Kolom

DR. HC

Bu Amat nguping. Suaminya sedang mendengarkan dengan serius curhat sahabat lamanya yang mendadak muncul dan memaksa didengarkan.
“Amat, di akhir 2016 ketika mendapat pertanyaan dari Prof Yudi, apakah aku bersedia menerima kalau diberikan doktor honoris causa? Aku langsung menyatakan ya dengan rasa haru dan hormat atas hadiah dari langit itu. Tak pernah terbayangkan setelah  bangkotan aku akan jadi doktor tanpa jungkir balik belajar.”
“Aku putus sekolah setelah SMA, bukan karena badung. Tapi untuk bekerja mencari biaya supaya adik-adikku tidak putus sekolah.Tapi apa lacur, semua adikku  akhirnya menirukan alasanku, berhenti sekolah untuk berkorban demi adik-adiknya.”
“Akhirnya tak seorang pun di antara kami, 7 bersaudara, yang punya embel-embel gelar di depan atau pun di  belakang nama kami. Itu membuat orang tua kami malu. Lantaran para tetangga dan saudara-saudaranya semua punya koleksi gelar.”
“Ada keponakan bapak punya tiga gelar. Yang lain rata-rata dua gelar. Sebenarnya siapa pun tak ada yang secara sengaja mau mengejek bapak. Dia saja yang merasa dirinya hina, karena anaknya tak ada yang punya gelar.”
Tetapi meskipun tak ada di antara kami yang bergelar, semua kami punya kehidupan yang layak. Bahkan kami memiliki karyawan atau rekanan kerja sarjana produk mancanegara. Namun itu tidak mampu mengubah kerak kecewa di air muka orang tua. Bahkan ketika aku mencoba memperbaiki wajahnya dengan hadiah dari langit yang kudapatkan, dia nampak begitu sinis.”
“Apa yang membuatmu bahagia dengan hadiah doktor palsu yang diberikan kepadamu karena kasihan melihat pengabdianmu yang tak pernah surut, kata beliau. Aku kecewa kau kok berani menerimanya, lanjut beliau yang membuatku jadi bingung. Apa yang harus aku lakukan, Mat? Haruskah aku mengembalikan hadiah terhormat itu?”
Amat tak bisa menjawab. Apalagi kawannya yang bertanya itu, seperti tak memerlukan jawaban Amat, karena dia terus bicara.
“Kalau seandainya kukembalikan, apa alasanku? Haruskah aku katakan bahwa kami sudah sanggup bukan saja hadir, tapi berarti, tanpa gelar. Kalau sudah begitu, untuk apa lagi gelar?”
“Tapi apakah berarti itu cukup ditandai dengan berkehidupan yang layak? Tapi kalau ya, mengapa Bapak kami nampak tidak bahagia, padahal kami ke-7 anaknya semua hidup bukan saja layak tapi juga sedikit lebih baik dari rata-rata mereka penghuni hunian kelas menengah yang kami huni?”
“Mungkinkah sebetulnya ada masalah lain yang mengganggu pikiran bapak kami? Karena secara praktis, gelar adalah tiket untuk dapat pekerjaan atau kenaikan pangkat. Gelar bukan lagi penanda kepintaran atau keistimewaan, karena asal punya biaya dan ambisi merebut gelar, lambat laun pasti akan bisa digondol. Jadi sebenarnya rasa malu tak punya gelar atau bangga bisa koleksi gelar itu, sudah kuno alias old fashion! Ya, kan, Mat?”
Amat yang tak punya gelar nyengir, seperti membantah.
“Aku tahu kau tak setuju, karena kau tak punya gelar. Aku juga pernah punya perasaan begitu. Baru sekarang, aku seperti dibebaskan dari perasaan bahwa ada yang kurang dalam diriku. Karena setelah dijatuhi hadiah dari langit itu, aku punya kebanggaan. Tapi aku hanya satu dari 7 anak bapak! Masih kurang cukup!”
“Kesimpulanku, bapakku sedih bahkan lebih sedih dari sebelumnya. Karen hanya satu anaknya punya gelar, walau pun gelar palsu. Enam anaknya yang lain jadi jatuh merek. Itu berarti hadiah dari langit itu mestinya aku tolak sebelum aku keblinger menerimanya. Kalau sesudah kuterima baru kutolak hanya akan menjelaskan kepribadianku yang lemah!”
“Terus-terang saja, Mat! Sebagai teman, kasih aku opini spontan. Apakah kepribadianku lemah?”
Bu Amat sudah mengurut dada senang, sebab suaminya tidak menjawab. Tapi sekali ini Amat seperti mau mengatakan: ya, kepribadianmu bukan saja lemah tapi sangat lemah.
Tapi untunglah orang itu cepat menyambung.
“Tapi Mat, aku sudah memutuskan, hadiah dari langit itu tidak akan aku kembalikan, karena aku sudah terlanjur  menerimanya. Wajah bapakku kusut, itu urusan dia. DR HC ini aku terima dengan segala risikonya!”
Lalu tamu itu berdiri. Ia mengulurkan tangan sambil berbisik.
“Terima kasih, Mat!”
“Terima kasih?”
“Terima kasih karena kau sudah mau mendengarkan dan tidak menjawab. Terima kasih karena sudah tak menjawab. Kau seorang sahabat sejati!”
Sahabat itu memeluk Amat, lalu pergi. Amat bengong. Bu Amat lalu masuk.
“Saya nguping tadi, Pak. Siapa orang itu?”
“Orang Jakarta.Teman lama sekali.”
“Jadi dia dapat penghargaan doktor honoris causa tapi orang tuanya tidak senang, karena menganggap itu gelar palsu dan menyuruh dia menolak, tapi dia sudah memutuskan menerima. Begitu?”
“Tidak!”
“Tidak?’
“Ya! Dia hanya ingin ngomong, asal ngomong didengarkan dan tidak dijawab. Sesuatu yang mulai sulit di Jakarta.

Paling Populer

To Top