Inspirasi

dr. Rosaline Irene Rumaseuw: Penderita Kanker Serviks di Papua Tertinggi di Indonesia

dr rosaline (ketiga dari kiri) bersama presiden jokowi

Jumlah penderita kanker serviks di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Yang memprihatinkan kebanyakan penderita baru memeriksakan dirinya ke dokter setelah penyakit itu stadium lanjut. Padahal jika terdeteksi masih stadium dini, penyakit ini mempunyai peluang kesembuhan yang cukup besar.
Papua, kata dr. Rosaline Irene Rumaseuw, merupakan salah satu provinsi yang jumlah penderita kanker serviks tertinggi di Indonesia. Hal ini, sungguh memprihatinkannya. Apalagi, banyak penderita kanker serviks disana menolak menjalani pengobatan atau menolak kembali ke rumah sakit karena merasa pengobatan yang dilakukan akan berakhir sia-sia. Ditambah lagi, mereka merasa pengobatan kanker mahal dan sayang menggunakan uangnya untuk membiayai pengobatan penyakitnya.
“Kanker ini menjadi masalah terbesar untuk wanita. Ketika saya berhadapan langsung dengan mama-mama di sana (Papua-red) dan mendiagnosa mereka kanker, mereka tatapannya langsung kosong. Ini menjadi masalah buat saya, karena mereka tidak akan kembali lagi ke rumah sakit,” ungkap dr. Rosaline dalam acara HUT ke-17 Perkumpulan ‘Srikandi’. Organisasi istri-istri warga negara asing ini merayakan HUT nya dengan menggelar acara gala dinner untuk memberi dukungan kepada perempuan Papua Barat yang berjuang melawan kanker serviks dan AIDS.

Setiap tahunnya, kata dr. Rosaline yang juga President Lions Club Jakarta Centennial Cendrawasih, diperkirakan sekitar 546 perempuan Papua meninggkal karena kanker serviks. Hal ini disebabkan karena banyak yang kurang paham mengenai bahaya dan pengobatan penyakit tersebut.

“Saya selalu tanya kenapa mereka tidak mau kembali lagi. Mereka bilang itu penyakit mahal, daripada saya buang-buang uang lebih baik saya tabung uang untuk sekolah anak-anak atau memberikan pakaian layak untuk suami saya. Karena suami saya kerja dan harus tampil rapi,” ungkapnya menirukan perkataan penderita yang ditemuinya di Biak.

Hal lain yang menjadi keprihatinan Rosaline adalah masih tingginya kepercayaan masyarakat pada hal-hal mistis. Sebagian masyarakat lebih percaya pada pengobatan mistis, mendatangi ‘orang pintar’ misalnya, ketimbang ke berobat ke rumah sakit. Hal inilah yang harus dicarikan solusinya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan edukasi terus-menerus kepada masyarakat. “Mereka lebih percaya kesembuhan bisa didapat ketika mereka mendatangi ‘orang pintar’. Makanya saya selalu mengedukasi mereka kalau sakit jangan cari ‘orang pintar’ tapi cari dokter,” ujar wanita asal Papua itu seraya menyebut usia tertinggi penderita kanker di Papua adalah 15-44 tahun.

Lebih jauh Rosaline berbicara tentang karakteristik penderita serta latar belakang budaya yang terkait dengan penyebaran penyakit ini. Menurutnya, kebanyakan penderita kanker serviks di Papua tinggal di daerah pegunungan dan penyakit ini menular lewat hubungan seks. Di Papua, tambahnya, ada tradisi dimana seorang kepala suku memiliki banyak istri. Semakin banyak istri, status sosial

Menurutnya, kebanyakan para penderita kanker serviks di Papua tinggal di daerah pengunungan dan penularan penyakit ini kebanyakan lewat hubungan seks bebas. Di Papua, jelasnya, mempunyai semacam tradisi dimana seorang kepala suku mempunyai banyak istri.

“Penyebaran virus penyakit ini disana bukan karena para penderitanya berprofesi sebagai pekerja seks komersial atau PSK tapi suami yang memiliki banyak istri. Para mama itu bukanlah penjaja seks. Tapi tradisi di sana, semakin banyak istri seorang kepala suku maka status sosial yang bersangkutan semakin hebat,” ujarnya sambil menyebut Biak adalah kabupaten tertua di Papua yang memilik jumlah kasus terbanyak. Untuk itu, kata Rosaline, mengedukasi masyarakat tentang berbahayanya penyakit ini bukan hanya terhadap para wanita tapi juga kalangan laki-laki atau pasangannya.

Selain dari permasalah si penderita sendiri, tingginya jumlah penderita kanker serviks di Papua juga disebabkan karena penanganan penyakit tersebut belum maksima. Bayangkan saja, untuk mengetahui diagnosa dan hasil laboratorium, sampel materi yang diambil dari rahim penderitanya memerlukan waktu lama karena sample tersebut terlebih dahulu dikirim ke Surabaya.

Data menyebutkan jumlah perempuan penderita kanker serviks di Indonesia sekitar 21 ribu kasus per tahun. Tingginya angka ini membuat Indonesia berada di urutan dua dunia jumlah penderita kanker serviks terbanyak. Tercatat, dari 92 ribu kasus kematian karena kanker, 10,3% di antaranya merupakan penderita kanker serviks.

Yang tak kalah mengkahwatirkannya, kini usia penderita menjadi semakin muda. Kalau di Papua range-nya antara usia 15-40 tahun maka secara umum kisaran usia penderita adalah 21-22 tahun. Menurut hasil penelitian dari organisasi kesehatan dunia (WHO), salah satu penyebabnya adalah kurangnya skrining penyakit tersebut. Seringkali, orang memeriksakan dirinya ke doketr ketika kanker sudah menyebar ke organ lain di dalam tubuh. (Diana Runtu).

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas