Kuliner

‘Bakso Nyaman Mutiara’: Konsumen Langsung Datang ke Rumah

bakso nyaman

Bakso memiliki akar dari seni kuliner Tionghoa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari kata Bak-So, dalam Bahasa Hokkien. yang secara harfiah berarti ‘daging giling’. Karena kebanyakan penduduk Indonesia muslim, maka bakso lebih umum terbuat dari daging halal seperti daging sapi, ikan, atau ayam.
Tak sedikit orang yang menyukai kuliner ini. Dimasa kini tak jarang juga ditemukan pedagang bakso. Mereka berlomba membuat varian pada bakwannya. Misalnya, diberi isi daging cincang, telur, cabai, keju, dan lain-lain. Namun, tak harus dengan macam-macam. Apabila rasanya nikmat konsumen pasti terus berdatangan.
Seperti halnya Eli Mutida, pedagang bakso di kawasan Kota Baru Driyorejo, Gresik. Ia tak neko-neko membuat baksonya. Pria berusia 44 tahun ini membuat bakso hanya sewajarnya saja. Tanpa adanya varian rasa maupun isi-isian. Walau sederhana dagangannya tak pernah sepi pelanggan.
Suami dari Eni Wirawati ini memulai usahanya sejak 2000 silam. Dulu, ia membuka warungnya di daerah Surabaya. Kemudian ia pindah pada 2013 dan tetap meneruskan usahanya di kawasan kota santri, Gresik. Usaha baksonya yang kini diberi nama ‘Bakso Nyaman Mutiara’.
Dinamai demikian karena, menurutnya sebutan itu akan mudah untuk diingat oleh konsumen. Bapak dari dua orang anak ini mengatakan alasannya membuka usaha ini karena, bakso adalah makanan yang banyak digemari. Meskipun terus-terusan mengonsumsi, masyarakat tak pernah bosan.
Baksonya pun ia buat sendiri bersama istri. Menurutnya rasa adalah yang utama. Setelah melewati proses pencarian rasa yang pas oleh tangannya sendiri. Eli Mutida mulai percaya diri akan kualitas rasa ciptaannya. Hasil resepnya yang hingga kini masih ia pergunakan, tanpa mengubahnya lagi.
Ia menceritakan sedikit bagaimana cara membuat bakwan. Pertama, daging digiling hingga halus lalu dicampur dengan bumbu. Jika ingin membuat pentol kasar, daging yang telah halus dibaur dengan daging yang dicacah. Setelah dibentuk bulat bakso di rebus sekitar 20 menit.
Pentol yang ia jual mematok harga Rp 1000 untuk ukuran kecil halus atau kasar dan Rp 5000 bagi yang berukuran besar. Untuk siomay daging atau gubis, tahu goreng maupun kukus, dan gorengan dihargai Rp 500 perbiji. Tak ada ketentuan per mangkuknya. Harga per porsi ditentukan pembeli sesuai selera dan keinginan. Modal awal yang dikeluarkan pria kelahiran 23 Maret 1973 ini, untuk membangun usaha, sebesar Rp 7.000.000. Sekarang omset yang ia kantongi bisa mencapai Rp 2.000.000 perhari.
Yang unik, jika Eli Mutida belum berada di tempat jualannya yang biasa, maka konsumen yang tahu rumahnya akan mendatangi langsung untuk membeli. Selain dari segi rasa, dagangannya kian laris manis sebab keramahtamahan yang ia tawarkan.
Setiap hari, baksonya pasti habis diserbu pelanggan. Terkadang, ia merasa kewalahan saat melayani pembeli “Saya ingin memiliki karyawan, tapi belum sempat cari,” kata Eli pekan lalu. Selain berjualan di-stand yang ia sewa. Lelaki berkulit sawo matang ini juga menerima pesanan untuk berbagai acara.
Mengetahui lezatnya bakso dagangannya, Eli Mutida, bersikeras untuk tak buka cabang. Yang ia takutkan ketidakmampuannya dalam proses produksi. “Kalau buka cabang, belum tentu saya menyanggupi. Yaa…, jalani saja dulu seperti ini, doakan saja laku terus,” tambahnya. (Aldilla/Dewi/Febe)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas