Bunda & Ananda

Gali dan Kembangkan Bakat Anak dalam Lomba

Pelaksanaan Porsenijar Kota Denpasar tahun 2018 baru saja berlalu. Perlombaan berbagai cabang seni yang dipusatkan di Art Center, Denpasar, cukup menyedot perhatian banyak pihak. Terutamanya, para pembina, guru sekolah, orangtua atau pendamping, dan teman-teman sekolah para peserta lomba.

Di akhir perlombaan, nama-nama pemenang langsung diumumkan. Terkadang, tidak semua hasil penilaian dewan juri bisa diterima dengan lapang dada oleh para peserta, Pembina, para guru maupun orangtua peserta lomba. “Terus terang saya tidak puas dengan hasil penilaian dewan juri. Kenapa yang bacanya biasa-biasa saja bisa menang. Kasihan anak yang benar-benar memiliki potensi, seakan-akan dipatahkan semangatnya. Jadinya anak tidak mau lagi ikut-ikut lomba,” ujar seorang Bapak kepada orangtua peserta lain yang putri-putri mereka belum berhasil menang.

Rasa ketidakpuasan terhadap penilaian juri diakui Ni Made Meni, S. Pd. memang kerap terjadi di setiap lomba. “Semua pasti menilai anak kita atau anak didik kitalah yang terbaik. Tetapi kita kan tidak tahu bagaimana penilaian juri dan selera juri. Meski demikian keputusan juri tetap harus kita hormati,” ujar Kepala SDN 3 Pemecutan ini.

Karena, khususnya di bidang seni, penilaiannya sangat abstrak, dan relatif, berbeda dengan cabang olahraga yang penilaiannya sudah sangat jelas. Beberapa cabang seni yang dilombakan untuk anak SD, di antaranya lomba melukis, nyurat basa Bali, baca puisi (bahasa Bali dan Indonesia), mesatua Bali, macepat, macecimpedan, meyanyi solo, dan tari kreasi baru.

Dari sekian cabang seni yang dilombakan, Made Meni yang selalu mendampingi anak-anak didiknya berlomba ini mengatakan hanya nyurat basa Bali dan melukis saja yang kriterianya jelas karena ada bukti fisik dan semua orang bisa melihatnya. “Seperti dalam mesatua Bali, ada peserta yang sampai jingkrak-jingjrak dibilang itu drama. Karena itu, saran saya, dalam teknikal meeting, semuanya harus benar-benar jelas dan terukur pasti, serta bisa dimengerti Pembina/guru sehingga bisa mengarahkan anak didiknya. Dan sekadar masukan, untuk juri,  cari juri dari luar Denpasar agar lebih independent,” ucapnya.

Terlepas dari itu semua, Made Meni mengatakan Porsenijar ini sangat bagus untuk menggali dan menumbuhkembangkan bakat anak. Ajang ini pun diharapkan bisa terus kontinyu dalam rangka membentuk bibit-bibit seniman dan olahragawan sejak dini. Ketika anak-anak berhasil berprestasi, ada kebanggaan dalam diri mereka, orangtua, serta sekolahnya, dan prestasi ini pun bisa dipakai untuk bekal mencari sekolah ke tingkat berikutnya.

Dalam sebuah perlombaan pasti ada kalah-menang, karena itu jiwa sportivitas harus benar-benar dimiliki tak hanya oleh peserta, namun oleh semua pendukungnya. Yang menang jangan berpuas diri. Yang belum memang tetap sudah menjadi pemenang di antara mereka yang belum berani tampil, hanya saja kali ini belum beruntung. Berarti harus lebih giat berlatih.

Dari semuanya itu, Made Meni mengajak semua pihak untuk melihat nilai positif sebuah ajang lomba untuk anak yakni bakat-bakat mereka bisa tersalurkan. Dan sebagai orangtua, harus merasa bangga bahwa kita sudah benar mengarahkan anak. Dari lomba ini pula, anak-anak akan mulai mencintai seni dan budayanya. Untuk sekolah, ajang lomba ini bisa menjadi jalan untuk membuat popular nama sekolahnya. “Dan, sekolah-sekolah yang belum berhasil pun akan termotivasi untuk bersaing positif dalam hal ini,” tandasnya. (Inten Indrawati)

Paling Populer

To Top