Kolom

Belajar Sepanjang Hayat

I Gusti Ayu Suasthi

Sesuai dengan yang diprogramkan UNESCO, Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang membidangi masalah pendidikan telah memprogramkan life long learning (pembelajaran sepanjang hayat). Pembelajaran sepanjang hayat atau belajar seumur hidup sudah dimulai sejak manusia dilahirkan sampai meninggal dunia.

Pendidikan seumur hidup artinya proses belajar yang bersifat holistik yaitu belajar segala hal yang tujuannya untuk penyempurnaan hidup. Menurut Sulo (2005:243), dunia ini adalah buku yang paling besar dan paling lengkap yang tidak akan bisa kaji untuk dipahami dan diambil manfaat sepanjang hayat.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa hidup ini sebenarnya merupakan sebuah pelajaran, interaksi manusia dengan sesama dan dengan alam lingkungan merupakan bahan ajar (pelajaran) yang paling berkesan dan berarti. Karena itu belajar sudah dimulai dari dalam keluarga, di dalam keluarga berlangsung proses dengan mengambil porsi pendidikan yang paling besar, disebut pendidikan informal. Setelah itu baru memasuki pendidikan formal mulai TK, SD, SMP, SMA, dan PT dengan waktu yang sangat terbatas dibandingkan waktu dengan keluarga dan masyarakat.

Di dalam keluarga dan masyarakat para individu mendapat kesempatan untuk mengaplikasikan teori dan keterampilan yang didapat dari sekolah. Di lingkungan masyarakat terkecil seperti banjar (di Bali) individu akan berinteraksi dengan berbagai karakter dan beraneka macam rupa kepentingan dan latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi. Oleh karena itu individu bisa belajar sesuatu yang sedang aktual di masyarakat, bisa melalui berbagai sumber informasi sebagai bahan belajar.

Kearifan lokal yang berbentuk lagu daerah (Bali) yang menggambarkan bahwa tidak habis-habisnya individu selalu belajar, seperti sebagai berikut.

Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin, geginane buka nyampat, anak sai tumbuh luhu, ilang luhu ebuke katah, yadin ririh, enu liu pelajahin.

Artinya

Jangan menganggap diri sudah bisa, biarkan orang lain yang menilai, sama seperti halnya menyapu, sampah selalu ada setiap saat, sampah sudah dibersihkan tetapi debunya masih tersisa, walaupun sudah pintar, masih banyak hal yang perlu dipelajari.

Makna lagu diatas memberikan pesan moral, bahwa dalam menjalani kehidupan manusia seharusnya tidak merasa cepat puas dengan hasil belajar yang diperoleh di jenjang pendidikan formal, karena belajar di lingkungan masyarakat masih banyak yang perlu diambil hikmah dari setiap kegiatan atau kejadian. Hal ini sejalan dengan yang disebut etnic learning yaitu belajar bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, mulai dalam keluarga, ditempat kerja, di masyarakat. Seperti kata–kata bijak menyatakan bahwa “kita belajar sebelum mengikuti ujian sekolah, sedangkan dalam perjalanan hidup kita belajar setelah mendapatkan ujian hidup”.

Oleh karena itu, strategi pembangunan Bali diawali dengan membangun semangat manusia Bali untuk selalu belajar dan memahami tentang perlunya menjaga kelestarian Bali yang berbasis Tri Hita Karana. Bali memiliki semangat Tri Hita Karana yang harus dipelihara dengan prinsip Green Building, yaitu bangunan yang ramah lingkungan, bangunan harus memenuhi kaedah hijau atau menyisakan lahan/area terbuka hijau, dan ada konservasi lingkungan di dalamnya, sehingga membuat manusia Bali lebih sehat, lebih semangat, lebih produktif dan harmoni.

Ideologi Tri Hita Karana memiliki unsur jiwa, raga atau angga sarira, dan tenaga atau prana yang integral sistemik, memiliki keterkaitan satu sama lain dan sebuah kemanunggalan untuk mencapai kebahagian. Dalam diri manusia jiwa atau atman adalah unsur parhyangan, prana (sabda, bayu, idep) adalah unsur pawongan, dan badan atau tubuh berfungsi sebagai palemahan.

 

I Gusti Ayu Suasthi

Dosen Psikologi Agama FPAS

Unhi Denpasar

Paling Populer

To Top