudah berusia 4,6 tahun dan sudah masuk Playgroup, dijelaskan Kompyang sama dengan anak-anak kebanyakan. Mereka kembar tapi tidak mirip satu dengan yang lain. Sifat mereka pun berbeda-beda. Untuk menghandel si kembar triplets ditambah satu lagi anak bontotnya, Gung Bram yang tahun ini berusia 3 tahun, Kompyang dibantu seorang ART dan dalam pengawasan kakek-nenek mereka.

Di usia mereka itu, suka berantem rebutan mainan atau makanan, menjadi hal yang biasa. Juga, nafsu makan mereka yang kurang. Untuk hal ini, tak jarang Kompyang dan suami berinisiatif mengajak mereka makan di depan rumah sambil menggelar tikar mencari suasana baru, mengajak ke pantai, atau ke lapangan. “Intinya saya tidak bisa menghandel sendiri, saya dan suami adalah team work dalam mengurus anak-anak,” pungkasnya. (Inten Indrawati).

Paling Populer

To Top