Kolom

Phubbing

Drs. Drajat Wibawa, M.Si.

Dari sekian banyak istilah zaman now di media sosial yang akrab di kalangan anak muda, istilah “phubbing” masih jarang terdengar atau dipergunakan dalam percakapan media sosial. Setidaknya masih kalah dengan istilah yang lebih dulu ngepop seperti “kepo”, “kudet”, “cu”, “omg”, “stalking/stalker” dan sebagainya.

Menurut Wikipedia, phubbing adalah istilah yang diperkenalkan oleh kamus Macquairie untuk menyebut kebiasaan seseorang yang mengabaikan lingkungan dengan bersibuk diri dengan smartphone. Berbeda dengan banyak istilah dalam media sosial yang merujuk pada aktivitas seseorang di dalam dunia medsos, istilah phubbing dipergunakan untuk menyebut kecenderungan terciptanya jarak sosial yang digantikan dengan interaksi secara virtual.
Dalam salah satu artikelnya, BBC Indonesia menyebutkan setidaknya ada tiga milliar orang, atau sekitar 40% populasi dunia, menggunakan media sosial dan rata rata setiap pengguna medsos menghabiskan waktu dua jam setiap hari untuk membagikan, menyukai, menulis cuitan dan memperbaharui perangkat ini.
Realitas yang terjadi dewasa ini memang mengarah pada dominasi komunikasi virtual dalam kehidupan manusia. Keranjingan terhadap medsos yang diakses melalui gawai atau smartphone sudah sedemikian parah, sehingga mungkin orang akan rela tidak sarapan atau melakukan aktivitas lain daripada kehilangan waktu untuk beraktivitas di medsos.

 

Perkembangan Teknologi Komunikasi, Apakah Salah ?

Pertanyaan tersebut dengan cepat dan mudah akan dijawab dengan kata “tentu tidak”. Benar, teknologi yang diciptakan untuk mempermudah hidup manusia tidak salah. Bukankah berkomunikasi dengan kerabat dan teman di zaman now jauh lebih mudah ketimbang komunikasi dengan teknologi 10 tahun yang lalu. Setiap pertanyaan apapun di zaman now mudah mencari jawabannya semudah jari-jari menari di atas mini qwerty-keyboard. Demikian pula ketika kita mencari kuliner favorit ketika sedang berada di suatu kota. Tersesat di tempat baru bukan hal menakutkan lagi karena peta elektronik yang ada dalam gawai akan cepat membantu menunjukkan arah dengan presisi tinggi.

Media sosial merupakan salah satu produk teknologi informasi yang memungkinkan orang untuk tidak saja berinteraksi satu sama lain tetapi juga memberi ruang individu untuk mengekspresikan diri secara leluasa. Jika dalam tataran peran teknologi dalam mempermudah komunikasi hanya berdampak pada orang semakin mager alias malas gerak, maka ruang ekspresi diri yang terbuka melalui medsos sudah menyentuh beberapa tingkatan kebutuhan dasar individu (Maslow) khususnya kebutuhan akan kasih sayang (love and belonging needs) dan kebutuhan atas penghargaan (self esteem needs) serta kebutuhan akan kekuasaan (penguasaan) atau need for power (nPow) dalam konsep teori David McClelland.

Itulah sebabnya mengapa perkembangan dunia medsos bisa sedemikian pesat dan semakin menguasai kehidupan si pemilik akun medsos. Disinilah letak dari permasalahan yang memunculkan fenomena phubbing. Satu satunya instrumen sosial yang dapat membendung kecenderungan “pengasingan diri” ini adalah kontrol sosial yang perlu untuk dikedepankan dalam berbagai interaksi sosial.

Kebutuhan tatap muka hakekatnya tidak dapat digantikan dengan interaksi virtual. Ekspresi emosi dapat berbahaya dan berdampak kesalahpahaman ketika diungkapkan secara virtual melalui medsos. Gerakan sosial untuk menyadarkan, membatasi aktivitas medsos dan mengedepankan interaksi sosial harus terus dilakukan untuk mengerem kecenderungan phubbing.

 

Drs. Drajat Wibawa, M.Si.

Pengamat Sosial/Security Risk Management, United Nation

Paling Populer

To Top