Metropolitan

Tahun Politik Penuh Intrik

Selain masalah perekonomian, Gunadi juga menyinggung tentang ‘teropongannya’ terkait kondisi keamanan juga situasi sosial, politik. Menurutnya, kondisi keamanan Indonesia relatif baik, meskipun tetap ada ancaman-ancaman teroris dan aksi-aksi radikal, namun itu bisa diatasi. Namun lepas dari persoalan tersebut, Indonesia ditahun ini akan menyelenggarakan pilkada serentak. Ini lah yang harus diwaspadai agar kejadian seperti Pilkada DKI Jakarta tidak terulang lagi.

Menurutnya, Pilkada DKI Jakarta yang baru lalu adalah pilkada terburuk dan berbahaya bagi kehidupan bangsa dan negara. Meski ketika itu tidak ada bentrok fisik, namun maraknya ujaran-ujaran kebencian dan isu-isu berbau SARA serta saling fitnah, sudah sangat tidak sehat lagi. Setiap kelompok hanya memikirkan dirinya  dan kepentingannya sendiri tanpa peduli tentang keutuhan bangsa.

“Hal ini tidak bisa dibiarkan. Jangan sampai terulang lagi pada pilkada-pilkada tahun ini. Karena kita semua tahu selain pilkada serentak, juga orang-orang bersiap untuk menghadapi pemilu tahun 2019, maka itu situasi politik akan terus hangat jika tidak bisa dibilang ‘panas’.  Untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan, semua pihak harus menahan emosi, lebih banyak sabar dan tidak mudah terpancing. Berhati-hatilah  dalam bertindak,” ungkapnya.

“Saya berharap kejadian-kejadian pada Pilkada DKI Jakarta tidak lagi terunglang tahun ini. Tapi kalau mau jujur, saya ‘lihat’ kejadian-kejadian seperti itu, ada yang mencoba-coba untuk mengulangnya. Mari kita berharap agar kejadian tidak separah sebelumnya,” jelas Gunadi. “Sesuai dengan karakter anjing maka anjing adalah binatang yang setia yang selalu membela tuannya. Tidak peduli tuannya itu salah atau tidak, anjing pasti akan membela. Justru di situlah masalahnya,” tambahnya.

Jadi sekarang, kata Gunadi, tinggal tergantung Presiden Joko Widodo apakah akan bertindak tegas dalam mengatasi masalah-masalah seperti itu. Tindakan tegas Presiden diperlukan agar kejadian-kejadian seperti dulu (Pilkada DKI Jakarta) muncul lagi bahkan berkembang lebih hebat. “Di tahun politik ini banyak orang yang berkepentingan karena tahun depan adalah Pemilu. Jadi hati-hati,” katanya.

Dari penglihatannya terkait situasi sosial-politik,  akan terungkap adanya intrik pengkhianatan, pihak-pihak yang bermuka dua. “Jadi nanti akan ketahuan, siapa yang membantu, siapa yang berkhianat,” katanya.

Yang nantinya juga semakin marak adalah media sosial. Sama seperti sebelumnya media sosial dipakai oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk menyebarkan ujaran-ujaran kebencian, berita-berita hoax, dll. Ini juga harus diwaspadai. “Medsos nanti bakal semakin gila-an. Makanya pergerakan cyber harus benar-benar dipantau. Baru-baru ini Jokowi melantik Djoko Setiadi sebagai Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, itu adalah salah satu badan yang akan mengawasi perkembangan cyber. Ada beberapa lembaga lain yang juga melakukan pengawasan cyber. Jadi harapannya penyebaran ujaran-ujaran kebencian, fitnah, isu-isu SARA, hoax, dll, bisa diatasi,” katanya.

Secara garis besar ia mengatakan sebagaimana karakter anjing maka ‘kunci’ tahun Anjing Tanah adalah obeservasi (pengamatan) dan justice (keadilan). Jangan gegabah dalam bertindak, harus hati-hati. “Tahun anjing rawan perselisihan, karena itu masyarakat harus bisa menahan emosi dan mempertinggi kesabaran. Ada masalah sebaiknya dirembukkan, ini untuk menghindari terjadinya benturan,” katanya.

Di sisi lain dalam situasi ‘politik yang hangat’  ini, KPK juga akan semakin menunjukkan ‘taringnya’ di tahun ini. Akan makin banyak kasus korupsi diungkap juga penangkapan terhadap pelaku-pelaku korupsi.  (Diana Runtu)

 

Paling Populer

To Top