Bugar

Dampak Diet Ketogenik

Beberapa dampak yang ditimbulkan ketika melakukan diet ketogenik dalam jangka panjang adalah gangguan keseimbangan hormon. “Perubahan pada jumlah asupan karbohidrat sangat berpengaruh pada keseimbangan hormon, salah satunya yaitu hormon kortisol. Saat tubuh sangat sedikit mengonsumsi karbohidrat, maka kadar kortisol akan meningkat. Hormon kortisol sendiri berhubungan erat dengan stres,” kata Ida Ayu Eka Padmiari.

Kadar kortisol yang tinggi di dalam tubuh juga dapat mengacaukan sistem hormon lainnya, terutama pada perempuan yaitu hormon esterogen. Hal ini akan menimbulkan berbagai masalah serius seperti peuaan dini, gangguan menstruasi, infertilitas, menopause dini, menurunkan mood, serta dapat pula menyebabkan peningkatkan berat badan tanpa diketahui mekanismenya.

Selain itu, diet ketogenik bisa juga menimbulkan  gangguan metabolisme tubuh. Tingginya jumlah asupan lemak yang harus dikonsumsi kadang membuat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Yang terjadi malah melupakan inti dari diet ini yaitu tinggi lemak, sedangkan yang dikonsumsi hanyalah rendah karbohidrat, protein sedang,  dan lemak sedang. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme tubuh yang berujung pada gangguan fungsi hormon juga. Selain itu, diet ketogenik dapat menimbulkan gangguan emosional. Perubahan drastis pada pola makan dapat mengganggu pengaturan emosi dari pelaku diet ketogenik. Pemilihan jenis makanan yang ketat, terkadang membuat mereka sendiri tidak dapat sepenuhnya menikmati makanan yang mereka konsumsi.

Padmiari menyarankan, waktu menerapkan diet ini, asupan karbohidrat tetap harus terjaga dengan mengkonsumsi karbohidrat kompleks.  Makanan yang tinggi karbohidrat harus dibatasi.

Daftar makanan yang harus dikurangi atau dihilangkan pada diet ketogenik sebagai berikut:

  • Makanan bergula: soda, jus buah, smoothie, cake, es krim, permen dan lain-lain.
  • Produk berbahan gandum, nasi, pasta, sereal dan lain-lain.
  • Semua buah, kecuali sedikit beri-berian seperti stroberi.
  • Kacang polong, kacang merah, lentil, buncis dan lain-lain.
  • Sayuran akar-akaran atau umbi-umbian: kentang, ubi jalar, wortel, lobak dan lain-lain.
  • Produk rendah lemak atau produk diet : karena diproses terlalu lama dan seringkali tinggi karbohidrat.
  • Beberapa bumbu atau saus: biasanya banyak mengandung gula dan lemak tak sehat.
  • Batasi konsumsi minyak nabati olahan, mayones dan lain-lain.
  • Makanan diet bebas gula: hal ini sering terdapat pada gula alkohol, yang dapat memperngaruhi kadar keton pada beberapa kasus. Makanan tersebut cenderung merupakan makanan olahan tinggi.
  • Daging merah, steak, ham, sausage, bacon, ayam dan kalkun.
  • Lemak ikan: seperti salmon, ikan foral, tuna dan ikan kembung.
  • Telur: carilah telur dari binatang yang merumput (misalnya telur ayam kampung) atau mengandung omega 3.
  • Butter dan krim
  • Keju yang belum diolah (cheddar, kambing, krim, biru atau mozzarella).
  • Kacang-kacangan atau biji-bijian: almond, walnut, biji rami, biji labu, biji chia dan lain-lain.
  • Minyak zaitun asli, minyak kelapa dan minyak avokad.
  • Avokad segar atau yang baru dibuat guacamole.
  • Sebagian besar sayuran hijau, tomat, bawang putih, paprika dan lain-lain.
  • Bumbu, bisa menggunakan garam, merica dan berbagai macam bumbu sehat dan rempah.

Menurutnya,  diet ketogenik tidak dapat dikatakan sebuah metode diet yang baik maupun buruk. “Baik atau buruknya suatu diet, ditentukan dari bagaimana adaptasi, kesesuaian dan kenyamanan tubuh saat melakukannya,” ujarnya. Oleh karena itu, telitilah sebelum memilih metode diet yang sesuai dengan kondisi tubuh dan tujuan diet. Anjuran yang paling baik untuk diet adalah menerapkan gizi seimbang. (Wirati Astiti)

Paling Populer

To Top