Sosialita

Eka Wiryastuti: Bagikan Ilmu Kasih

Kehadiran buku “Investasi Hati” yang diluncurkan tahun lalu, mengenalkan siapa sosok Bupati Tabanan Eka Wiryastuti dan bagaimana perjuangannya untuk menjadi seorang pemimpin. Buku ini telah membawa Eka Wiryastuti, mengeluti profesi baru menjadi pembicara di kampus-kampus di seluruh Indonesia. “Awalnya, bedah buku “Investasi Hati” di UGM Yogyakarta, sejak itu malah banyak tawaran untuk saya menjadi pembicara di kampus. Malah sudah ada penawaran sampai tahun 2018. Sepanjang saya ada waktu, saya pasti oke,” ujarnya. Ia mengatakan sangat bangga, karena banyak mahasiswa sudah datang melihat BUMDes dan pariwisata di Tabanan. Menurut Eka Wiryastuti, sesungguhnya, ia senang berbagi, baik itu berbagi pengalaman, cerita kesuksesan, dan kecerdasan. Itulah yang dilakukan dengan buku “Investasi Hati”. “Saya ingin berbagi pengalaman kepada generasi muda dan berharap, ada manfaatnya bagi mereka. Untuk bulan November ini, agenda untuk mahasiswa Antropologi se-Indonesia tanggal 15 November di Kampus Universitas Udayana dan di kampus IPDN, tanggal 24 November. Intinya, saya membagikan virus positif,” ujar Eka.
Ia selalu menekankan kepada gene­rasi muda, mumpung masih muda, punya kesempatan dan fasilitas ada, rata-rata gene­rasi muda sekarang bisa kuliah, sayang sekali jika mereka tidak bermanfaat untuk sesama, lingkungan, dan bangsa. “Biasanya, saya akan bedah sila-sila Pancasila, saya masukkan juga soal keimanan dan keyakinan mereka, tidak ada agama itu yang jelek, semua mengajarkan kebaikan, tinggal oknumnya saja. Misalnya agama A, tapi tidak pernah menjalankan ajarannya, sama saja dengan makhluk tanpa identitas. Semua agama mengajarkan kasih, karena tidak ada kasih, makanya perang, perang intelektual, perang kekuasaan dan kesombongan. Bangsa kita ini melawan bangsanya sendiri,” kata Eka Wiryastuti.
Ia sendiri mencontohkan, para pengungsi yang ditampung di Tabanan. Kebutuhan mereka semua sudah disediakan. Para pengungsi ini tidur di kasur pakai selimut. Mulai urusan odol dan sikat gigi ia urus, termasuk pamper, susu bayi. “Saya punya posko seperti mini market semua tersedia lengkap. Semua ini karena kasih, bukan karena saya baik karena ingin sesuatu,” kata Eka. Ia terinspirasi dari raja-raja Majapahit zaman dulu. Mereka adil kepada rakyatnya. Semua itu karena kasih. “Saya memulai ilmu kasih ini yang saya sebut sebagai investasi hati. Saya punya tongkat, saya gunakan untuk rakyat,” ujarnya.
Eka selalu berprinsip, kalau ngayah itu tidak usah lihat tempat atau ruang, pokoknya jalan saja, yang penting berbuat, bersyukur, berdoa, dan berbagilah. “Tuhan itu sudah ngasi sesuatu, Tuhan ngecek manusianya sudah dikasih sesuatu apa dia mau berbagi kepada orang lain, makanya kita perlu selalu bersyukur, berdoa, dan berbagi, agar kita terus dikasi rezeki oleh Tuhan,” tegasnya.
Ia berprinsip, urusan kesuksesan juga harus dibagikan. “Jika kita mampu dan dianggap baik atau sukses, wajib kita sebarkan, agar jangan sampai kesuksesan itu milik kita sendiri. Kalau bicara Bali, kalau hanya di Tabanan yang bagus, artinya Bali belum bagus, Utara, Timur, Barat, Selatan, harus bagus semua. Kabupaten lain bisa meniru, saya siap mengajari. Saya senang TranSerasi juga diadopsi Klungkung, sekarang anak-anak sekolah bisa naik bus ke sekolah dan aman,” ujarnya.
Intinya, kata Eka, dia orangnya selalu terbuka untuk berbagi. “Malah, saya ini dianggap penasihat terutama oleh generasi muda dan kaum ibu. Banyak yang datang ke saya minta saran dan nasihat. Saya merasa terharu,” ucap perempuan berusia 42 tahun ini.
Ditanya trik suksesnya menjadi pembicara, Eka Wiryastuti punya kiat sukses tersendiri. Kuncinya, kata Eka, semua kembali ke hati, lepas tanpa embel-embel. Ada motivasi untuk kepentingan orang yang banyak. “Saya ibaratkan seperti pemuka agama memberi wejangan. Dia punya niat ingin menyampaikan amanah kepada orang lain dan berharap orang yang men­dengar mau melaksanakan. Saya juga tidak perlu dibayar karena saya punya motivasi untuk menularkan virus positif kepada mereka,” ucap bupati yang sudah menjabat dua periode ini.
Menurut penuturan Eka, ia merasa easy going, lepas tanpa beban saat menjadi pembicara. “Saya merasa, ada unsur alam mengikuti saya. Saya tulis poin-poin yang akan diomongkan kemudian meditasi. Saat menjadi pembicara ya ngalir begitu saja, orang bilang taksunya ada. Kadang, saya selipin juga joke. Saya lebih suka banyak video, bercerita pengalaman. Jadi suasananya hidup,” ujarnya memberi tips sebagai pembicara yang andal. (ast)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas