Mendongeng Lima Menit

KUBURAN IBU KODOK

Made Taro

Di sepetak sawah tinggallah seekor kodok bernama Ibu Kodok. Ia punya anak semata wayang. Anak itu biasa dipanggil Anak Kodok Jantan. Ibu Kodok sangat sayang kepada anaknya. Ke mana-mana ia membanggakan anaknya yang tampan itu. “Anak Kodok Jantan itulah kelak yang akan meneruskan keturunanku,” demikian pikir Ibu Kodok.

Ibu Kodok tidak ingin anaknya mendapat kesusahan. Ia sangat  memanjakannya. Kalau mencari makan, sang Ibu selalu mendampinginya. Akibatnya anak itu menjadi malas dan tak pernah berusaha mengatasi dirinya sendiri.

Pada suatu hari Anak Kodok Jantan bermain-main ke luar rumah bersama teman-temannya.

“Boleh Nak, tetapi sebelum matahari tenggelam, kamu harus sudah berada di rumah,” demikian pesan ibunya.

Apa yang terjadi? Sampai larut malam sang Anak belum juga pulang. Sang Ibu gelisah. Setelah pulang, anak yang tidak menurut itu mendapat omelan. Anak itu tidak mau mengakui kesalahannya, malah melawan. Ia memukul-mukul pintu rumah dan melemparkan perabotan dapur.

Semakin beranjak dewasa, anak kodok itu makin menyakiti hati ibunya. Ia selalu menentang perintah. Kalau disuruh membersihkan rumah, ia bahkan sengaja membuang sampah di halaman. Kalau disuruh memetik sayuran di kebun, ia justru pergi memancing ke sungai.

Sang Ibu semakin hari semakin makan hati. Akhirnya jatuh sakit. Si Anak Kodok Jantan, bukannya menolong ibunya yang sakit, tetapi pergi meninggalkan rumah berlama-lama.

Menjelang ajal, ibunya memanggil anak kesayangannya itu. “Anakku Sayang!” kata ibunya dengan suara lemah. “Bila tiba ajalku, kuburkanlah aku di pinggir sungai, dekat tempatmu memancing.”

Sebetulnya sang Ibu ingin dikuburkan di lereng bukit. Ia ingin tempat yang aman dan hening. Ia tahu, anaknya pasti akan berbuat sebaliknya. Oleh karena itu ia mengatakan agar di kubur di pinggir sungai. Namun sang Ibu salah perhitungan. Setelah mati, anak satu-satunya itu menangis meraung-raung di sebelah jasad sang Ibu. Ia menyesali perbuatannya yang selalu menyakiti hati sang Ibu.  Sesungguhnya ia sangat mengasihi ibunya.

Anak Kodok Jantan bertekad menebus dosa. Bersama teman-temannya, ia menggotong mayat sang Ibu ke pinggir sungai. Sambil menangis, ia kuburkan jasad ibunya dekat tempat ia memancing.

Lama berselang, musim hujan pun tiba. Sang Anak yang sangat terpukul oleh kematian ibunya, selalu memeriksa kuburan itu di pinggir sungai. Ia takut, kalau-kalau kuburan itu dihanyutkan banjir.

“Teman-teman!” katanya memanggil kodok-kodok lainnya. “Ayo kita bernyanyi, mendoakan, agar air hujan yang lebat ini tidak menghanyutkan kuburan Ibu kita tercinta.”

Demikianlah yang terjadi hingga saat ini. Setiap musim hujan, kodok-kodok itu bernyanyi beramai-ramai. “Kung kek, kung kek, kung kek….! Jangan hanyutkan kuburan ibu kami! Jangan hanyutkan  kuburan ibu kami!” (Korea)

 

Paling Populer

To Top