Sudut Pandang

Menunda kalau Urgent

Menjalankan suatu usaha tentu diperlukan kematangan dalam perencanaan agar usaha yang dijalani dapat bertahan. Fokus dan tekun juga menjadi modal yang tidak kalah penting agar usaha dapat terus berkembang. Hal tersebut  diungkapkan oleh Putu Yanti Pusparini, desainer kondang asal Singaraja.

Menjadi seorang desainer bukanlah hal yang mudah. Pekerjaan ini menuntut ketrampilan dalam mengikuti perkembangan mode tanpa mengesampingkan kepuasan konsumen. Menurutnya untuk dapat menjadi desainer profesional diperlukan ketekunan belajar, inovasi dan kreatifitas dalam menuangkan ide-ide ke dalam sebuah desain menarik. Namun, sayangnya ide itu muncul tidak semudah yang dibayangkan. Bosan merupakan hal yang wajar dalam menjalankan rutinitas sehingga ketika rasa bosan datang maka pekerjaan pun akan tertunda.

Syukurnya, Yanti sapaan akrab perempuan ini mengaku dirinya segera sadar bahwa ditengah banyaknya bermunculan desainer-desainer muda lain ia harus lebih kreatif. “Kita harus punya banyak stok ide, ketika stuck kita bisa munculkan ide-ide tersebut. terkadang saingan bisnis juga memacu dan menginspirasi untuk lebih kreatif dan selalu berani bereksperimen,” ungkapnya.

Untuk terus menggali ide-ide dalam mendesain karya dirinya tidak takut mencoba hal yang baru. Bahkan ia mengaku sering berkolaborasi dengan salon dan fotografer. “Kami sering hunting bareng dengan menggunakan baju-baju desain saya. Dengan itu juga kadang saya mendapatkan ide dan menimbulkan semngat untuk bekerja lagi,” jelasnya.

Perempuan yang dikenal dengan brand Diah Mode ini mengaku jika galau bukan alasan baginya untuk menunda pekerjaan. Justru ketika suasana hatinya kurang baik maka dia akan menumpahkan segala kegalauannya dengan bekerja lebih keras dan menggali ide-ide dalam menciptakan suatu karya. Bahkan keluarga menjadi motivasi utama baginya untuk terus bekerja keras. “Mood tidak pernah mempengaruhi saya dalam pekerjaan karena saya bekerja sambil menikmati pekerjaan. Tanggung jawab terhadap anak-anak dan keluarga juga yang membuat saya tidak bisa move on dengan pekerjaan,” akunya.

Jikapun dirinya harus menunda pekerjaan, itu karena hal-hal yang memang sangat urgent, seperti memenuhi kewajibannya sebagai wanita Bali. Upacara adat dan menyama braya  adalah dua hal yang selalu dijalankan secara seimbang. Bahkan dirinya mengaku memberikan kompensasi kepada karyawannya yang memiliki halangan karena upacara adat dan menyama braya . “Saya sangat menghargai jika memang karyawan ada kesibukan karena dua hal tersebut, asalkan mereka tetap bisa kembali mengerjakan tugasnya dengan baik,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas