Kolom

KENTUT (1)

“Kita lupa, sebenarnya negeri kita ini, kaya-raya. Ada 17 ribu  pulau, 1100 bahasa lokal, 714 suku bangsa. Tak terhitung tradisi dan kearifan lokal. Kuliner maknyus yang tumpah-ruah. Bahan untuk kerja kreatif berlimpah dan beragam. Teater, tari, senirupa, musik, sastra yang seabrek-abrek. Jangan lupa hanya satu bahasa persatuan yang gemerincing tangkas mengalir indah dari Sabang hinga Meraoke. Begitu lebat, pekat semarak dan dahsyatnya sampai bagai gajah di pelupuk mata, justru ‘tak nampak’. Kita miskin karena terlalu kaya. Karena bukannya memanfaatkan yang ada, kita malah bermimpi yang lain, yang tak kita miliki. Karena yang tak ada memang cendrung lebih seksi. Baru kalau ada yang tercuri atau hilang, kita panik, marah, nyaris kalap dan kalang kabut. Hak cipta tempe sudah di tangan saudara tua, janganlah disusul batik, dll. Lalu di situ kita mulai bangkit, agak telat, tapi hasilnya masih konkrit. Batik kini keren banget! Agaknya musuh, teror, segala ancaman punya aspek positif di samping berbahaya sekali, kalau sampai menang. Jangan pernah kalah, Bro!”
Amat termenung selesai membaca surat Djordje. Ami telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, sambil berpromosi bahwa isinya sangat penting disimak.
“Tapi Pak, itu semua apa betul isi surat Djordje? Atau sudah ditambah-tambahin sendiri oleh Ami?” tanya Bu Amat.
Amat terkejut. Seperti baru terangkat dari mimpi, pikiran jernihnya kembali.
“Coba, kenapa tanpa diminta, Ami sudah menerjemahkan surat itu ke Bapak. Kayak ada maunya. Biasanya kalau dimintai tolong jawabnya pasti: sebentar, sebentar. Atau: tunggu, tunggu!”
“Atau: nggak bisa, Ami repot!”
“Betul! Ini kok aneh!  Coba tanya mana surat aslinya?”
“Ya, disimpan di rumahnya. Itu kan surat Djordje kepada Ami. Berterima kasih sebab dia sudah diantar Ami dulu melihat Gunung Agung meletus dari dekat.”
“O, begitu? Tapi mana ucapan terima kasihnya?”
“Ya, tidak semua diterjemahkan. Dipilih yang penting-penting saja.”
“Coba pinjam surat aslinya!”
Amat nampak kurang setuju.
“Yah, ambillah separuhnya tambahan si Ami. Tapi ini isinya kan penting.”
“Pentingnya apa?”
“Bahwa kita tidak sadar kita ini negeri kaya. Akibatnya kekayaan kita terbengkalai. Baru setelah dicuri kita nyadar. Bagaiman kalau tidak? Begitu! Penting kan?”
“Tapi Gunung Agungnya mana?”
Amat tak bisa menjawab.
“Tidak penting? Gunung Agung meletus tidak penting? Ah! Kalau tidak penting kenapa si Djordje sampai datang dari mana itu? Serbia? Ya pokoknya dari jauh, hanya untuk lihat gunung meletus? Kenapa? Gunung meletus, kita mengungsi, dia kok malah datang?”
Amat menyerah.
“Yah, mungkin ibu benar. Itu semua pikiran Ami! Tapi isinya bagus, kan?”
“Bukan soal bagus atau tidak. Yang saya tanyakan, kenapa Ami tidak langsung saja ngomongkan pikirannya yang seperti kata Bapak bagus itu, kepada kita? Kenapa mesti membonceng surat Djordje?”
“Ya, maklum saja, kan kenakalan anak tunggal atau karena mau bercanda dengan orangtuanya?”
Ah, saya tidak percaya. Saya kan ibunya. Saya tahu sifat-sifat Ami. Bukan itu jawabannya!”
“Lalu apa?”
“Ya apa? Kalau saya tahu, Bapak mesti lebih tahu lagi. Ayo apa?”
Ditantang begitu, Amat terpaksa buka kartu.
“Ya, biasalah!”
“Biasa bagaimana?”
“Ya, karena…..”
“Karena apa?”
“Karena, apa saja, jangankan yang penting, yang sepele pun, kalau sudah ditumpangkan jadi omongan bule, orang percaya saja dan kagum!”
“Kalau diomongkan sendiri?”
“Dianggap kentut!”
Bu Amat mengurut dada.
Nah, itu lho, Pak. Itu yang bikin saya prihatin! Bapak kok malah memuji. Aku jadi keki deh!”
Bu Amat lalu masuk rumah tak menunggu jawaban Amat. Amat terhenyak.
Ah? Apa betul  kondisi kita seperti itu. Sejelek itu? Apa betul setelah hampir masuk pintu usia ke-73 kemerdekaan, tangan-tangan kolonialisme masih membekuk kita??” bisik Amat trenyuh, dalam hati kecilnya.

Paling Populer

To Top