Pelesir

Bekantan Hewan Pemalu Khas Kalimantan

Indonesia dijuluki negara seribu pulau dengan berbagai keragaman budaya, suku, dan agama. Bahkan, Negara ini juga kaya akan keberadaan berbagai jenis spesies fauna langka. Salah satunya monyet Bekantan yang merupakan hewan endemik khas Kalimantan.

Keberadaannya yang mulai langka, membuat pemerintah setempat berupaya untuk melindungi dan melestarikan hewan pemalu tersebut. Di kota Tarakan, Kalimantan Utara, terdapat Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB), yang merupakan bentuk upaya pelestarian Bekantan yang dilakukan Pemerintah. Awalnya, luasannya hanya tiga hektar, kini bertambah menjadi 22 hektar dengan jumlah bekantan sekitar 42 individu. Pengelolaan KKMB ini berada di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Tarakan.

Menurut Koordinator pengelola KKMB Syamsul Harris, bekantan merupakan hewan khas endemik Kalimantan yang keberadaannya saat ini mulai terancam punah. Ini dikarenakan masa reproduksi bekantan betina cukup lama yakni dua tahun dari masa melahirkan. “Masa reproduksinya 2 tahun, meskipun setelah melahirkan bekantan betina kawin  akan tetapi tidak akan bisa hamil. Selain itu, bekantan juga menyusui bayinya sampai umur dua tahun,” ungkapnya.

Kelangkaan hewan dengan ciri fisik hidung besar dengan rambut cokelat kemerahan ini juga terjadi akibat pembangunan yang cukup pesat di Kota Tarakan. Pembangunan pesat di Kota Tarakan membuat habitat bekantan terganggu, sehingga tidak jarang warga menemukan bekantan berkeliaran di perkampungan. “Bekantan merupakan hewan pemalu, sehingga saat di pemukiman penduduk mudah ditangkap. Warga yang sadar akan keberlangsungan hidup satwa dilindungi ini biasanya akan menyerahkan kepada kami. Sebelum dilepas bersama kawanan yang sudah hidup alami di KKMB, akan dikarantina dahulu agar menyesuaian dengan lingkungannya yang baru,” terangnya. Menurut Syamsul, larinya bekantan ke pemukiman dikarenakan tempat hidupnya di mangrove mulai dibuka untuk tambak dan alihfungsi lainnya. Akibatnya, ketersediaan makanan yang minim membuat monyet Belanda ini mendatangi permukiman penduduk.

Sejak tahun 2001, KKMB mulai dirintis dan diresmikan pada tahun 2003 lalu. Awal dirintis, hanya 6 ekor bekantan yang dikonservasi dan dikembangbiakkan hingga saat ini sudah ada 42 ekor. Memelihara bekantan, menurut Syamsul bukanlah hal yang sulit karena bekantan merupakan hewan mandiri yang untuk menjaga kelangsungan hidupnya hanya  memakan pucuk daun mangrove. Akan tetapi untuk memudahkan pengawasan dan pengecekan pihaknya memberikan makanan tambahan berupa pisang. “Makanan utamanya itu daun bakau tetapi kami coba kenalkan dengan pisang, itu juga perlu waktu agar mereka bisa menyesuaikan,” jelasnya.

Ke depan, pihaknya berharap kawasan konservasi dapat dikembangkan demi kelestarian spesies khas Kalimantan tersebut. Saat ini KKMB yang luasnya hanya 22 hektar tentu akan menyempit jika bekantan terus bertambah jumlahnya sehingga mereka memerlukan ruang bermain yang lebih luas, sementara saat ini KKMB sudah dikelilingi permukiman. “Kawasan hutan ini sudah dikelilingi permukiman sehingga tidak ada perluasan lagi, sedangkan bekantan hidupnya berkelompok,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

Paling Populer

To Top