Buleleng

Tergerus Zaman, Dokar Terancam Punah

Dokar pernah menjadi alat transportasi yang cukup populer dimasyarakat Buleleng di era tahun 70-an. Ramainya masyarakat yang memanfaatkan jasa dokar sebagai alat transportasi dikarenakan belum banyaknya alat transportasi modern seperti saat ini. Bahkan kala itu, jumlah dokar cukup banyak hingga mencapai puluhan.

Namun seiring perkembangan zaman dan membajirnya alat transportasi menggunakan tenaga mesin seperti motor dan mobil, serta mudahnya kepemilikan kedua alat transportasi modern ini membuat keberadaan alat transportasi yang menggunakan tenaga kuda ini kian terpinggirkan.

            Saat ini jumlah dokar yang masih beroperasi di bumi Panji Sakti ini bisa dihitung dengan jari. Nengah Bontoan (60), salah seorang kusir dokar yang beroperasi di wilayah Kota Singaraja mengatakan bahwa sampai saat ini jumlah dokar yang biasanya mangkal di Pasar Anyar hanya berjumlah 6 unit. Itupun rata-rata dokar dengan usia yang sudah udzur. Menurunnya jumlah dokar di Buleleng menurutnya seiring dengan sepinya jumlah penumpang yang menggunakan jasa dokar sebagai alat transportasi.

Di tengah sepinya penumpang, Bontoan yang berasal dari desa Jinengdalem ini mengaku masih tetap bertahan menjadi kusir dokar karena hobi. Setiap pagi dari pukul 06.00 hingga 10.00 dirinya selalu stand by di pangkalan untuk mencari penunmpang. Dengan penghasilan 20 ribu hingga 50 ribu per hari dirinya tak pernah mengeluh. Bahkan untuk tetap menyambung hidup, usai menarik dokar dirinya juga mengambil kerja sampingan sebagai peternak sapi di desanya. “Sehabis dari narik biasanya dapet 20 atau 50 ribu saya di rumah nganggon sampi,” ungkapnya.

Bontoan menambahkan, biasanya  yang sering menggunakan dokar adalah ibu-ibu yang berbelanja ke pasar. Itupun jumlahnya tidak seberapa, sebab ibu-ibu lebih banyak menggunakan sepeda motornya. Bahkan beberapa orang menggunakan dokar hanya untuk menghilangkan rasa penasarannya. “Ya kadang-kadang di anter sampai pulang, tetapi ada juga yang naik dokar hanya karena iseng,” jelasnya.

Selama ini Bontoan hanya melayani penumpang diseputaran kota saja. Dengan tarif 20 ribu rupiah penumpang dapat menikmati sensasi medokaran  keliling kota Singaraja. Selain untuk mengantarkan penumpang, dokar milik Bontoan juga sering di sewa untuk acara pernikahan. “Ya kalau ada acara seperti pernikahan sewanya bisa sampai jutaan tergantung jauh dekat jaraknya. Tetapi biaya transport untuk mengangkut dokar ke tempat acara juga besar,” jelasnya.

Meskipun sudah hampir punah, Bontoan berharap ada perhatian pemerintah untuk tetap melestarikan dokar sebagai alat transportasi tradisional. Dulu, ketika jumlahnya mencapai 60 unit, pemerintah selalu memberikan bantuan berupa perbaikan-perbaikan dan penyeragaman dokar sehingga antara dokar yang satu dan yang lain terlihat sama. “Dulu memang mendapat perhatian, tetapi sekarang karena jumlahnya sedikit maka tidak ada lagi bantuan,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

 

 

Paling Populer

To Top