Nine

Supinah: Ingin Hidup Mandiri

supinah

Suara telepon berdering. Dengan sedikit meraba-raba, Supinah akhirnya mengangkat telepon dan menjawabnya. “Hallooo…. Iya, saya sedang ada pelanggan, lagi mijat, nanti saja saya telepon kembali ya,” ujar Supinah sembari meletakkan  lagi telepon tersebut di atas meja di samping lemari pakaian dekat pintu kamarnya. Posisi telepon lengkap dengan charger tergantung itu, adalah ‘senjata’ sehari-hari bagi Supinah dalam bekerja. Posisi HP yang tidak pernah berubah, membantu Supinah untuk tetap dapat menemukan alat komunikasi tersebut.

Bagaimana tidak, perempuan yang kini berusia 38 tahun itu melakukan semua hal di kamar kos-kosannya itu dalam keadaan matanya buta. Supinah adalah penyandang tuna netra yang hari ini bisa hidup mandiri dan tidak lagi tergantung pada orang lain. Bagi orang normal, melihat apa yang dilakukan Supinah di kos-kosannya ini rasanya akan mustahil, namun bagi Supinah biasa saja. Ia bahkan dengan cekatan berjalan dari kamarnya menuju dapur, ataupun mengunci pintu dan jendelanya. “Sudah biasa, jadi semua posisi sudah saya hapal,” ujarnya.

Setelah mengalami kebutaan pada menjelang usia 7 tahun, Supinah merasa hidupnya telah hilang untuk selama-lamanya.  Semua cita-citanya lenyap seketika. Dia juga tercerabut dari pergaulan kanak-kanaknya akibat orangtuanya khususnya sang ayahyang tidak mengizinkannya keluar rumah karena khawatir ia tidak mampu melakukan apa-apa dalam kebutaannya itu. Puluhan tahun ia habiskan hanya di rumah saja. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti kata ayahnya. Supinah sempat berpikir, apakah selamanya ia akan hidup begitu terus, tergantung pada orangtua dan saudara-saudara saja. “Kapan saya bisa mandiri,” ujar Supinah yang waktu itu sangat ingin hidup mandiri.

Waktu itu Supinah menyangka cita-cita mandiri itu hanya khayalan belaka. Karena kini, di usia 38 tahun Supinah akhirnya meraih cita-cita itu. Ia kini bisa hidup mandiri dengan menjadi tukang pijat yang memiliki penghasilan sendiri. Ia bahkan bisa membiayai kehidupan ibunya yang sudah mulai sepuh. “Alhamdulillah sekarang saya punya penghasilan sendiri dan bisa membiayai ibu saya setiap hari,” katanya. (Naniek I. Taufan)

 

 

Hidup Lebih Baik Setelah Jadi Tukang Pijat

Berawal dari beberapa tahun lalu ia mengikuti pelatihan memijat yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Kota Mataram. Meski sebelumnya menurut Supinah, ayahnya juga saat itu masih tidak mengizinkannya ke mana-mana ketika ada petugas yang mencari Supinah ke rumahnya untuk mengajaknya ikut berpartisipasi dalam pelatihan ini. Namun Supinah memohon agar ayahnya memberi izin. Ia ingin sekali belajar hidup mandiri dan sangat ingin keluar rumah karena sejak mengalami kebutaan ia tidak pernah bisa ke mana-mana.

Setelah ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, akhirnya Supinah bisa mengikuti pelatihan itu. Tidak terbayangkan betapa senangnya Supinah kala pertama kali bisa keluar rumah. Meski ia tidak bisa melihat dunia, ia merasa tubuh dan perasaannya bebas dan plong. “Itulah pertama kali saya keluar rumah, ke hotel tempat pelatihan dan bertemu dengan orang-orang. Saya merasa seperti baru lahir saja,” ungkapnya.

Pelatihan itu telah mengantarnya untuk menjadi pemijat pemula. Dengan usaha keras dan kemauannya untuk belajar ia kembali mengikuti pelatihan dan berkenalan untuk pertama kalinya dengan Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) NTB. Selain mengikuti pelatihan ia juga terus belajar sendiri sampai benar-benar siap menjadi tukang pijat. Beberapa lama difasilitasi oleh Dinas Sosial Kota Mataram, ia sempat menjadi tukang pijat bersama rekan-rekan tuna netra lainnya bergabung menerima pelanggan secara bergantian. Namun tidak bertahan lama karena beberapa kendala yang mereka hadapi. Itulah sebabnya Supinah memilih menjadi tukang pijat panggilan atau menunggu pelanggan di rumahnya.

“Saya akhirnya menunggu pelanggan di rumah saja atau menunggu panggilan telepon dari pelanggan,” ujarnya. Di rumah ibunya ia menerima pelanggan untuk memijat, namun lama-kelamaan, karena posisi rumah ibunya yang terlalu dalam masuk ke gang serta dirasa kurang nyaman bagi pelanggan yang datang, Supinah mencoba untuk menyewa sebuah kamar kos yang dekat dengan jalan utama di wilayah tempatnya tinggal di Dasan Cermen Mataram. “Lumayan sejak di sini pelanggan banyak dan saya bisa membayar kos-kosan ini dan juga kasih ibu,” katanya.

Dalam sebulan, selain membayar kos, Supinah juga memberi ibunya uang setiap hari untuk biaya hidup mereka. Supinah memenuhi kebutuhan ibunya sampai dengan membeli beras dan kebutuhan hidup mereka lainnya. Setiap kali memijat, Supinah mematok tarif setidaknya Rp 35.000 namun jika ia dipanggil ke rumah pelanggan, tergantung jauh dekatnya karena ia harus membayar ojek untuk mengantarnya pergi dan pulang serta tambahan sedikit biaya memijat.

Setiap bulan ia bisa mendapat pelanggan rata-rata hingga 40-an orang, bahkan jika ramai ia bisa mendapat pelanggan lebih dari itu. Dan itu artinya, semakin banyak pelanggan maka semakin banyak pula penghasilan Supinah. Bagi Supinah berapa pun pelanggan yang didapatnya, itu adalah rezeki yang harus dihargainya. Karena dari sanalah ia memperoleh biaya hidupnya sehari-hari.

Setelah mampu mandiri, Supinah merasa dirinya begitu bahagia, karena hal-hal yang dulu tidak bisa dilakukannya sebagai seorang tuna netra, kini bisa dilakukan dengan leluasa termasuk hal yang paling dirindukannya, suara ombak dan bau pantai. Ia kerap sedih ketika di masa kecil, remaja dan dewasa ia tidak pernah bisa menikmati yang namanya bersenang-senang pesiar di saat Lebaran Topat (tradisi lebaran dalam masyarakat Lombok yang dirayakan setelah tujuh hari Lebaran Idul Fitri). “Dulu saya selalu sedih jika Lebaran Topat tiba, saya tidak bisa ikut karena dilarang ke mana-mana. Kini saya sudah bisa pergi ke mana-mana termasuk Lebaran Topat,” ujar Supinah yang selalu ceria ini.

Kehidupannya berubah menjadi jauh lebih baik setelah ia menjadi tukang pijat. Bertemu banyak orang adalah hal yang sangat menyenangkan baginya. Apalagi setelah mengenal Pertuni NTB, bahkan ia menjadi Ketua Cabang Pertuni Kota Mataram, diakuinya dirinya banyak mendapatkan keuntungan dalam pergaulannya. “Saya beruntung bisa mengikuti banyak kegiatan dan bertemu dengan banyak kalangan,” kata Supinah bahagia. Maka ia pun mengajak, agar para penyandang tuna netra tidak merasa minder dan tersisih dengan memaksimalkan potensi diri yang dimilikinya. “Asal ada kemauan, Insya Allah semua bisa kita lakukan,” ujarnya bersemangat. (Naniek I. Taufan)

Paling Populer

To Top