Dara

Ista: Dari Trauma Jadi Juara

Ista dan keluarga yang selalu mendukungnya

Menjadi perenang bukanlah cita-cita Ista Wirya Ardhiani. Dara kelahiran Denpasar, 5 Mei 2001 ini awalnya hanya ingin menghilangkan trauma takut air. Tetapi, akhirnya ia malah jadi juara renang. Kini, Ista menjajal finswimming. Mengapa ia beralih ke finswimming?

Aktivitas Ista sehari-hari Ista lebih banyak di sekolah dan kolam renang. “Pulang sekolah pukul 15.00 langsung ke kolam renang Tirta Arum, Blahkiuh. Latihan mulai pukul 16.00 sampai 18.30. Tiap hari kecuali hari Minggu. Kalau hari libur, latihan renang pagi dan sore,” ujar siswi kelas XI SMA 1 Kuta Utara ini.

Ista menuturkan menekuni renang gara-gara pernah tenggelam di kolam renang saat TK. Ia pun trauma hingga kelas 2 SD. Untuk menghilangkan trauma dan takut air, Ista dimasukkan ke Klub Bali Pari. Akhirnya ia jadi terbiasa dan keterusan. Event ESG Bandung tahun 2010 merupakan event pertama yang ia ikuti. Prestasi nasional pertamanya di ajang KRAPSI  2012. Sejak itu alumnus SDK Santa Maria Immaculata  dan SMP Tegaljaya ini rajin berlatih.

Padatnya jadwal latihan tak pernah dikeluhkan putri kedua pasangan Ir. I Wayan Suirya, M.T. dan Ir. IGAN Risnadewi R. ini. Mereka selalu mendukung Ista, terutama sang bunda yang selalu siap mengantarkan Ista latihan renang. Walaupun ada rasa lelah, namun sebanding dengan prestasi yang diraihnya. Tiap medali yang dihasilkan, dibarengi dengan apresiasi uang yang ia tabung dan dipakai untuk keperluan penunjang seperti membeli vitamin dan peralatan latihan.

Deretan prestasi sudah diraih pengagum Michael Phelps, Triady Fauzi, Sarah Sjostrom (Rusia) ini. Di ajang Porprov Bali 2015, ia meraih 3 emas (50 m gaya kupu-kupu, 100 m gaya kupu-kupu, dan 4×100 m estafet gaya ganti). Porprov 2017, ia meraih 1 emas (50 m gaya kupu-kupu), dan 2 perak (100 m gaya kupu-kupu dan 4 x 100 estafet gaya bebas). “Spesialis saya memang gaya kupu-kupu. Cedera bahu kiri kambuh saat Porprov, makanya tidak maksimal,” ujar perenang yang sudah sering tampil di KRAPSI dan Kejurnas ini.
Ista menuturkan cedera bahu kiri dirasakan mulai 2014. “Waktu itu saya ikut PON Remaja. Saat babak penyisihan selalu menang. Jelang final, bahu kiri terasa sakit. Saya paksakan ikut lomba, tetapi hasilnya jadi tidak maksimal. Saya sudah mencoba fisioterapi, akunpuntur, yoga. Sakitnya berkurang, tapi kadang muncul lagi,” ungkap adik dari Anindya Dewi Wiryanti, S.Ds. ini.
Cedera berkepanjangan ini membuat Ista harus membuat pilihan. Ia tak ingin jauh-jauh dari kolam renang yang sudah membuat namanya berkibar. Akhirnya, penggemar fotografi ini mencoba finswimming. Ini adalah cabang olahraga yang dasarnya renang dengan penggunaan fins (sepatu katak). Arenanya bisa di kolam renang dan di laut. Ada monofins (sepatunya menyatu) dan bifins (sepatunya terpisah).

 

TARGET TAMPIL DI PON 2020

“Finswimming ini termasuk baru berkembang. Saya pun mencoba dan ternyata cocok. Untuk monofins, tangan tidak bergerak, napas dengan bantuan snorkel. Ini cocok untuk saya yang punya cedera bahu. Awal latihan memang berat, engkel terasa sakit karena penggunaan fins. Lama-lama jadi terbiasa,” ujar Ista. Bila dibandingkan dengan renang standar, finswimming termasuk mahal karena memerlukan peralatan fins yang harganya mulai Rp 6 jutaan. Untuk bisa ikut finswimming harus punya sertifikat A1 diving.

Dengan finswimming, Ista merasa peluangnya lebih terbuka. Di Porprov 2019, cabor yang bernaung di bawah PB POSSI ini akan dilombakan. Untuk PON sudah terlebih dahulu dilombakan karena beberapa daerah sudah menekuni cabor ini. “Saya mengejar agar bisa tampil di Porprov 2019 dan PON 2020,” ujar perenang yang ditangani pelatih Kadek Sudiasa ini.

Ista menambahkan dirinya berusaha mengatur agar pendidikan dan renang bisa sejalan. Baginya, renang ini membuat tubuh sehat, banyak teman teman, dan waktu jadi bermanfaat. Saat jenuh, ia memilih refreshing dan meliburkan diri. “Saya bersyukur sekolah sangat mendukung dengan memberikan dispensasi. Kalau ada tugas tambahan untuk mendapatkan nilai, saya kerjakan,” kata penggemar pelajaran Bahasa Inggris yang bercita-cita melanjutkan kuliah Jurusan Psikologi ini.

Ia juga selalu mendapat dukungan dan doa keluarga. Kakeknya I Gusti Ngurah Munang Wirawan, penulis buku “Kami Pedjoeang bukan Sekadar Pejuang. Perlawanan Para Pejuang di Kab. Badung dan Kota Denpasar (1945 s.d. 1949)” pun kerap memberi semangat. Ista diminta untuk berlatih dengan tekun dan serius. Kalau jatuh barus bisa bangkit lagi.

“Untuk adik-adik yang menekuni renang, rajinlah berlatih. Jangan mudah putus asa. Jangan mudah puas dengan hasil yang dicapai. Untuk generasi muda, mari isi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat,” tegas pemilik moto do the best ini.  (Ngurah Budi)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas