Kreasi

Perangko di Zaman Digital

Kadek Ayu dan Salsa mendapat tugas dari gurunya. Siswi SD Dauh Puri itu serta rekan-rekannya menghadiri pembukaan Panfila BALIPHEX 2017 di Monumen Bajra Sandhi Renon, Denpasar. Tak ada bayangan dalam pikirannya apa itu pameran filateli.

Generasi milineal memang tak bisa dijauhkan dari dunia digital yang mengubah drastis wajah komunikasi dunia. Anak-anak kelahiran 1990-an keatas, mengenal dengan akrab perangkat ajaib bernama telepon selular. Dari sebuah telepon genggam, mereka bisa melakukan pekerjaan sekolah, menulis surat elektronik, pesan singkat memotret hingga merekam peristiwa dalam bentuk film. Bahkan anak-anak muda zaman sekarang bisa bekerja tanpa perlu pergi ke kantor dan orangtua bisa memonitor kondisi rumah saat sedang bepergian sepanjang terkoneksi dengan jaringan internet.

Perkembangan yang begitu pesat itu pula mengakrabi anak-anak. Mereka tak canggung dengan peralatan yang canggih itu dan cepat beradaptasi dengan gawai tersebut. Mereka terkadang tak perlu pergi ke perpustakaan dalam setiap menyelesaikan tugas yang diberikan gurunya. Pergi ke ruang komputer dan memasuki dunia maya untuk mencari jawaban dari semua tugas-tugas itu. Search engine seperti Yahoo dan Google seakan menggantikan peran buku, orangtua dan guru. Bahkan posisinya kini kian meningkat menjadi sahabat karib.

Helly Siti Halimah, Kepala Regional 8 Bali-Nusa Tenggara P.T. Pos Indonesia mengakui anak-anak zaman now (sekarang) begitu dekat dengan ponsel yang memungkinkan mereka berkomunikasi, mengirim pesan singkat dan mendapatkan gambar atau teks sesuai keinginan mereka. Budaya itu menjauhkan mereka dari menulis secara konvensional.

Karena itu sudah sepatutnya mereka diperkenalkan kembali dengan budaya menulis surat, mencari sahabat pena dan berinteraksi meski hanya dengan sepucuk surat. “Karena dengan melihat perangko saja, kita juga bisa menambah ilmu lewat tema gambarnya, tahun pembuatan, asal negaranya, dll.,” kata Helly.

Itu secara tidak langsung dialami Kadek Ayu dan Salsa saat menyaksikan deretan perangko tua, sampul surat, kartu pos yang tidak pernah mereka akrabi selama ini. Bersama rekan-rekannya mereka sibuk mengamati deretan perangko tua dan mencatat keterangan yang tertera di dekatnya.

Dari olahraga lari yang didapat pada pelajaran olahraga di sekolah, ia bertemu dengan Carl Lewis, sprinter legendaris Amerika Serikat. Jika mau membuka wikipedia, maka dari perangko itu akan diperoleh informasi yang luar biasa banyak. Carl Lewis dikenal sebagai Olimpian yang merebut 9 medali emas. Ia tampil di Olimpiade Los Angeles (1984), Seoul (1988), Barcelona (1992) dan Atlanta (1996). Puncak kariernya terjadi pada 1984 saat memborong empat emas di Los Angeles dari nomor lari 100m, 200m, estafet 4x100m dan lompat jauh.

Sementara teman-teman laki-lakinya mengamati berbagai jenis alat transportasi dari mobil hingga kereta api, Kadek Ayu dan Salsa masih terpaku di dunia olahraga. Olahraga lari menghadirkan berbagai macam perangko dari berbagai negara, bermacam-macam event dan menghasilkan bintang-bintang besar.

Masih di dunia olahraga, terdapat pula legenda kung fu Bruce Lee pada sebuah sampul surat. Di papan lain, terpampang maskot Piala Eropa 1988 bernama Berni. Pendek kata, begitu banyak informasi yang terwakili dalam secarik kertas.

Tak berberbeda dengan Kadek Dwi Anggarini dan Ni Putu Ayu Dessya Gita Amalia Putri. Siswi SD Pemecutan itu mengetahui surat dan perangko dari orangtuanya. Namun mereka tak tahu fungsi dan kegunaannya. Apalagi dengan seni mengumpulkan perangko.

Namun dengan melihat perangko, surat dan kartu pos yang telah terkelola rapi, mereka seperti melihat buku ensiklopedia. Perangko kupu-kupu bisa menjadi cerita panjang bila bisa dipilah-pilah dari reproduksi, habitat, famili, musuh, konservasi dan penggunaan untuk bidang seni, budaya.

 

PENGGEMAR FANATIK DAN INVESTOR

Seni mengumpulkan perangko dan benda-benda pos lainnya, tetap bertahan hingga sekarang meski seni berkirim surat mulai terpinggirkan. Kepala Dinas Pariwisata Bali Agung Yuniartha dalam kata sambutannya mewakili Gubernur Bali pada pembukaan Panfila BALIPHEX 2017, mengatakan dalam perkembangannya, filateli yang dulunya sebagai aktivitas eksklusif kaum bangsawan dan raja-raja kini menyebar hingga disukai masyarakat sipil. “Bahkan mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy pun menyukai hobi ini,” katanya.

Secara umum terdapat dua golong dalam kelompok penggemar perangko ini. Satu, penggemar fanatik yang benar-benar menikmati perangko dan mengoleksi benda artistik ini lewat korespondensi. Dan kedua, investor. Menurut Stanley Gibbon, lembaga investasi dan koleksi Inggris, hanya beberapa ratus orang saja di dunia yang serius berinvestasi di perangko ini. Karena dari sisi ekonomi, perangko termasuk investasi yang relatif stabil.

Berkaca dari sisi tersebut, Ali Fahmi, Senior Vice President PT POS Indonesia, mengingatkan untuk memperkenalkan hobi para orangtua kepada anak-anak muda, salah satunya adalah promosi lewat gadget-gadget. BALIPHEX 2017 diharapkan bisa menumbuhkan kembali minat mengumpulkan perangko yang tidak hanya sebagai bea pelunasan surat saja namun juga mengenal gambar-gambar yang datang dari berbagai penjuru dunia yang kaya akan nilai edukasi. “Filateli adalah seni mendokumentasikan karya besar manusia di zaman digital ini,” katanya.(Yudi Winanto)

 

Seri Ramayana Laris

Panfila BALIPHEX 2017 mendapat dukungan dari Konsul Jenderal India di Bali. Konjen India menyiapkan satu stan yang berisi berbagai materi promosi The Incredible India. Foto PM Jawaharlal Nehru saat berkunjung ke Bali juga menjadi menghiasi stan ini.

“Bali dan India memang memiliki keterkaitan. Dalam urusan perangko pun ada ceritanya. Kali ini pihak India mengeluarkan perangko seri Ramayana atau Ramayana Commemorative Stamp,” ujar G.N. Surya Hadinata, Ketua Panitia Penyelenggara Panfila BALIPHEX 2017.

Ternyata perangko seri Ramayana ini banyak dibeli filatelis.  Selain Surya Hadinata, ada Ata yang juga membeli seri ini.  “Saya kaget ternyata pecinta perangko di Bali banyak. Perangko seri Ramayana ini laris,” ujar Dita, yang menjaga stan Konjen India. (Ngurah Budi)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas