Kreasi

“Dancing in Silver”: Hal Kecil yang Jadi Besar

Suasana peluncurkan buku “Dancing in Silver”

Perjalanan Sotjawaruni Kumala Palar atau yang akrab disapa Runi Palar dari seorang penari menjadi desainer perhiasan didokumentasikan dalam sebuah buku. Buku ini ditulis Bruce W. Carpenter dengan judul “Dancing in Silver. The Jewellery of Runi Palar”. Acara peluncuran buku dilaksanakan Jumat (29/12) di Griya Santrian, Sanur, Denpasar.

“Buku ini bercerita tentang Runi dari “kecil” yang kemudian tumbuh menjadi “besar”. Besar karena Indonesia sangat besar dan mempunyai kekuasaan untuk bermain di tingkat dunia sekarang ini. Buku ini diawali dari Runi yang menjadi penari  kemudian terkenal, bahkan ditunjuk oleh Presiden Soekarno untuk pergi ke New York untuk mewakili Indonesia. Disana dia bertemu dengan Adriaan Palar. Saya sendiri pernah bertemu Runi tahun 1964 di New York. Saat itu ia sedang menari dan saya berusia 12 tahun, bolos dari sekolah. Saya menonton di paviliun Indonesia dan saya merasa ada di surga,” ungkap Bruce.

Buku yang juga berisi desain perhiasan karya Runi menuturkan perjalanan Runi. Bagaimana tantangan yang dihadapi Runi. Dia menikah lalu mempunyai anak. Dia tidak lagi bisa menari lagi dan harus berhenti kuliah. Tapi Runi memiliki kekuatan yang luar biasa di dalam dirinya yang mendorongnya berkata “Saya seorang seniman”.  Runi pun beralih menjadi perajin perak. “Dia maju terus dan melakukan dimana saja hingga saat ini,” ujar Bruce tentang buku 40 tahun Runi berkarya ini.

Bruce berterima kasih pada Dodi Obenk yang membuat foto, Dewan Kerajinan Nasionl yang mendukung buku ini, penerbit, khususnya Runi dan Adrian. Juga bantuan dari Sandra, Griya Santrian. “Ini hal kecil yang menjadi besar dan setiap kali seniman yang sukses harus ingat akan hal ini. Tempat ini adalah pembibitan. Inilah tempat seniman kecil yang di kemudian hari menjadi besar,” tegasnya.

Runi lahir di Pujokusuman, Yogyakarta 1946. Ia mengawali kecintaanya terhadap dunia seni dengan menekuni seni tari. Seiring perjalanan waktu dan tantangan yang dihadapi, ia beralih ke seni perhiasan. “Mendesain sebuah perhiasan merupakan hal yang tidak mudah, apalagi desain tersebut bisa mendunia. Saya tidak terpaku pada desain yang telah ada dan selalu mencari hal yang lain,” ungkap ibu tiga anak ini.

Kepiawiannya mendesain perhiasan membuat sejumlah pecinta perhiasan di Jepang mengakui keunikan desainnya. Selain itu, ia juga berkreasi untuk menciptakan desain perhiasan yang mampu disandingkan dengan berbagai jenis pakaian agar cocok digunakan saat mengenakan pakaian kebaya maupun berbahan jins. Inspirasi biasanya diambil dari alam, seperti batu, kayu, daun dan etnik atau budaya suatu daerah. Runi tetap berpegang pada moto beautiful simplification, mengambil sesuatu yang selalu simpel.

Pemilik Museum Runa Ubud ini mengaku modal awal membuat perhiasan ia sisihkan dari uang belanja.  Pilihannya mendesain perhiasan berbahan perak. Perjalanan yang sangat panjang, usahanya mengalami perkembangan dan desain perhiasannya pun tidak terbatas pada perak saja. “Semoga buku ini bisa menjadi inspirasi bagi anak muda di Indonesia pada umumnya,” harap Runi.

Acara peluncuran buku tersebut turut dihadiri antara lain IB Sidharta Putra, Cokorda Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace), Prof. Made Bandem, Ny. Sri Utari Satria Naradha, dan undangan lainnya. “Ketika berbicara perak, bayangan kita pasti pada desainer-desainer internasional. Tapi ternyata kita punya potensi, dan lebih bersyukur lagi ada di Bali. Jadi ini menambah lagi kekayaan Bali sebagai destinasi wisata seni,” ujar Cok Ace.

Sidartha  Putra, owner Griya Santrian menambahkan kenal Runi sejak 15 tahun silam karena bekerja sama di galeri untuk mendukung karya-karya terbaiknya di bidang perhiasan. “Kami juga mendapatkan semangat untuk membantu ahli-ahli di sini sejak kami membuka galeri ini 16 tahun lalu. Sanur juga dimulai dengan berkembangnya karya-karya seni khususnya lukisan hingga perhiasan hingga menjadi daerah tujuan wisata,” tegasnya. Dengan mengambil semangat itu, Griya Santrian menyediakan tempat bagi kebanyakan seniman-seniman lokal dan menerima secara luas seniman-seniman Indonesia dan juga internasional.  (Eka Adhyasa)

Paling Populer

To Top