Sudut Pandang

Tertunda Membawa Hikmah

Penundaan adalah sebuah hal yang paling sering dilakukan setiap orang yang memiliki pekerjaan. Sama halnya seperti gadis yang satu ini. Selain menyelesaikan kuliahnya di Udayana, ia juga memiliki pekerjaan di bidang fashion sebagai  fashion designer dan memiliki local brand.  Kegiatan ini membuatnya menjadi sangat sibuk dan susah untuk mengatur waktu antara pekerjaan dan kuliah.

Hal tersebut mengakibatkan Trisnawati Witono, yang biasa disapa Nana ini menunda-nunda beberapa hal karena ingin bersantai sejenak di tengah kesibukan setiap harinya. “Akibat dari saya suka menunda beberapa hal yang penting untuk dilakukan, maka terjadilah keterlambatan dalam produksi. Seperti mencari bahan untuk membuat pesanan atau pergi ke tempat produksi,” ujar Nana saat ditemui pekan lalu di salah satu pusat perbelanjaan di Denpasar.

Dengan begitu lanjut Nana, hal–hal yang harus dilakukan pun menjadi menumpuk padahal harus diselesaikan sesuai deadline. “Hal itu yang selalu membuat saya keteteran hingga mendapat komplain dari klien. Belum lagi ada pekerjaan baru yang datang dan harus diselesaikan dengan tenggat waktu yang singkat pula. Di saat itulah saya bingung, untuk memilih prioritas,” cetus desainer lulusan  ‘Angeliqa Wu Fashion Design Course’ ini

Dikatakannya rasa sesal pun menghampiri, dan dengan menyelesaikan segalanya adalah hal yang benar untuk dilakukan. Dari kejadian tersebut, memberikan hikmah tersendiri buat hidup Nana. Peristiwa yang berujung kerepotan tingkat tinggi ini kemudian membuatnya menjadi lebih dapat memprioritaskan hal yang seharusnya dilakukan. Ia juga lebih lagi belajar untuk dapat mengatur waktu dengan baik sehingga tidak terulang hal yang sama.

Nana kembali mengatakan kalau menunda pekerjaan adalah hal yang tidak seharusnya dilakukan. Sebab ketika melakukan penundaan akan berdampak kepada hal lain dan waktu pun bakal terbuang sia-sia. “Seperti quote yang sering muncul adalah“time is money”. Maka gunakanlah waktu sebaik mungkin, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan jika membuang waktu dengan melakukan hal yang sia-sia,” katanya

Sebagai mahasiswa tingkat akhir dalam menyelesaikan kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana, ia dituntut untuk menyelesaikan skripsi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. “Hal tersebut memberikan saya sebuah tantangan untuk mengejar gelar yang sudah ada di depan mata. Tetapi masih terasa jauh untuk digapai, karena kegiatan yang saya lakukan di luar tugas kampus. Selain menjalani kehidupan kampus, saya juga memiliki kegiatan yang saya senangi untuk dilakukan adalah di bidang fashion,” tandasnya.

 Nana menuturkan sejak masih di sekolah dasar, dirinya sudah memiliki mimpi untuk suatu hari dapat belajar dan masuk ke dalam dunia fashion.”Pertama-tama saya senang melihat pagelaran busana (fashion show) yang dilaksanakan di beberapa fashion week yang diselenggarakan di New York ataupun di Paris. Kemudian saat sekolah menengah pertama, saya sudah mulai menulis blog mengenai fashion yang berisikan baju yang saya kenakan tiap harinya dan inspirasi fashion yang saya lihat di beberapa fashion week. Setelah saya lulus dari sekolah menengah atas, saya sudah berencana untuk melanjutkan pendidikan menuju fashion design di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, Namun, saya masih belum yakin untuk melanjutkan ke jenjang fashion pada saat lulus kuliah nantinya,” tuturnya

Nana memilih untuk menempuh pendidikannya di program studi Ilmu Komunikasi di Universitas Udayana. “Saya menunda apa yang memang saya sudah impikan dari dulu, tetapi untuk hal yang satu ini saya selalu bersyukur, dan mengambil sisi positif, karena ada sisi lain yang terasah, yakni kemampuan menulis dan berkomunikasi saya,”  tandas Nana.  (Sri Ardhini)

 

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas