Buleleng

Nyoman Suma Argawa: Kembangkan Seni Topeng

Tidak hanya kerajinan, Buleleng juga memiliki pengrajin berprestasi yang telah diundang ke beberapa belahan dunia. Salah satunya, pelaku seni Nyoman Suma Argawa di Desa Bungkulan Kecamatan Sawan. Beliau merupakan seorang seniman serba bisa, pelukis, pematung (pembuat topeng), penabuh, dan penari membuat ia sering diundang ke seantero dunia seperti Belanda, Eropa, dan Asia.

Hasil karyanya terutama topeng banyak diminati orang asing maupun orang Indonesia.

Topeng sebagai bentuk karya seni tradisional di Bali lebih dikenal dengan sebutan tapel. Keberadaan topeng dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan upacara keagamaan Hindu. Bentuk topeng bermacam-macam yang mengambarkan watak seseorang.

Suma Argawa mengatakan seni topeng terus berkembang mengikuti zaman dan berjalan sesuai dengan nilai-nilai artistik, sosial, dan kultural dari masyarakat Bali. Topeng tidak hanya digunakan sebagai tapel penari pada tarian sakral agama Hindu saja, melainkan semakin berkembangnya kesenian seni topeng juga mengalami perkembangan seperti seni topeng kontemporer dan seni topeng sebagai pajangan. “Tidak mengherankan jika permintaan topeng tidak pernah sepi dan selalu ada karena didukung dengan semakin banyaknya bermunculan seni topeng itu sendiri,” ungkap pemiliki dari Gallery Suma Argawa tersebut.

Dirinya menambahkan, sebagai seniman atau perajin topeng Bali penting memperhatikan kualitas bahan baku yang akan digunakan seperti pemilihan jenis kayu untuk pembuatan topeng. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan para pemahat topeng seperti jenis topeng yang akan dibuat, diameter kayu, warna kayu, tekstur kayu, dan lain sebagainya. Selain itu juga penggunaan cat warna untuk memantapkan karakter atau watak dari topeng yang akan dibuat. “Biasanya di dalam pembuatan topeng menggunakan dua jenis kayu yakni kayu pule dan kayu kamboja namun saya lebih memilih kayu pule karena lebih kuat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, saat ini perajin topeng bali khususnya di Buleleng sangat sedikit karena untuk menjadi perajin tidak lah mudah selain harus memiliki jiwa seniman perajin juga harus memiliki keterampilan khusus. Dalam prosesnya harus melalui beberapa tahap pemahatan yang membutuhkan ketelitian agar karya yang dihasilkan sesuai dengan apa yang diinginkan. “Kerajinan topeng itu bukan sekedar menjual kayu yang diukir namun juga menjual nilai seni dan kreatifitas bahkan tidak mudah untuk membuat topeng tokoh seperti Gajah Mada,” imbuhnya.

Menjadi seorang seniman topeng, dirinya dituntut untuk mengutamakan kualitas baik dari bahan maupun hasil produk seninya. Harga yang tinggi sangat tergantung dari penggunaan bahan yang digunakan. Harga juga ditentukan dari tingkat kesulitan proses pembuatan topeng tersebut dan aplikasi warna, harga terendah mulai Rp 500.000 hingga Rp 10 juta. “Harga topeng juga tergantung dari penggunaan warna, seperti warna prada harga topeng bisa semakin mahal,”ungkapnya. Wiwin Meliana

 

 

Paling Populer

To Top