Kata Hati

Nyala Api Seni tak Henti Berkobar

Sebuah seni pentas kolosal bertajuk “Agni Wira Nirmala” disimak ribuan penonton di panggung terbuka Balai Budaya Gianyar, 19 April lalu.  Garapan seni pertunjukan yang melibatkan tak kurang dari 500 seniman itu diwarnai dengan kehadiran api, sejak awal hingga akhir.  Agni yang berarti api, wira adalah pahlawan, dan nirmala bermakna suci, dijadikan bingkai lakon yang bertutur tentang api kepahlawan tokoh Anoman dan api suci Dewi Sita. Sajian pertujukan dari Sanggar Paripurna Bona yang berdurasi satu setengah jam ini, menunjukkan bagaimana nyala api berkesenian di Bumi Seni Gianyar tak pernah henti berkobar.

I Made Sidia selaku direktur artistiknya,  menuangkan karyanya dalam bentuk oratorium tari. Genre seni pentas yang merupakan kembangan dari sendratari, menguak di Bali pada tahun 1991. Adalah Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar yang mengawalinya, ketika menampilkan Oratorium Sumpah Palapa Gajah Mada di Balai Sidang Jakarta. Perkembangannya kemudian, rancangan seni pertunjukan seperti ini sering disuguhkan oleh Intitut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, khususnya di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) dan dalam berbagai kesempatan di Bali maupun dalam panggung seni tingkat nasional di Jakarta. Oratorium tari, konsep garapnya tak jauh dengan sendratari namun ada pemberian ruang narasi  bermuatan pesan moral yang kontekstual.

Berekspresi melalui oratorium tari, epos Ramayana pun digali, maka munculah lakon “Agni Wira Nirmala”. Dikisahkan api jumawa angkara murka Rahwana, memantik api kepahlawanan Anoman  dan api suci Dewi Sita. Kera putih Anoman berkubang api dan bertaruh nyawa membumihanguskan keraton Alengka demi tegaknya kebenaran yang diemban sang junjungannya,  Rama Dewa. Putri ayu jelita Dewi Sita bermandi api menunjukkan kemuliaan nuraninya sebagai wanita yang mengawal kesucian cinta agungnya pada sang kekasih, Sri Rama. Dan, api yang paling mengerikan dalam epos Ramayana itu adalah api neraka perang yang memusnahkan peradaban. Dewa Agni Hyang Brahma sungguh perihatin dan harus merangkai kembali keadaban yang telah tercipta.

Api dalam hamparan kerlap kerlip lilin-lilin kecil yang dibawakan ratusan penari anak-anak, memberikan gambaran awal kepada penonton tentang cerita yang akan tersaji, yaitu dimulai aksi kepahlawanan Anoman yang gagah berani membakar keraton Kerajaan Alengka. Berikutnya dilanjutkan dengan perjalanan Rama bersama pasukan keranya menuju Negeri Alengka melewati jembatan Situbanda, memerangi Rahwana yang semena-mena menculik kekasih hatinya, Dewi Sita. Setelah Rahwana berhasil ditaklukkan, api kesangsian Rama terhadap kesucian Dewi Sita  meletup. Api membumbung membakar tubuh Dewi Sita yang dengan ikhlas membuktikan cinta sucinya.

Kontekstualisasi melalui narasi verbal dalam oratorium tari “Agni Wira Nirmala” ini diantaranya dihadirkan pada adegan persidangan di Kraton Alengka. Setelah Wibisana diusir oleh Rahwana karena dianggap lancang menyampaikan saran untuk mengembalikan Dewi Sita kepada Rama, sesepuh kerajaan, Sumali, kakeknya Rahwana, melontarkan petuah. “Rahwana, kau sungguh seorang raja yang keblinger, seorang pemimpin berpolah bergajul. Ketahuilah, negeri Alengka ini, dulu aku dirikan dengan penuh derita dan perjuangan. Kini, kau dan kroni-kroni serta preman-premanmu, seenaknya menabrak etika dan moral. Kebenaran yang dikatakan Wibisana kau berangus dgn kuasa kesewenang-wenanganmu. Kebejatan dan kesombonganmu akan mengantarkan Negeri Alengka ke jurang kiamat“.

Seni pentas oratorium tari menstimulai hadirnya pendukung pentas berbagai properti. Made Sidia menunjukkan totalitasnya dalam sejumlah bagian dramatik garapannya yang dianggapnya perlu dengan media properti. Pada adegan perang sengit, ditampilkan ogoh-ogoh untuk menggambarkan Kumbakarna yang maju ke medan laga bukan membela keangkaramurkaan kakaknya, Rahwana, melainkan rela mati demi tanah airnya, Negeri Alengka. Demikian pula ogoh-ogoh kembali dihadirkan menjulang tinggi ketika Rahwana berwujud Dasamuka, raksasa garang dan sakti berkepala sepuluh.

Api berkesenian adalah bara sarat gelora  dan menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan. Di Gianyar, setiap tahun, setidaknya sejak 10 tahun terakhir,  saat puncak HUT kotanya, 19 April, digelar pentas seni yang digalang secara khusus dengan daya gugah seni yang diapresiasi sarat minat oleh masyarakat penonton.

Kadek Suartaya

Paling Populer

To Top