Life Story

Menolak Menyerah

Tertarik pada dunia usaha sejak masa kanak-kanak, mengantar Qurais H. Abidin menjadi seorang pengusaha sukses. Di usia 11 tahun ia telah meninggalkan Bima, pergi merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ketika anak-anak lain masih galau menentukan tujuan hidupnya, Qurais justru telah terjun secara serius ke dunia bisnis pada usia 17 tahun.

Perjalanan hidupnya terbilang lengkap. Ia pernah berada pada titik puncak kesuksesan yang membawanya pada ‘dunia muda’ penuh catatan. Pernah pula berada pada titik terendah dalam hidupnya akibat krisis moneter yang melanda negeri ini. Ia jatuh bangkrut tak berdaya sampai menyentuh titik nol.

Kegigihannya untuk menolak menyerah, membuktikan Qurais adalah pengusaha berkelas. Ia bangkit dan meraih kembali kejayaannya itu. Tahun 2008, sosoknya yang muda dan parlente, banyak dilirik politisi Kota Bima. Qurais menjadi pendatang baru yang memesona pada ajang pilkada pertama yang digelar Kota Bima kala itu dengan terpilih sebagai Wakil Walikota Bima.

Tahun 2013, ia mendominasi suara memenangkan Pilkada Kota Bima mengalahkan enam pasangan lainnya. Delapan tahun ia memimpin Kota Bima sebagai Walikota hingga tahun 2018 ini, telah mengubah Kota Bima menjadi kota yang tertata rapi dan memiliki arah yang terukur. Sebelum akhirnya meraih kembali kejayaan sebagai pengusaha sukses lalu masuk ke dunia politik, Qurais pernah mengalami masa keruntuhan bisnis yang membuatnya nyaris putus asa.

Perjalanan bisnis Qurais yang telah dirintisnya sejak masa remaja, berjalan dengan baik. Tidak ada yang mampu mengejar langkah Qurais sebagai pengusaha muda yang sukses khususnya di Bima. Selain memiliki SPBU dan bisnis lainnya, ia juga mulai membangun perumahan dan pertokoan. Kehidupan mereka melesat bak meteor.

Namun siapa menduga, bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Manusia boleh berhitung dengan cermat, namun segala ketentuan itu ada di tangan Allah SWT. Tahun 1997-1998, ketika krisis moneter melanda negara-negara anggota ASEAN, menjadikan struktur perekonomian negara-negara tersebut terguncang hebat, termasuk pula Indonesia.

Krisis ini menghantam sungguh parah. Imbasnya menerjang berbagai sektor kehidupan masyarakat. Tidak terkecuali imbas itu menghantam hingga ke Bima. Qurais kelimpungan juga menghadapi situasi ini. Bisnis yang selama puluhan tahun dibangun ayahnya lalu dilanjutkan oleh dirinya, seketika itu juga runtuh.

Usaha Qurais terjun payung tanpa arah. Qurais bangkrut total. Ini masa dimana kesedihan, kepedihan dan luka yang sangat dalam pernah menghinggapi hidupnya. Pinjamannya Qurais di bank waktu itu mencapai angka fantastis Rp 3 miliar. Nilai utang yang tidak main-main. Krisis datang disambut pula dengan kebijakan  tight money policy. Lengkap sudah penderitaan para pengusaha seperti Qurais. “Tight money policy keluar, saya tidak bisa apa-apa,” ujar Qurais.

Dari kebijakan ini yang langsung dirasakan oleh Qurais adalah naiknya suku bunga bank dari  awalnya hanya 17%, dalam satu bulan bahkan bisa naik lagi 10%. Situasi ini nyaris setara dengan badai besar yang mampu mencabut pondasi pertahanan para pengusaha yang memiliki pinjaman di bank. Tidak terkecuali bagi Qurais. Menghadapi terjangan dan tekanan badai ekonomi yang sewaktu-waktu merobohkannya itu, Qurais berusaha keras bertahan mati-matian dengan segala kekuatan yang tersisa. “Saya bertahan mati-matian untuk bisa tetap berdiri dalam situasi yang sesungguhnya luar biasa berat itu,” katanya.

Di tengah badai yang melanda itu, perumahan  yang tengah dibangunnya belum selesai sehingga ia sama sekali belum bisa menjualnya. Usahanya satu per satu rontok, tiada lagi penopang. Sementara bunga bank yang terus naik itu harus tetap dibayarnya. Perputaran uangnya menjadi timpang, bukan lagi tidak seimbang melainkan tidak adil. Di satu sisi ia harus membayar bunga bank yang begitu besar, di sisi lain usahanya terus terjun payung jatuh bangkrut sehingga ia tak memiliki sedikit pun celah pemasukan.

Alhasil, inilah masa di mana Qurais berada di titik nol, titik terendah dalam hidupnya. Ia bangkrut total habis-habisan. Bukan hanya dirinya, satu persatu pula pengusaha lain yang dikenalnya turut bangkrut. Semua menyerah dalam ketidakberdayaan. Tidak ada lagi yang mampu membayar bunga bank. Para pengusaha ‘sekarat’ pasrah.

Namun, di tengah depresi para pengusaha yang kondisinya lebih kurang sama dengan dirinya, Qurais menolak menyerah. Meski telah lemah, ia terus berjuang untuk berdiri tegak. Dari semua hal yang dihadapinya, hanya satu yang ia pegang teguh, kejujuran sebagaimana prinsip bisnis warisan ayahnya. Ia tidak akan menjadi pengecut yang lari dari kenyataan dengan meninggalkan tanggung jawab atas alasan krisis ekonomi. Qurais tetap menunaikan tanggung jawabnya membayar bunga bank yang begitu tinggi meski ia tak lagi memiliki penghasilan akibat runtuhnya sendi-sendi usahanya itu. Ia tetap konsisten dan setia pada komitmennya  membayar bunga bank, meski tertatih-tatih.

“Saya akhirnya menghadap kepala bank. Saya sudah tidak sanggup lagi. Seluruh harta saya sudah habis, rumah, toko-toko dan warisan orangtua sudah habis saya jual. Saya sudah tidak punya kemampuan lagi,” ujarnya.

Dalam masa terpuruk itu, Qurais bersyukur karena selalu saja ada orang-orang baik yang membantunya sehingga ia bia berpijak untuk bangkit kembali. Dari sanalah perlahan-lahan ia kembali bangkit lalu meraih kembali kejayaannya sebagai pengusaha sukses. Bagian perjalanan ini adalah bagian di mana Qurais menjadi semakin yakin bahwa tangan Allah SWT selalu ada untuk membantunya. Allah SWT yang memberi semuanya, Allah SWT pula yang mengambil seluruhnya dan Allah SWT pulalah yang memberinya kembali.

BELI KEMBALI IZIN SPBU

Yang paling tidak bisa dilupakannya adalah ketika ia menunaikan ibadah haji bersama istrinya Yani Marlina di saat hidup mereka terpuruk, ia khusus berdoa agar Allah SWT mengampuninya dan memberinya kesempatan sekali lagi untuk berusaha.

“Ya Allah … tidak usah kembalikan harta benda yang saya peroleh, tetapi berkenanlah melindungi warisan ayah kepada kami,” begitu doa yang dipanjatkan Qurais di Taman Syurga Rawdah, di Masjid Nabawi Madinah Al Munawaroh. Pada sepanjang menunaikan ibadah haji tersebut, terlihat perubahan demi perubahan terjadi dalam diri Qurais.

Perjalanan batin selama beribadah ini, membuatnya menyadari bahwa segala hidup ini merupakan milik Allah SWT. Sedangkan manusia tidak berhak mengklaim sebagai miliknya. Sepulang haji, Qurais ‘lahir’ sebagai pribadi yang baru. Ia menjalani kehidupannya seperti memulai dari nol. Sekembalinya dari Tanah Suci Mekkah, secercah harapan mulat terlihat. Doa-doa yang panjatkan mulai sedikit demi sedikit dikabulkan oleh Allah SWT.

Aset-aset peninggalan ayahnya yang menjadi warisan untuk dirinya, mulai kembali ke pangkuannya. Hal ini semakin membuatnya dekat kepada Allah SWT. Ia mulai kembali memiliki uang sehingga izin SPBU yang pernah dijualnya kepada Bupati Bima, ia usahakan untuk bisa dibelinya kembali.

“Sesungguhnya harta yang kita miliki di dunia ini adalah milik Allah SWT. Kita hanya mendapatkan amanah untuk menjaga titipan tersebut. Sewaktu-waktu, jika Allah SWT menghendaki maka Ia bisa mengambilnya kembali. Namun sewaktu-waktu, kapan pun yang Ia mau, bisa dititipkan-Nya kembali ke kita,” ujar Qurais yang memaknai benar arti kejatuhan itu. (Naniek I. Taufan)

 

 

 

 

Paling Populer

To Top