Sosialita

Luh Gede Herryani: Pilkada untuk Semua

Puncak acara Pemilihan Umum Gubernur Bali (Pilgub) Bali 2018 adalah 27 Juni mendatang. Saat itu bakal dilangsungkan pencoblosan. Pasangan dengan suara terbanyak akan menjadi pemenangnya.

Jika ingin ikut bersama-sama dengan pemimpin terpilih berkontribusi untuk daerah, demi kemajuan dan gerak pembangunan kedepannya, maka jangan golput. Gunakan hak pilih kita, terutama pada para perempuan, mengingat angka pemilih perempuan sangat besar. Begitu disampaikan Luh Gede Herryani, S.H., M.Kn., Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat  Buleleng ini  saat bertemu Tokoh di rumahnya di kawasan Jalan Tukad Badung, Denpasar.

Perempuan yang akrab disapa Luh De ini mengajak seluruh eleman masyarakat untuk bersama-sama menyukseskan perhelatan lima tahunan ini. “Pilkada menyeluruh kali ini berlangsung di 17 provinsi, 115 kabupaten serta  39 kota di Indonesia, seyogyanya akan berjalan aman, lancar, tertib dan demokratis,” ucap Notaris, PPAT, Pejabat Lelang Kelas II ini.

Ia mengatakan pilkada ini adalah proses demokrasi milik kita semua. Karenanya ia percaya semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pilgub Bali kali ini, akan menjalankan tugasnya dengan baik. “Mari kita membangun sekaligus menyebarluaskan semangat kebebasan berdemokrasi kepada semua orang untuk nantinya bisa menerima apapun hasil Pilgub secara wajar. Dalam arti siap menang juga siap kalah,” tegasnya.

Ditanya soal sosok pemimpin Bali,  Luh  De berharap pemimpin yang terpilih nanti adalah pemimpin yang bersih, jujur (berintegritas), santun, cerdas, memiliki tanggung jawab (responsibility)  dan pastinya mempunyai program-program yang pro rakyat atau berkomitmen tinggi untuk mensejahterakan masyarakat.

Programnya mesti bersentuhan langsung dengan masyarakat terbawah disertai  pembangunan infrastruktur yang dapat membantu program pengembangan ekonomi rakyat.

Mengenai perekonomian rakyat, juga terhitung wajib menjadi perhatian serius pemimpin Bali ke depannya. Pemerintah nanti mesti mencanangkan program yang bertujuan mengurangi  masyarakat miskin serta  percepatan pembangunan . Sepatutnya pula pemimpin terpilih yang baik dan kompeten adalah setelah dilantik mengetahui permasalahan yang ada di wilayahnya serta menyusun strategi penanganannya secara komprehensif dengan para tenaga ahli. Sekali lagi diingatkannya kalau kita gagal memilih pemimpin yang tepat dalam pilkada kali ini maka, pembangunan daerah kita akan terganggu. “Semoga penyelenggaraan pilgub di daerah kita berjalan dalam suasana demokrasi yang aman dan jujur,” katanya.

MENJAGA BUDAYA BALI

Menjaga konsep Bali berarti menjaga “budaya”-nya. Karenanya “budaya” ini perlu dilestarikan. “Kenapa dilestarikan? Mengingat bahwa kehidupan kita, bukan hanya pada saat ini saja. Masih ada anak–cucu kita yang akan melanjutkannya nanti. Budaya bukanlah hanya sekadar bisa menari dan bisa berbahasa Bali. Namun lebih dari itu, di dalamnya ada tata krama, seperti pada berbagai kegiatan keagamaan yang dikenal sangat kuat mencerminkan budaya Bali,” papar Luh De.

Ia berharap generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi  pula terhadap tradisi dan kultur lokal. Pemimpin Bali nanti menyiapkan program yang konsisten bagi generasi muda  agar memahami dan menjadikan budaya sebagai warna dalam keseharian mereka.

Apalagi, katanya kalau bicara pelestarian budaya. Hal ini tidak semata-mata untuk  sisi ekonomi saja, namun sejarah dan spirit yang ada di dalamnya. Sementara itu juga masyarakat Bali, wajib diingatkan untuk berkontribusi menjaga alam Bali dengan memegang teguh konsep Tri Hita Karana. Tiga hal yang mengatur harmonis, yakni hubungan manusia dengan sesama (pawongan) juga manusia kepada alam, lingkungan (palemahan) serta hubungan harmonis dengan sang pencipta yakni Tuhan (parahyangan).

Luh De juga mengatakan perlu ada penekanan bahwa inilah yang menuntun masyarakat Bali dapat saling menghargai sekaligus menjaga nilai keseimbangan atau harmonisasi dalam hidup. Tri Hita Karana juga, sesungguhnya dapat diaplikasikan dengan cara sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa. Misalnya membuang sampah pada tempatnya.

Meski sudah ada juga upaya lainnya untuk menjaga budaya, yakni melalui arena Taman budaya yang bernama  Art Center di kawasan jalan Nusa Indah Denpasar. Namun, kegiatan yang padat budaya di dalamnya mungkin hanya ramai pada saat diselenggarakannya Pesta Kesenian Bali saja. Sementara ketika kita bicara serbuan budaya asing, tentu tak bisa dihindari. Maka di sini juga perlu mendapatkan perhatian serta filterisasi yang baik. Maka, siapapun yang akan menjadi pemimpin Bali tentu hal ini sudah menjadi bagian dari program pengembangan sekaligus menjaga Bali ke depannya.  –ard

Paling Populer

To Top