Buleleng

Perlu Sosialisasi Bahaya Abu Vulkanik

Suasana pengungsian di Balai Desa Tembok kecamatan Tejakula

Kantor Balai Desa Tembok, kecamatan Tejakula kembali didatangai ratusan pengungsi. Sejak status Gunung Agung ditetapkan ke level awas, masyarakat yang berada di Kawasan Rawan Bencana mengungsi untuk kedua kalinya. Umumnya para pengungsi yang datang adalah pengungsi Gunung Agung yang sempat pulang beberapa waktu lalu.

Menurut Koordinator pengungsi Desa Tembok, Dewa Wili mengatakan Balai Desa Tembok dijadikan titik utama untuk menerima pengungsi sebelum disebar kebeberapa camp yang telah disediakan. Dirinya menjelaskan pengungsi yang datang merupakan masyarakat yang berasal dari Desa Dukuh, Kubu, Sukadana, Baturinggit, Ban, dan Tulamben yang datang sejak Senin (27/11) lalu. Ketika ditemui Selasa (28/11) lalu, Dewa Wili mengungkapkan jumlah pengungsi yang datang ke Tembok berkisar antara 900 hingga 1000 jiwa, namun jumlah tersebut akan terus berkembang seiring dengan pendataan yang dilakukan. “Nantinya kami akan sebar mereka (Pengungsi,-red) dibeberapa camp yang telah disediakan, salah satunya ada di Balai Desa, gudang dan lahan milik warga. Beberapa di antaranya juga telah mengungsi di rumah warga yang tidak lain adalah kerabat dari pengungsi,” jelasnya.

Dewa Wili menghimbau warga yang langsung mengungsi di rumah warga agar mendaftarkan diri sebagai pengungsi di Posko utama. Hal ini untuk memudahkan petugas menyuplay logistik yang dibutuhkan oleh pengungsi. Disinggung mengenai ketersediaan permakanan, dirinya mengatakan masih aman sehingga terus bisa didistribusikan ke posko-posko pengungsian. Ditambahkan olehnya, hanya saja ketersediaan masker yang masih minim mengingat desa Tembok berbatasan langsung dengan Kabupaten Karangasem sehingga sebaran abu vulkanik akan berdampak buruk bagi kesehatan. Untuk hal ini, dirinya menekankan agar perhatian pemerintah tidak  saja terpusat kepada para pengungsi tetapi juga terhadap warga setempat. Sosialisasi perlu dilakukan mengingat warga yang belum paham bahaya abu vulkanik untuk kesehatan. “Agar tidak terjadi kecemburuan sosial kita juga harus memberi perhatian kepada warga lokal misalnya dengan membagikan masker dan memberikan sosialisasi bahaya abu vulkanik karena sampai saat ini banyak masyarakat yang kurang paham akan hal itu,” jelasnya.

Pihaknya mengaku dari pengalaman sebelumnya, kali ini dirasakan lebih mudah dalam mengkoordinir para pengungsi. Hal ini disebabkan, pengungsi yang datang adalah pengungsi yang sebelumnya pernah mengungsi di posko tersebut. Mereka telah terbiasa dengan budaya yang diciptakan di tempat pengungsian seperti menjalankan piket bergantian. “Mereka yang datang merupakan yang dulu sempat mengungsi di sini dan ada juga yang baru-baru. Pengalaman yang dulu jadi membudaya. Ketika baru datang mereka lihat pos logistik kotor tanpa dikomando mereka bersihkan sendiri,” ungkapnya. di tengah keterbatasan relawan, pengungsi mengerjakan segala pekerjaannya secara mandiri sehingga tugas relawan hanya mengkoordinir saja. (Wiwin Meliana)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas