Surabaya

Siti Munawaroh: Modin Wanita Termuda

Keberadaan modin (pemandi jenazah) di kota besar seperti Surabaya makin langka. Padahal hampir tiap hari ada orang meninggal yang jenasahnya perlu dipulasara/dirawat sebelum dikebumikan.  Untuk jenazah berjenis kelamin perempuan ditangani oleh modin perempuan, hal ini untuk menjamin kehormatan almarhumah selama proses pemulasaraan. Selain itu modin perempuan biasanya lebih telaten dalam menyiapkan pernik–pernik peralatan kematian.

Adalah Siti Munawaroh salah seorang  modin  wanita di wilayahnya. Perempuan kelahiran Surabaya 18 Juli 1985 ini termasuk salah seorang modin perempuan termuda di Surabaya, kebanyakan teman temannya sesama modin adalah ibu–ibu yang sudah lanjut usia.

Sebagai seorang istri petugas penyuluh agama yang merangkap sebagai modin laki-laki, istri Hengki Candra ini tahu betul tugas suaminya yang banyak berkecimpung pada hal-hal pembinaan keagamaan pada masyarakat. Diapun juga terpilih sebagai modin dan aktif sebagai ketua jemaah tahlil di kampungnya di daerah Benowo Surabaya.

Untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan dalam merawat jenazah, maka alumni Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Surabaya ini juga mengikuti pembinaan dan pelatihan modin yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Kota Surabaya. Dia berhasil menyelesaikan kegiatan tersebut dan mendapatkan sertifikat.

“Saya diajari materi mengenai cara perawatan jenazah yang benar dan aman bagi modin baik dari sudut pandang kesehatan maupun  menurut ilmu agama. Hal ini agar setelah proses pemandian jenazah, tidak ada persoalan yang timbul antara pihak keluarga jenazah dengan modin,” kata Siti.

Ia paham dan sadar benar akan profesi dan tanggung jawabnya yang tidak mengenal waktu dan kesibukan, oleh karena itu dia selalu siap 24 jam apabila sewaktu sewaktu rumahnya diketuk orang karena ada orang yang meninggal dan perlu dirawat jenazahnya.

Sejak 2016, perempuan manis berhijab ini sudah memandikan sebanyak 30 jenazah. Untuk bulan Maret 2018 tercatat sudah 3 orang yang dipulasara oleh dirinya. “Saya pernah mengurus jenazah orang meninggal karena telinganya bengkak dan jenazah perempuan hanya dengan satu kaki karena diamputasi,“ kenangnya.

Untuk mengapresiasi tugas dan pengabdian modin, sejak 2015 Pemerintah Surabaya menaikkan honor modin yang semula Rp 150.000 menjadi Rp 300.000. Ke depan akan dilakukan perekrutan modin baik modin laki-laki maupun perempuan, mengingat jumlah modin saat ini hanya 1.400 orang padahal yang dibutuhkan sekitar 1.700 orang. Diharapkan tiap Rukun Warga (RW) di Surabaya memiliki modin laki-laki dan perempuan.

Aktivitas sehari-hari ibu dari 3 anak ini adalah seorang wiraswasta yang bergerak di bidang jasa wedding organization dan pemilik usaha pembuatan makanan kemasan. ”Sebelumnya saya pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik pengelolaan udang di kawasan Margomulyo,” ujar Siti. (Nanang Sutrisno/Bisnis Surabaya)

Paling Populer

To Top