Kolom

2018 (2)

Joko, satpam baru itu jatuh dengan punggung menghantam lantai. Untung kepalanya tidak apa-apa. Hanya belepotan ampas kopi dari gelas yang ikut terseret tumpah.
Joko perlu beberapa detik mengumpulkan kesadarannya yang berserakan. Untuk mengubah nasibnya bahwa ia bukan terjatuh ke atas jerikil jalanan. Tapi dari kursi ke atas lantai. Bukan karena menghindari lemparan sandal Pak Amat, tapi gelagapan terbangun dari tidur yang “dibikin” oleh tamu yang  mau bertemu Pak Amat itu.
Ketika aplusan tengah malam tadi, ia masih ditemani Ketut. Tapi Ketut izin sebentar pulang, di SMS istrinya, karena anaknya mendadak demam.
Waktu itulah ada tamu datang mau ketemu Pak Amat. Ia ngotot masuk, tapi Joko menolak. Akhirnya terjadi perdebatan sengit. Tak terduga orang itu menempelkan saputangannya ke hidung Joko dan selanjutnya seperti dalam mimpi Joko tadi.
Joko terperanjat. Ia gelagapan mencari tamu itu dengan matanya. Tak ada. Sementara pintu portal dalam posisi terangkat.
Joko kaget. Apalagi kemudian terdengar suara ramai dalam komplek perumahan. Para penghuni pada keluar rumah. Itu  aneh di saat belum subuh.
Merangkak Joko  mengintip. Nampak warga berkerumun. Terdengar percakapan liar.
Tape mobil saya juga!”
“Saya juga!”
“Saya tak pernah naruh mobil di luar. Ini kebetulan karena ada tamu.. .”
“Hilang juga?”
“Dibongkar!”
“Jadi enam!”
“Tujuh!  Tape mobil saya juga!”
“Wah ini belum pernah terjadi di sini kita kan aman!”
Tiba-tiba kaki Joko ditowel sepatu. Joko cepat berdiri. Ketut sudah datang.
“Ada apa Jok?”
Joko menunjuk ke dalam komplek. Ketut lalu ngintip. Joko diam-diam menyelinap kabur.
Ketut terkejut oleh kehebohan dalam komplek. Ia berbalik mau nanya Joko.
“Joko !”
Tapi Joko sudah pergi.
“Joko!”
Ketut mau mencari ke jalan, tapi Amat muncul.
“Ketut!”
“Ya, Pak!”
“Mau ke mana kamu?”
Mau nutup portal, Pak. Saya datang kok sudah terbuka?”
“Kalau kamu tidak buka mana mungkin terbuka!”
“Bukan saya membukanya, Pak!”
“Lalu siapa?”
“Mana saya tahu, kan saya baru datang.”
Lho datang dari mana?
“Saya tadi pulang sebentar karena anak saya sakit. Saya datang, pintu portal sudah terbuka.”
“Delapan mobil sudah digagahi maling, tahu?! Tape-nya diambil! Tahu?”
“Ya, tadi saya dengar begitu.”
“Dengar? Tugas kamu bukan mendengar ada maling, tapi mencegah maling! Kenapa kamu membiarkan pos kosong?”
“Kan ada Joko, Pak!”
“Ya, tapi mana?”
“Tadi di sini, Pak, tiduran di lantai.”
“Aduh! Tiduran? Kalian itu satpam yang digaji untuk jaga komplek, bukan untuk tidur!”
“Bukan saya, Pak. Si Joko!”
“Si Joko, si Joko dari tadi, tapi mana orangnya?”
“Barusan di sini, Pak!”
“Aduh kamu ini bagaimana Ketut Mancrut! Untuk apa barusan? Ah? Sekarang mana orangnya? Jangan-jangan dia pelakunya.”
“Tidak mungkin Pak! Joko anak orang kaya!”
“Orang kaya sekarang suka mencuri, tahu? Jangan salah! Kamu sekongkol ya?”
“Tidak, Pak! Sumpah!”
“Tidak usah pakai sumpah! Ngaku saja di mana tape-tape warga yang kamu jarah itu?”
“Ampun Pak Amat, demi Tuhan saya tidak tahu, saya satpam masak saya mengambil delapan tape, satu saja sudah cukup!”
“Kamu jual ke mana?”
“Lebih baik saya berhenti daripada dituduh mengambil tujuh tape warga!”
“Delapan!”
“Maksud saya delapan!”
Beberapa warga yang ngintip interogasi ala Amat itu muncul.
Nah jelas dia pelakunya!”
“Kamu. Jual ke mana tape kami?”
“Demi Tuhan, sumpah saya tidak tahu!”
“Buktikan dirimu tak salah!”
“Saya kan pulang karena anak saya sakit. Bagaimana saya bisa ngambil tujuh tape mobil”
“Delapan!”
“Delapan tape mobil kalau saya di rumah.”
“Oke itu alibi kamu? Boleh! Agus. Cek rumah Ketut apa betul anaknya sakit dan apa betul dia ada di rumah dari pukul 24 sampai pukul 2.30. Sekarang pukul tiga.”
“Sekarang, Pak Amat?”
“Ya!!”
Agus pura-pura mau ke rumah Ketut. Ketut kelihatan gugup.
“Kenapa Tut?”
“Kalau sekarang anak saya sudah tidak demam lagi.”
“Oke. Tak apa! Cek apa betul Ketut ada di rumah antara pukul 24 sampai 02.30!”
“Siap!”
Ketut tambah panik.
“Sebetulnya saya tak jadi pulang, karena itu sebetulnya akal istri saya mau ngecek apa saya betul jaga di pos atau .. .”
“Atau apa?”
“Atau ,.”
“Atau ngendon di warung Nyoman! Ya?”
Ketut menjawab lemah
“Ya, Pak.”
“Kalau gitu cek ke warung Nyoman!”
“Jangan, Pak Agus!”
“Pak Amat, biar saja itu urusan pribadi Ketut. Kita usut dulu pencurian tape mobil ini.”
“Ini terkait, Pak Made. Kalau dia. tidak ke warung Nyoman tidak akan ada pencurian. Kepribadian dan kehidupan pribadi harus kita jadikan syarat utama dalam menerima satpam.
“Betul! Menurut saya Ketut dan Joko dua-duanya harus dikeluarkan!”
“Saya berjanji tidak mengulangi lagi Pak Made. Saya ke warung Nyoman untuk memutuskan hubungan, sebab saya tidak mau ditinggal istri saya.”
Tiba-tiba Agus teriak.
“Itu si Joko!!”
Joko muncul dengan senyum lebar.
“Bapak-bapak, jangan khawatir sudah ketemu!”
Semua heran.
“Ketemu apa?”
“Pencuri tape mobil tiga sekawan, kakak beradik dan orang tuanya sendiri. Saya ketemu sedang menjual hasil curiannya pada tukang tadah. Tapi tukang tadah itu ternyata polisi yang sudah lama mengikuti sepak terjangnya. Baru sekarang bisa diringkus. Silakan ke pos polisi di depan untuk mencek barang-barangnya!”
Warga yang berkepentingan, langsung ke pos. Tinggal Amat dan joko.
Amat menatap Joko. Lalu bertanya curiga.
“Joko”
“Ya, Pak.”
“Saya penasaran. Kamu sebenarnya siapa?”
Joko tertawa.
“Jangan ketawa. Anda siapa?”
“Saya polisi, Pak Amat. Menyamar jadi satpam.”

Paling Populer

To Top