Sudut Pandang

Memberi dengan Ikhlas

Desak satya pusparini, Christiana Goh, Pertamawati

Banyak cara orang untuk mewujudkan rasa bahagia. Bagi Christiana Goh, cara sederhana untuk bahagia, dengan cara berterimakasih dan mensyukuri apa yang sudah didapat karena dengan itu kita bisa merasa lebih bahagia dan tidak menuntut.

“Saya dulu merasa banyak sekali kesalahan dalam hubungan dengan orangtua. Komunikasi kami sangat kurang bagus. Saya sering marah dan bertengkar  dengan orangtua.  Setelah saya belajar di vihara, saya mengerti. Ketika ada rasa syukur  dan berterimakasih, saya merasa bahagia,” ujar Executive Secretary & Public Relations Swiss-bel Hotel Petitenget ini.

Kini, setelah banyak bersyukur,  ia merasakan hubungannya mulai membaik dengan orangtua. Bahkan, dengan kondisi yang berjauhan, dia tinggal  di Bali dan orangtuanya  tinggal di Medan, Tiana, begitu ia akrab disapa, mengaku  sering kangen dengan orangtuanya. Apalagi, kata dia, saat  Tahun Baru Imlek ia tidak bisa pulang ke Medan karena harus bekerja.

“Saya bisa belajar bersama kasih dan mensyukuri mempunyai orangtua yang meskipun memiliki berbagai kekurangan tapi saya bisa bahagia karena selalu  belajar banyak dari vihara. Saya tidak lagi menuntut apapun. Saya bahagia masih memiliki orangtua, papa dan mama. Makanya saya selalu aktif di kegiatan keagamaan agar saya terus mendapatkan siraman rohani,” kata Tiana.

Lain lagi penuturan  ibu rumahtangga, Desak  Satya  Pusparini.  Menurutnya, makan enak di  restoran mewah atau jalan-jalan ke luar negeri itu  sesuatu yang membuat kita senang, tapi bahaga menurutnya, lebih dari itu. “Coba bandingkan rasanya dengan kita masak sendiri di rumah, terus anak-anak dan suami makan masakan kita dengan lahap apalagi sampai nambah,” tuturnya.

Begitu juga,  kata dia, saat kita memberi barang ke orang lain yang ternyata pemberian  kita itu sangat dia perlukan.  “Memberi atau melakukan sesuatu dengan ikhlas itu sudah membuat bahagia apalagi  ternyata pemberian kita membuat orang lain bahagia, itu bonusnya,” imbuhnya.

 

MAKAN TERATUR

Sedangkan, bagi Putu Setiawati, bahagia tak melulu soal besar. Bahagia, menurutnya, harus dimulai dari hal kecil. Ia sendiri mencontohkan dirinya. Ia sangat bahagia jika bisa makan teratur dan tidur yang cukup setiap hari. Selama ini, karena pekerjaan, urusan makan dan tidur sering menjadi masalah. Jika ia bisa makan teratur dan tidur nyenyak setiap hari, ia sangat bahagia. Saking bahagianya, ia akan selalu merayakannya dengan sekadar berbagi dengan orang lain, misalnya memberi uang parkir lebih atau memberi sedekah kepada`pengemis yang lewat.

Menurutnya, ketika kebahagiaan kecil sudah bisa kita rasakan, tentu kita akan dengan mudah merasakan kebahagiaan yang besar. “Bagaimana kita bisa merasakan bahagia yang besar jika urusan kecil saja kita tidak pernah bahagia,” kata Setiawati. Ia sangat yakin, jika kebahagiaan kecil sudah kita rasakan, tiap hari akan selalu  datang kebahagiaan kepada kita.

Sedangkan menurut Ni Putu Pertamawati,SE,MM.,  setiap orang yang hidup di dunia ini tentunya ingin hidup bahagia. Namun, beberapa orang memiliki tantangan sangat besar untuk mencapai kebahagiaan. Ada sebagian orang yang menyatakan, sesuatu hal yang berhubungan dengan kebahagiaan seperti hari jadian, hari pernikahan, bisa berkumpul dengan keluarga, Ada sebagian orang mendambakan kehidupan mewah sebagai takaran bahagia. Mereka ini berpikir bahagia itu memiliki rumah mewah dimana mana, punya mobil banyak, punya bisnis dan lain-lain. Orang yang demikian, akan sulit mencapai kebahagiannya karena untuk bisa mencapai kemewahan tersebut diperlukan kerja keras dan sangatlah sulit. “Menurut saya, kebahagiaan itu adalah sebuah tanda untuk jiwa. Kita orang beragama, maka lakukanlah apa yang benar sesuai dengan norma agama yang harus kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini seperti “Tri Kaya Parisuda”, yaitu berpikir yang baik, berkata baik, dan bertindak yang baik dan benar. Jadi kebahagiaan itu tanda kita melakukan yang baik dan benar, berbagi dengan sesama ciptaan Tuhan dan menjalin hubungan harmonis,” ujar Wakil Rektor II Universitas Warmadewa ini.

Menurutnya, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan setiap hari adalah selalu bersyukur, atas hal-hal yang kecil tapi sebenarnya besar yang sering kita lupakan karena kita anggap wajar, seperti : berterima kasih telah diberikan kehidupan, berterima kasih atas oksigen yang tanpanya kita tidak bisa bernapas, mensyukuri apa yang kita miliki (peroleh) dan sebagainya.  “Apa yang kita terima ini adalah pemberian dan perwujudan kasih sayang Tuhan pada umatNya. Sederhana (hidup apa adanya), tidak berpura-pura. Menjadi orang yang sederhana, tidak mengikuti gaya hidup tapi untuk hidup lebih bahagia karena tidak membutuhkan banyak hal dalam hidup ini. Kebahagiaan bukan datang dari hal besar, mewah dan mahal tetapi dari hal kecil dan sederhana.

Tersenyum adalah ibadah,” kata Pertamawati.

Ia menyakini, orang yang tersenyum mencirikan orang tersebut memiliki rasa bahagia dan senang. Tersenyum pada setiap hal yang dihadapi, tersenyum untuk setiap rezeki yang didapat berapapun jumlahnya dan lainnya. Karena dengan tersenyum akan menambah ion positif untuk tubuh kita menjadi lebih baik dan sehat.

Ia berpendapat, bahagia itu kita sendiri yang menciptakan bukan orang lain. Pengaruh-pengaruh eksternal jauh lebih kecil dibandingkan pengaruh dari diri kita sendiri untuk mencapai kebahagiaan. “Kita ingin bahagia atau tidak bahagia ditentukan pikiran dan perilaku kita. Berpikir selalu bahagia akan menentukan kebahagiaan di masa mendatang. Kekuatan pikiran adalah anugerah terbesar dari Tuhan yang diberikan kepada manusia. Bahagia itu mudah, dengan berpikir dan bertindak sederhana atau benar,” ucapnya.  (Wirati Astiti)

Paling Populer

To Top