Pelesir

Fort Rotterdam Mengenang Pengasingan Pangeran Diponegoro

Suasana siang yang terik tak menyurutkan niat puluhan siswa SMA 11 Pangkep,  Sulawesi Selatan untuk berkunjung ke Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang.

Salah satu lokasi yang menarik perhatian mereka adalah tempat pengasingan Pangeran Diponegoro. “Pangeran Diponegoro berasal dari Yogyakarta. Beliau diasingkan Belanda selama 25 tahun. Ruangan ini merupakan tempat peristirahatan beliau sambil menulis buku,” jelas Jamal, pemandu yang mendampingi para siswa itu.

Ia juga menuturkan, pintu masuk kamar itu memang dibuat rendah. Tujuannya, siapapun yang masuk harus menunduk sebagai tanda tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selama di pengasingan, Pangeran Diponegoro selalu berbicara membelakangi orang Belanda sebagai bentuk perlawanannya.

“Kami jadi tahu sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro. Dulu hanya tahu cerita dari buku. Sekarang tahu tempat peristirahatan beliau,” ujar Faizal, salah seorang siswa yang ikut masuk ke ruangan bersejarah itu.

Fort Rotterdam adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang  berada di pinggir pantai sisi Barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Dari referensi yang ada, benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Benteng ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan.

Ini menunjukkan filosofi Kerajaan Gowa seperti penyu yang dapat hidup di darat maupun di laut. Kerajaan Gowa pun berjaya di daratan maupun di lautan.

Ketika Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Benteng ini digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian Timur.

 

KAPAL PINISI

Dalam kompleks Fort Rotterdam terdapat Museum La Galigo yang menyimpan referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan.

Salah satu bukti adalah keberadaaan kapal pinisi. Kapal layar tradisional khas asal Indonesia ini dibuat di Sulawesi Selatan.

Pinisi sebenarnya merupakan nama layar. Kapal ini umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, dan dua di belakang; umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antarpulau. (Ngurah Budi)

Paling Populer

To Top