Metropolitan

Pulau Sarat Jejak Sejarah

Pulau Bidadari berdekatan dengan Pulau Onrust yang sempat menjadi pelabuhan sibuk pada zaman Belanda. Konon nama Onrust diambil dari bahasa Belanda yang artinya ‘tidak pernah beristirahat’.

Mungkin ini karena pada masa itu Onrust adalah pulau yang sangat sibuk. Ya maklum saja pelabuhan. Namun, ada juga yang menyebut nama Onrust berasal dari nama penghuni  awal pulau itu yakni seorang Belanda bernama ‘Baas Onrust Cornelis van der Walck’. Entah mana yang benar. Namun, yang pasti begitu menginjakkan kaki ke sana, siap-siaplah bulu kuduk merinding karena suasananya yang suram. Mungkin karena selain di sana banyak peninggalan zaman kolonial juga ada kompleks pemakanan kuno.

Onrust memang pulau istimewa dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia, Jakarta khususnya. Setelah tidak lagi menjadi pelabuhan, Onrust sempat difungsikan sebagai sanatorium TBC kemudian menjadi tempat karantina haji  selama 22 tahun (1911-1933).

Karena pada masa lalu, orang berangkat haji menggunakan kapal laut yang tentunya memakan waktu perjalanan sangat lama. Nah untuk membiasakan para calon haji itu pada perjalanan laut, mereka pun di karantina di Onrust.

Setelah tidak lagi menjadi tempat karantina haji, Onrust pun berubah menjadi tempat penampungan yang terkena penyakit menular seperti kusta, dll,  juga pengemis dan gelandangan pada tahun 1960-an. Setelah itu Onrust pun terbengkalai, dibiarkan sunyi dan tak terurus.

Barulah pada masa Gubernur Ali Sadikin dibuat penetapan bahwa Pulau Onrust, Pulau Bidadari, Kelor, Cipir dan Edam sebagai daerah Suaka Taman Purbakala Kepulauan Seribu. Sampai sekarang masih berdiri rumah dinas dokter Belanda yang kemudian dijadikan museum. Selain banyak peninggalan benda-benda  masa kolonial Belanda, di sana juga konon terdapat makam dari pemimpin pemberontak DI/TII, Kartosoewirjo.

Terkait makam ini, masih simpang-siur, apakah benar itu makan Kartosuwirjo yang dieksekusi mati oleh pemerintah pada tahun 1962 di Pulau Ubi. Konon, di Pulau Ubi itu lah Kartosuwirjo dimakamkan. Namun, sebelum pulau tersebut tenggelam tahun 1980-an, makam itu—katanya—dipindahkan ke Pulau Onrust. Tidak ada penjelasan resmi tentang itu. Para peziarah yang datang, termasuk keluarga Kartosuwirjo berusaha meyakini itulah makam tokoh keluarga mereka.

Kembali soal Pulau Bidadari. Seperti halnya Onrust, Pulau Bidadari pun di masa lalu menjadi benteng Belanda. Sampai sekarang sisa-sisa bangunan benteng bernama ‘Mastello’ itu masih bisa dilihat. Konon benteng ini berfungsi sebagai tempat pengintai musuh. Di sana juga ada ruang bawah tanah untuk menyimpan senjata cadangan Belanda.

Dengan berbagai temuan benda-benda peninggalan masa kolonial di sejumlah pulau di kawasan Kepulauan Seribu menjadi jelas bahwa selain menguasai daratan (Jakarta), Belanda (VOC) juga memfungsikan pulau-pulau di sekitarnya.

“Jadi nantinya pengunjung yang datang ke Pulau Bidadari tidak hanya menikmati suasana Betawi tempo dulu tapi juga ada pusat informasi tentang perjalanan Jakarta dari masa ke masa. Mulai Jakarta yang dulunya banyak rawa-rawa, hingga masuknya bangsa asing,” ungkap Paul Tehusijarana, Dirut PT PJA.

Untuk melihat perkembangan revitalisasi Pulau Bidadari, pekan lalu, Sandiaga Uno, Wakil Gubernur Jakarta, mengunjungi pulau tersebut sekaligus berkantor di sana. Kegiatan itu—berkunjung ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu dan berkantor di sana—merupakan agenda bulanan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Dalam rapat dengan para pemangku kepentingan terkait Kepulauan Seribu muncul banyak usulan, termasuk dari Sandiaga sendiri yang menginginkan adanya wisata kuliner di Pulau Bidadari, serta JakGrosir untuk menyedia kebutuhan sembako kawasan Kepulauan Seribu. Usulan lainnya adalah dibangun tempat penyewaan baju tradisional Betawi bagi pengunjung. Dengan demikian para pengunjung Pulau Bidadari juga bisa mengenakan busana Betawi tempo dulu.(Diana Runtu)

Paling Populer

To Top