Dara

Hindari Menggebu di Awal lalu Sing Ada Apa

Gede Suardana

Generasi muda memiliki peran penting dalam perhelatan politik seperti pemilu dan pemilihan kepala daerah. Karena itu “suara” generasi muda harus diperhatikan. Demikian antara lain yang terungkap dalam diskusi “Kepemimpinan Bali” yang diikuti pengurus BEM Universitas se- Bali di Sanur, Selasa (8/5).

Ketua KPUD Kabupaten Buleleng Gede Suardana, S.Pd.,M.Si., mengatakan perhelatan pemilihan, baik pilkada maupun pemilu secara umum memerlukan tenaga dan biaya yang sangat besar. Karena itu, peran aktif generasi muda, khususnya pemilih pemula harus berkontribusi optimal di dalam menyukseskan pemilihan pemimpin. Sehingga, pemimpin yang dihasilkan berkualitas dan sesuai dengan harapan rakyat dan bangsa.

“Peran aktif yang dimaksud adalah pemilih pemula yang harus ikut berpartisipasi di dalam pemilu. Tida hanya menjadi pemilih, tetapi juga ikut terlibat di dalam penyelenggaraan pemilihan. Seperti, ikut menjadi relawan demokrasi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) di daerah dan juga ikut aktif menjadi penyelenggara pemilihan di TPS ataupun di PPS daerah setempat. Tujuannya adalah untuk menghasilkan kualitas pemungutan suara yang berkualitas, akurat, dan akuntabel,” ujar Suardana.

Ia menegaskan anak muda sekarang lebih melek dan paham akan teknologi informasi (TI). Suardana mencontohkan di Buleleng sengaja merekrut relawan dari anak muda, bahkan dari pemilih pemula. Anak muda itu lebih mengerti berkomunikasi dengan pemuda lainnya dengan gaya bahasa mereka.

“Kami hanya menyampaikan materi kepada relawan muda tersebut, dan selanjutnya mereka yang mensosialisasikannya ke masyarakat, khususnya kepada pemuda lainnya untuk ikut memilih pemimpin. Sehingga, cara ini dapat meningkatkan peran serta pemilih pemula,” tegas mantan wartawan ini.

Komang Arik Partayanti dari BEM UNHI mengakui generasi muda punya hak yang sama untuk jadi penyelenggara pemilu namun belum banyak yang tahu. “Saran saya, sosialisasikan ke masyarakat, misalnya STT. Biar generasi muda jadi tahu dan bisa terlibat sebagai penyelenggara pemilu,” ujarnya.
Kepada calon pemimpin Bali, perempuan asal Singaraja ini berpesan harus menghindari menggebu di awal. Setelah terpilih sing ada apa. Siapa pun jadi pemimpin memberi contoh dan mengarahkan masyarakat agar lebih baik lagi. Jangan hanya duduk diam. Pemimpin harus terjun langsung untuk mengarahkan dan mencontohkan.
AYOMI SEMUA KABUPATEN/KOTA

Perwakilan BEM Universitas Dwijendra menyoroti agar generasi muda pintar memilah berita yang ada di media sosial terkait suksesi kepemimpinan. Jangan sampai “yang di atas” bersalaman, “yang di bawah” malah ricuh. Pemimpin harus cerdas memajukan Bali. Ketimpangan sosial antara Bali Utara dan Bali Selatan harus dihilangkan.

Putu Bagus Asdianta dari KMHDI Bali menambahkan generasi muda perlu motivasi. “Pemuda harus menjadi mitra kritis pemerintah. Karena itu perlu ada arena dan pengakuan pemerintah. Untuk menjadi pemimpin harus perhatikan keseimbangan, jangan hanya ekonomi saja. Pemimpin itu punya integritas, punya moral dan etika yang baik,” tegasnya.

Pernyataan ini diperkuat Putu Ayu Partini dari BEM Unud yang mengatakan
Bali kompleks dan kaya seni, budaya, serta adat. “Bali punya power dalam pariwisata. Banyak yang ingin  berebut jadi pemimpin di Bali. Pemimpin harus ayomi semua kabupaten/kota. Jangan hanya satu daerah. Pemimpin harus maksimalkan semua potensi di Bali,” ujar Ayu.

Menyikapi apa yang disampaikan generasi muda, Gede Suardana menjelaskan
sosialiasi untuk penyelenggaraan pemilihan sudah sampai ke desa. Bagi pemilih juga diingatkan dalam menentukan pilihan dengan mencari referensi visi dan misi kandidat.
“Buka website di KPU, kunjungi akun resmi pasangan calon. Bila perlu ikut rapat umum paslon. Kalau mau bandingkan ya harus hadir di kampanye para paslon. Kompetisi ini cukup sampai pemilihan berakhir. Berkompetisilah secara fair dan sehat. Kalau ada gugatan, ikuti prosedur hukum,” jelasnya. (Ngurah Budi)

Paling Populer

To Top