Mandalika

Indonesia Dapatkan Predikat Layak Investasi

Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi  menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) tahun 2018 di Bandung, Jawa Barat minggu lalu sekaligus untuk mendukung penguatan kerjasama daerah untuk penguatan ekonomi nasional.

Untuk penguatan kerjasama tersebut, Gubernur melakukan penandatanganan kesepakatan bersama gubernur seluruh Indonesia selaku anggota Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI). Kesepakatan tersebut memuat kerjasama perdagangan komoditas dan produk unggulan antar daerah.

Rakernas yang mengangkat tema “Kerjasama Perdagangan Antar Daerah Untuk Penguatan Ekonomi Nasional” diisi dengan diskusi yang dimoderatori langsung oleh Ketua umum APPSI HM Yasin Limpo yang juga Gubernur Sulawesi Selatan. Hadir dalam kegiatan ini Sekjen Kementerian Negeri, Yuswandi Temenggung serta hadir Pakar Ilmu Pemerintahan yang juga salah satu dewan penasihat APPSI, Prof. M. Ryas Rasyid.

Puncak Rakernas ini dihadiri oleh Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo yang menekankan beberapa hal, di antaranya meminta seluruh kepala daerah untuk menyederhanakan prosedur dan proses yang terkait investasi dan ekspor. Sebab menurut Presiden, salah satu penyebab utama masih rendahnya pengembangan investasi di tanah air adalah regulasi dan  persyaratan yang berbelit-belit. Pertama kali dalam 20 tahun, Indonesia mendapatkan predikat layak investasi dari 3(tiga) lembaga sekaligus, dengan nilai BB dari fitch rating. Investasi, Indonesia naik menjadi 11,1 persen.

Hal kedua yang ditekankan Presiden adalah sistem perizinan supaya terintegrasi. Proses ini kata Jokowi, harus segera terlaksana di pusat maupun di daerah, agar proses perizinan lebih sederhana dan akuntabel. “Harus selesai Maret 2018. Potong izin rekomendasi dan kuatkan dukungan pada sistem single submisin,” ungkapnya.

Ketiga yang harus segera ditindaklanjuti oleh gubernur adalah data produksi padi harus tepat dan benar. Yang keempat investasi, infrastruktur dan SDM sangat penting sehingga harus segera dituntaskan. “Jangan kebanyakan program dan dibagi-bagi merata pada  semua dinas. Misalnya 60 persen untuk infrastruktur, tahun berikutnya 60 persen untuk SDM. Buatkan Aplikasi sistem hubungan pusat dan daerah, targetkan 1,5 bulan harus tuntas,” tegas jokowi.

Presiden mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sangat tergantung dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Presiden juga meminta kepala  daerah untuk menjaga kondusifitas daerah selama proses pilkada tahun 2018. (Naniek I. Taufan)

 

Percepat Pembangunan SAMOTA

Provinsi Nusa Tenggara Barat kini memiliki sebuah pabrik pengolahan ikan berkelas dunia. PT Bali Seafood International diresmikan oleh Sekreataris Daerah (Sekda) NTB, Ir. H. Rosiady Sayuti, Ph.D. di Teluk Saleh, Kecamatan Pelampang Kabupaten Sumbawa,  beberapa waktu lalu.

Pabrik tersebut merupakan pengolahan ikan pertama berkelas internasional yang berinvestasi di NTB. Pabrik ini akan mengolah Sumber kakayaan ikan di perairan NTB, terutama yang berada di Kawasan SAMOTA. Pabrik ini dikembangkan atas investasi sejumlah investor Amerika yang tergabung dalam PT BSI.

Rosiyadi mengungkapkan apresiasi kepada perusahaan ini. Ia  menegaskan dari pemerintah dan masyarakat NTB tetap percaya pabrik ini bisa memberikan manfaat tidak hanya bagi perusahaan sebagai pengolahan ikan semata tapi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan perekonomian daerah. “Pengaruh positif seperti itulah yang kami harapkan,” ujarnya.

Sebelumnya, Sekda Kabupaten Sumbawa, Drs. H. Rasyidi juga menyampaikan apresiasinya  terhadap BSI. Ia berharap PT BSI mampu meningkatkan penghasilan masyarakat sumbawa khususnya para nelayan yang ada di 18 kecamatan pesisir di Kabupaten Sumbawa, terutama yang ada di Desa Teluk Santong ini.

Saat itu juga, ia mengusulkan pada produk yang dihasilkan tersebut terdapat sebutan Sumbawa supaya ketika orang melihat baik orang dalam negeri dan luar negeri bisa mengenal produk tersebut di produksi di Sumbawa.  “Itu adalah suatu kebanggaan tersendiri dan memberikan semangat bagi masyarakat setempat. Dengan penuh harap, ke depan PT BSI ini bisa memproduksi ikan sebanyak-banyaknya sepanjang masa tidak hanya sampai 30 tahun tapi selamanya,” ungkap Rasyidi di hadapan Jenderal Owner PT. BSI Jerry Knechet asal Amerika.

Dalam kesempatan ini juga kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Ir. H. Lalu Hamdi mengungkapkan bahwa beroperasinya PT BSI ini sudah lama dinantikan karena menurutnya investor asal Amerika ini merupakan salah satu pemacu terhadap percepatan pembangunan SAMOTA, dimana SAMOTA merupakan kawasan strategis pemerintah provinsi NTB dan  pemerintah pusat pun menjadikan kawasan ini sebagai kawasan strategis nasional.

Kenapa ini penting dan BSI mengambil kawasan ini sebagai tempat pengolahan ikan berkelas dunia, karena teluk santong ini adalah kawasan perairan yang tingkat penghasilan ikannya bisa mencapai 170 ton pertahun dan didalam perairan teluk saleh bisa menghasilkan sebanyak 36.000 ton pertahun termasuk di dalamnya 7.000 ton ikan kakap dan kerapu. Tentu saja ini menjadi peluang yang besar untuk PT BSI bisa berkembang sebagai perusahaan yang bisa mengekspor produk perikanan pertama dari NTB ke tingkat dunia.

Saat ini juga masyarakat sekitar perairan Teluk Santong juga sudah bisa menangkap jenis ikan tuna dan cakalan, dengan itu tentunya PT. BSI tidak hanya mengekspor ikan kakap dan tuna tetapi juga bisa beberapa jenis ikan lainnya.

“Jumlah nelayan di sekitar Teluk Saleh ini sekitar 3800 orang. Jadi dengan adanya PT BSI hasil nelayan bisa lebih mudah proses penjualanya tidak harus mengirim hasil tangkapannya ke Bima atau Lombok dengan proses panjang tapi langsung di satu tempat sehingga antara nelayan dan PT BSI dapat saling menguntungkan,” ujarnya. (Naniek I. Taufan)

Paling Populer

To Top