Mandalika

Menuju Baitullah

Suasana Masijid Haram tiap hari yang selalu padat oleh jamaah umroh dari seluruh dunia

Menunaikan rukun Islam yang ke- 5, yakni berhaji bila mampu, merupakan dambaan semua umat Muslim di dunia. Namun, tidak semua umat muslim khususnya di Indonesia dapat langsung menunaikan ibadah haji pada waktu yang diinginkan, mengingat daftar tunggu haji yang demikian panjang. Daftar tunggu tersebut bahkan lebih dari 10-15 tahun dari saat mendaftar haji. Karena itulah, sembari menanti waktu berhaji, sebagian orang memenuhi “panggilan” ke tanah suci tersebut dengan terlebih dahulu melaksanakan ibadah Umroh menuju Baitullah.

Dua kota tempat terpusatnya perjalanan ibadah Umroh yang menjadi magnet spiritual bagi umat Muslim yakni Kota Madinah dan Makkah. Perjalanan Umroh biasanya dimulai dari Kota Madinah. Berangkat dari Tanah Air, rombongan terlebih dahulu mendarat ke Madinah untuk beribadah di Masjid Nabawi, selain melaksanakan ibadah salat wajib dan sunnah, juga berdoa di Rawdah. Di samping itu, melakukan kunjungan ke Makam Baqi (makam para sahabat Nabi) yang berada di samping Masjid Nabawi.

Salat di Masjid Quba atau juga disebut Masjid Qiblatain yang dianggap sebagai masjid suci ke empat setelah Masjidil Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Aqsa di Palestina ini menjadi salah satu ibadah penting bagi para jamaah. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, yang berada sekitar 5 kilometer di sebelah tenggara Kota Madinah. Masjid Quba yang berada di Al Hijrah Road ini dibangun oleh Rasulullah SAW saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Di masjid ini Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengubah arah kiblat dari menghadap ke Masjidil Aqsa di Palestina kemudian dirubah menghadap ke Kabah di Makkah.

Selama di Madinah, kunjungan penting juga dilakukan di Jabal Uhud. Melakukan napak tilas perjalanan dan perjuangan Nabi Muhammad SAW di Gunung (Jabal)  Uhud, mengingatkan pada sejarah perang paling dahsyat yang pernah terjadi dalam sejarah agama Islam. Jabal Uhud menjadi saksi bisu perang berdarah dalam menegakkan Islam. City tour Madinah, termasuk berkunjung ke pasar kurma  juga melengkapi perjalanan para jamaah.

Setelah tiga hari melakukan ibadah di Masjid Nabawi dan berziarah ke tempat-tempat yang menyimpan sejarah perjalanan perjuangan Nabi Muhammad SAW di Kota Madinah, tibalah saatnya memulai prosesi inti perjalanan Umroh. Di hari itu, sehabis Salat Jumat di Masjid Nabawi, 15 Desember 2017, seluruh jamaah bersiap menuju Kota Makkah memulai prosesi Umroh.

Dari hotel yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari Masjid Nabawi, jamaah laki-laki telah menggunakan Ihram (pakaian putih khusus untuk ibadah Umroh dan Haji) dan jamaah perempuan juga rata-rata berpakaian putih lengkap sesuai syariat untuk beribadah Umroh. Perjalanan menggunakan bus menuju Kota Makkah ditempuh selama sekitar lima hingga enam jam. Sebelumnya di perbatasan Tanah Haram yang jaraknya sekitar 11 kilometer dari Masjid Nabawi dan sekitar 9 kilometer dari sisi terluar Kota Madinah, prosesi pertama ibadah Umroh dilakukan yakni mampir di Masjid Bir Ali tempat Miqat (berpakaian Ihram). Di tempat ini jamaah mensucikan diri dan melakukan salat sebelum masuk ke Masjidil Haram serta memulai niat Ihram untuk melaksanakan Umroh. Selama dalam perjalanan setelah Miqat, jamaah harus mematuhi perintah dan meninggalkan larangan-larangan Ihram.

Pada proses perjalanan menuju kota Makkah ini, tampak seluruh jamaah khusyuk bersalawat dan membaca Talbiyah. Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda wanni’mata laka wal mulka laa syariika laka. (Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat hanyalah milik-Mu, juga semua kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu).

 

DI DEPAN KA’BAH

Sekitar pukul 11 malam, rasa haru mulai terasa saat bus memasuki Tanah Haram; Kota Suci Makkah. Tiada terasa air mata bahagia menetes. Sebuah mimpi sempurna yang menjadi kenyataan. Setidaknya inilah yang dirasakan oleh jamaah yang baru pertama kali menunaikan ibadah Umroh. Rombongan ini kemudian menuju hotel untuk beristirahat sejenak dan kembali bersuci dengan berwudhu.

Pukul 01.00 dinihari waktu Makkah, jamaah bergegas menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah Umroh. Di pelataran Masjidil Haram, air mata pun tak kuasa lagi terbendung. Dalam diam, hanya rasa syukur yang bisa terucap,  berulang-ulang.

Ketika masuk ke dalam Masjidil Haram, jamaah melakukan salat sebelum memulai Tawaf. Di sini, Ka’bah belum terlihat. Usai salat, di tengah keramaian manusia yang sama-sama akan melakukan Tawaf, perlahan jamaah masuk ke tengah Masjidil Haram. Sebuah bangunan hitam yang begitu dirindukan mulai tampak di depan mata. Ka’bah; bangunan suci yang paling dirindukan umat Muslim yang menyempurnakan ibadah dunia dan akhiratnya.

Dalam derai air mata haru dan bahagia, Ka’bah menggetarkan tubuh dan jiwa-jiwa yang dipenuhi rasa tidak percaya. “Saya ada di depan Ka’bah,” ujar Maya dan Anna, dua jamaah asal Nusa Tenggara Barat yang tiada henti menangis sepanjang prosesi Umroh berlangsung. Di sinilah prosesi Tawaf (mengelilingi Ka’bah tujuh putaran) dilakukan. Dilanjutkan dengan melakukan Salat Mutlak di depan Ka’bah.

Setelah itu prosesi selanjutnya adalah melakukan Sa’i yakni berjalan (berlari kecil) antara bukit Shafa dan Marwah yang berjarak sekitar 450 meter sebanyak 7 kali bolak balik. Dan setelah merampungkan Sa’i, jamaah melaksanakan prosesi terakhir yakni Tahalul (keluar dari keadaan Ihram) setelah selesai menjalankan ibadah Umroh dengan memotong/mencukur paling sedikit tiga helai rambut.

Setelah Umroh dilaksanakan, jamaah fokus melakukan ibadah di Masjidil Haram dan berziarah ke tempat-tempat yang menyimpan sejarah perjuangan para nabi. Bahkan hingga ke tempat pertemuan Nabi Adam dan Hawa di Jabal Rahmah. (Naniek I. Taufan)

Paling Populer

To Top