Kolom

Sirkumsisi, HIV, dan Kenikmatan Seksual

“Dok, aku bingung nih. Aku ingin menikah dalam waktu dekat ini. Temanku ada yang bilang kalau kelamin laki-laki yang sudah disunat akan bikin terhindar dari penularan penyakit kelamin, termasuk HIV. Tetapi temanku yang lain bilang kalau disunat akan mengurangi kenikmatan saat berhubungan seksual. Kelaminku sih baik-baik saja selama ini. Jadi, sebaiknya bagaimana, Dok?” (Erik, 29 thn)

Sirkumsisi atau sunat adalah tindakan memotong sebagian atau seluruh kulup yang menutupi kepala penis. Ada tiga alasan utama orang menjalani sirkumsisi: alasan kepercayaan, indikasi medis dan pencegahan penyakit. Sirkumsisi telah dilakukan sejak jaman prasejarah, dapat dibuktikan dari gambar-gambar di gua yang berasal dari jaman batu dan makam Mesir kuno. Diperkirakan bahwa di jaman itu sirkumsisi merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau tanda penyerahan pada yang disembah, tanda masuk tahapan menuju dewasa, tanda kekalahan atau perbudakan, atau upaya untuk menghambat fungsi seksual yang dianggap berlebihan. Sirkumsisi kemudian dan hingga saat ini diwajibkan dilakukan pada penganut agama Islam, Yahudi dan beberapa kepercayaan lokal di beberapa daerah tertentu.

Secara medis, sirkumsisi harus dilakukan pada kasus phimosis. Kondisi dimana kulup penis anak tidak bisa ditarik ke belakang, sehingga menutup ujung penis yang akhirnya membuat kesulitan untuk buang air kecil dan berisiko infeksi hingga kanker penis jika dibiarkan.

Sementara itu, belakangan ini meningkatnya jumlah kasus HIV dan AIDS di dunia, termasuk di Indonesia, lebih banyak dikarenakan dari hubungan seksual yang berisiko dan bukan lagi dari penggunaan tukar menukar jarum suntik saat menggunakan narkoba. Hubungan seksual berisiko misalnya adalah hubungan seksual dengan pengidap HIV atau infeksi menular seksual, atau hubungan seksual dengan berganti pasangan, tanpa menggunakan proteksi kondom. Anjuran penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual masih menemui banyak hambatan. Terutama buat laki-laki yang masih enggan dan merasa tabu untuk menggunakan kondom. Termasuk juga mitos bahwa menggunakan kondom itu tidak menyenangkan. Selanjutnya World Health Organization (WHO) dan UNAIDS sempat mengusulkan tindakan sirkumsisi sebagai standar pencegahan HIV. Memang dari beberapa uji klinis yang telah dilakukan menunjukkan sirkumsisi dapat mengurangi penularan HIV hingga 60%. Sirkumsisi diyakini dapat melindungi orang dari infeksi HIV karena kulup penis yang dibiarkan lebih rentan terhadap HIV dan dapat menjadi tempat masuk utama virus.

Tetapi berselang tidak lama, The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) malah mengeluarkan pernyataan bahwa  sirkumsisi tidak mengurangi risiko tertular HIV di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Dinyatakan bahwa keputusan untuk merekomendasikan sirkumsisi sebagai sebuah prosedur resmi untuk pencegahan HIV masih belum final. Karena beberapa fakta lain yang menjadi pertimbangannya misalnya bahwa bayi laki-laki yang baru lahir tanpa sempat disirkumsisi pun bisa tertular HIV, dan laki-laki yang sudah disirkumsisi tetapi melakukan aktivitas seksual gonta-ganti pasangan, termasuk juga melakukan aktivitas seksual sesama laki-laki belumlah terlindungi dengan sirkumsisi ini. Maka keputusan akhir yang diperlakukan CDC saat ini, sirkumsisi adalah bersifat sukarela. Sebenarnya sirkumsisi hanyalah mengurangi risiko infeksi HIV, bukan untuk mencegah infeksi. Laki-laki masih harus menggunakan kondom untuk mencegah HIV.

 

Selanjutnya Hak-hak Seksual yang disepakati WHO pada Juni 2009 didasari juga atas penghormatan terhadap integritas tubuh dan hak setiap orang untuk memperoleh kepuasan seksual. Jurnal of Urology April 2005 menyebutkan bahwa sirkumsisi menurunkan kepuasan seksual karena pada kulup penis yang dipotong tersebut terdapat syaraf-syaraf yang sangat peka. Ada kritik bahwa tindakan sirkumsisi yang dilakukan orang tua terhadap anak laki-lakinya mengandung arti bahwa orang tua telah mengambil hak anaknya dalam memutuskan tindakan terhadap tubuhnya, termasuk keputusan dan hak seksualnya. Namun dalam hal ini, pertimbangan keagamaan dan budaya sering kali masih diakui dalam mengambil keputusan.

Jadi, bagaimana solusinya? Berdasarkan perkembangan terakhir atas pertimbangan sosial, kesehatan dan hak seksual manusia, maka tentang sirkumsisi dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Keputusan sirkumsisi itu individual, silakan dilakukan jika itu adalah sebuah kewajiban dan keharusan yang diminta oleh kepercayaan, tentu saja dilakukan dengan cara yang bersih atau steril. (2) Kalaupun laki-laki sudah disirkumsisi bukan berarti aman dari infeksi menular seksual, karenanya tetap harus menggunakan kondom saat berhubungan seksual yang berisiko. (3) Perlu diperhatikan hak-hak seksual dengan baik karena pada sebagian orang menghilangkan kulup saat disirkumsisi akan mengurangi kenikmatan seksual.

Paling Populer

To Top