Life Story

Rezeki Melebihi Ekspektasi

Sebuah foto keluarga yang tertawa bahagia terpajang di dinding rumah Trisna (49). Foto itu ia abadikan ketika berlibur di salah satu spot wisata pantai di Pulau Lombok tahun 2000, bersama suami dan dua anaknya. Dari gambar yang ada di foto tersebut, terlihat bahwa liburan yang mereka nikmati itu adalah liburan biasa bagi orang biasa karena tidak ada kemewahan yang terekam di foto itu selain pantai yang biasa–biasa saja.

Berbeda dengan foto lainnya yang memperlihatkan kebahagiaan mereka ketika berlibur di Singapura dengan latar belakang kemewahan hotel dan suasana di sekitarnya. Namun, kebahagiaan yang merekam di dalam foto tersebut berbanding terbalik dengan yang dirasakan Trisna kini.

Dua foto tersebut sengaja dipasang oleh Trisna untuk mengingatkannya bahwa ia memiliki keluarga yang berjalan tertatih-tatih untuk bisa meraih kesuksesan seperti hari ini. Satu foto yang memperlihatkan masa-masa sulit hidup mereka yang pergi liburan dengan membawa nasi bungkus dan dan satu foto lagi di masa menterengnya hidup mereka dengan fasilitas liburan berkelas.

“Saya sengaja memasang dua foto tersebut untuk selalu mengingatkan diri saya bahwa hidup saya hari ini tidak langsung menjadi seperti ini, melainkan saya pernah mengalami masa-masa sulit bersama suami dan anak-anak,” ujar Trisna.

Sesungguhnya pemasangan foto tersebut bukan semata-mata untuk mengingatkan dirinya melainkan lebih dari itu, juga untuk mengingatkan suaminya agar ia tidak lupa dengan pahit getirnya mereka merintis usaha yang kini menjadi sukses tersebut. “Saya ingin dia sadar dan mengingat kembali bahwa hidupnya di masa lalu tidak sebaik baik hari ini,” kata Trisna.

Beberapa saat Trisna terdiam memandangi foto-foto itu sembari mencoba tersenyum dan menceritakan satu persatu foto yang ada di dinding rumahnya. Tampak benar ia ingin mengalihkan perhatian dari rasa sedih yang tengah menderanya.

Trisna adalah pekerja yang ulet. Sebagai pengusaha properti dengan banyak usaha lainnya yang sukses meraih pundi-pundi uang, kehidupan Trisna diawali dari bawah. Siapa sangka sekitar 20 tahun yang lalu, Trisna hanyalah seorang pedagang kue yang menerima pesanan dari rumah ke rumah. Tiap hari ini berkeliling berjualan menggunakan sepeda motor tua. Keuletannya itu telah mengantarnya menjadi seorang pengusaha yang sukses melebihi ekspektasinya sendiri. “Saya tidak menyangka bahwa Allah SWT memberikan saya rezeki dengan begitu mudahnya,” kata Trisna.

Menurutnya, waktu itu sekitar tahun 2005 ia mendapatkan bagian warisan dari orangtuanya yang tidak seberapa namun membuatnya bisa membangun sebuah rumah. Kemudian rumah tersebut ia jual dan ia bangun lagi, lalu dijual lagi dan seterusnya hingga ia menemukan jalan usaha pertamanya itu. Lalu berlanjut merambah berbagai usaha lain dan akhirnya menjadi besar seperti sekarang. Uniknya usaha apa saja yang dicoba Trisna, sejauh ini menurutnya begitu mudah. Menyadari bahwa kemudahan-kemudahan itu diberikan oleh Allah SWT kepadanya itu juga sebagai ujian, Trisna tetap berada dalam kesadaran untuk tidak angkuh dan banyak berbagi. Karena itulah ia selalu mengingatkan dirinya bahwa semua harta tersebut hanyalah titipan sementara.

Tidak begitu dengan suaminya. “Setelah kehidupan kami membaik, ia bertingkah,” ujar Trisna. Padahal sesungguhnya kesuksesan usaha mereka ini tidak banyak campur tangan suaminya melainkan ini adalah usaha Trisna. Suaminya malah lebih banyak menghabiskan uang untuk berfoya-foya. Uang Trisna memang banyak sehingga rasanya tidak habis jika pun suaminya sering berfoya-foya. Herannya meski suaminya seperti itu, Trisna yang berparas cantik itu masih mencintainya. Ia lalu mengungkapkan bahwa ia tidak pernah lupa bagaimana ketika suaminya pernah sangat terpuruk akibat kecelakaan yang dialaminya ketika mereka masih hidup apa adanya.

Kecelakaan itu membuat wajah suaminya menjadi buruk karena tidak simetris. Namun, ia tetap merawat dan mencintai suaminya itu sambil terus bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Itulah masa dimana Trisna merasakan beban hidup yang demikian berat. Suaminya yang sakit berada dalam situasi seperti depresi sehingga tidak lagi bekerja. Tetapi semua itu dijalani Trisna dengan sabar dan ikhlas dengan terus merawat suaminya. Hingga ketika usahanya sukses Trisna membawa suaminya untuk melakukan operasi plastik ke luar negeri demi mengembalikan wajah suaminya, setidaknya direkonstruksi agar simetris. Meski tidak sempurna, setidaknya operasi yang berulang-ulang itu telah berhasil mengembalikan sebagian dari ketampanan suaminya itu.

“Sejak itulah suami saya mulai bergaya,” katanya. Wajah yang lumayan  dan uang yang banyak membuatnya lupa diri. Trisna mengungkapkan, memiliki uang yang banyak, membuat  suaminya itu gemar keluar malam. Ke tempat-tempat hiburan malam menjadi hobi barunya. Pulang mabok dan perempuan di mana-mana. Menghadapi situasi tersebut, Trisna temasuk perempuan yang bijaksana dan tabah menghadapi cobaan.

Meski dari segi materi ia hidup berlebihan, ia tetap setia pada suaminya meski suaminya itu menyakitinya. Ia berpikir untuk mengikuti kemauan suaminya agar ia tidak melirik wanita lain yang ditemuinya di tempat-tempat hiburan di Jakarta. Ia mengikuti selera suaminya, dari caranya berpakaian hingga mengikuti gayanya yang suka ke klub malam. Ia rela melakukan semua itu agar suaminya tidak jatuh hati pada perempuan lain. “Saya lakukan semua hal, menjadi perempuan yang diinginkan oleh suami saya agar ia tidak jatuh ke perempuan lain,” katanya.

 

BERTAHAN DEMI ANAK

Modal uang banyak milik istrinya, membuat suami Trisna gelap mata. Trisna yang punya kesibukan yang tinggi, juga tidak setiap waktu bisa mendampingi suaminya ini. Hingga akhirnya terbukti suaminya memang memiliki perempuan lain. Kehidupan rumah tangga mereka mulai terguncang. Hari-hari mereka hanya diisi dengan pertengkaran demi pertengkaran. Suaminya itu bahkan juga kerap memukulinya. “Orang melihat saya bahagia karena saya tertawa-tawa saja, mereka tidak tahu betapa saya menderita,” katanya sambil mengusap air matanya.

Trisna terus bertahan dalam situasi itu hanya karena anak-anaknya. “Saya kasihan pada anak-anak saya yang selalu meminta kami untuk tidak bercerai,” ujar Trisna. Entah mengapa pula, Trisna merasa masih mencintai suaminya itu. Padahal ia punya segalanya. Ia cantik, ia juga berkelas dan terutama lagi memiliki banyak uang. Jika ia ingin membuang suaminya itu, cukup mudah baginya. Namun ia tidak melakukan itu karena anak-anaknya. Rupanya tidak hanya soal anak-anak yang menjadi pikiran Trisna, ia juga masih mengingat ketika suaminya itu berada dalam kondisi terpuruk akibat sakit dahulu. “Saya masih selalu ingat dan kasihan waktu kondisinya terpuruk dulu, itu yang membuat saya tidak tega melepaskannya,” ujarnya. Itulah yang membuat Trisna terus bertahan dalam kondisi seperti ini.

Beberapa kali anak-anak mereka yang kini sudah dewasa mengingatkan mereka agar  tidak bertengkar setiap hari. Trisna lalu mengajak suaminya sekali lagi untuk bicara baik-baik. Trisna mengungkapkan bahwa ia tidak ingin bercerai dari suaminya mengingat perjalanan hidup yang pahit 20-an tahun yang lalu telah mereka lalui bersama dan sukses. “Saya tidak ingin pahitnya bersama, ketika manis kami berpisah,” ujarnya. Kalimat ini rupanya membuat suaminya sadar. Keduanya urung berpisah dan sedikit demi sedikit suami Trisna mulai menyadari kesalahannya.

“Meski belum sepenuhnya kembali, tetapi saya merasa dan melihat suami saya mulai terus mengurangi prilaku buruknya itu,” katanya. Itu hal yang membahagiakan bagi Trisna, setidaknya kini mulai tenang menjalankan usahanya yang semakin sukses itu. Senyum tulus terlihat dari bibir Trisna yang berharap suaminya bisa menjadi seperti dulu, ketika mereka masih hidup susah. Karena ia ingin menikmati kesuksesan tersebut bersama suami dan anak-anaknya dalam kebahagiaan. “Saya berdoa agar suami saya kembali kepada saya dan anak saya seutuhnya,” ujarnya tersenyum. (Naniek I. Taufan)

Paling Populer

To Top