Bunda & Ananda

Kenalkan Anak dengan Tradisi melalui Lomba

Anak-anak perempuan sangat bersemangat membuat canang sari

Sejak pagi, Wantilan Desa Pangsan, Petang telah ramai dipadati anak-anak mulai usia PAUD hingga SD. Mereka bersemangat mengikuti berbagai lomba yang digelar ST. Dharma Tunggal  serangkaian hari ulang tahunnya. Di antaranya, lomba mewarnai, membuat canang sari, ngulat pancak, lari karung, dan cerdas cermat.

Yang menarik, dalam setiap lomba yang digelar selalu menampilkan lomba bermuatan lokal, sepeti membuat canang sari dan ngulat pancak. Menurut salah seorang juri, Ida Ayu Putu Nirka, lomba ngulat pancak dan membuat canang sari di kalangan anak-anak ini diacunginya jempol karena sejak dini mengenalkan anak pada kegiatan-kegiatan tradisi yang nantinya akan sering dipakai dalam hidup bermasyarakat.

“Lomba semacam ini bertujuan membina untuk masa depan anak. Mulai dari yang ringan-ringan dulu, seperti membuat canang sari. Ini bertujuan  untuk menumbuhkan rasa bakti  kepada Tuhan,” ujar Ketua Pokja I yang membidangi upakara dan pesantian di PKK Desa Pangsan ini.

 

SARAT AKAN SIMBOL

Ia menyoroti lomba membuat canang sari. Dikatakannya, janur yang dipakai sebaiknya janur nyuh gading biar tampilannya bagus dan menarik. Janur ini dibuat ceper atau tamas sebagai alas.

Kelengkapan isi canang sari meliputi, plawa, porosan (harus ada), beras kuning, kiping biu mas, miik-miikan. Baru kemudian uras sari. “Sebaiknya uras sari berbentuk bundar seperti pis bolong karena melambangkan windu. Semua bahan ada perlambangan. Seperti porosan, itu simbol Idang Sang Hyang Widhi (Tuhan) karena terdiri dari base (lambang Wisnu), buah (lambing Brahma), pamor (Iswara), semua ini manunggal dengan sebutan Tri Murthi/Ida Sang Hyang Widhi,” jelasnya.

Bunga melambangkan kesucian. Peletakan bunga juga ada aturannya. Bunga berwarna putih di timur, kuning di barat, bunga hitam di utara, bunga merah di selatan. Di tengah, manca warna , memakai pis bolong di atasnya, tujuannya sarining manah jika diletakkan di atas bunga.

Bunga yang dipakai ditegaskan Dayu Nirka, harus yang segar, bunga yang dipetik, bukan bunga yang rontok, layu, atau dicari semut. Ada juga bunga yang tidak boleh dipakai (cuntaka), seperti bunga tulud nyuh, sari konta, tampak bela, dan bunga yang tumbuh di kuburan walaupun bunga cempaka. (Inten Indrawati)

Paling Populer

To Top