Life Story

Perjuangan Mencari Tirta Sungai Gangga

Melakukan tirtayatra ke India, salah satu agendanya berkunjung ke Mansa Devi Mandir Temple. Sebuah kuil Hindu yang didedikasikan untuk Dewi Mansa di kota suci Haridwar di Negara bagian Uttarakand India. Pura ini terletak di atas Bilwa Parwat di Bukit Sivalik, lantai pegunungan paling selatan di Himalaya. Untuk naik ke kuil ini pengunjung dapat menggunakan cable car.
Menjadi satu pengalaman yang berkesan, karena pada saat saya datang ke sana, hujan lebat dan angin kencang menyambut kedatangan saya bersama rombongan. Uniknya lagi, banyak jalan ditutup karena kedatangan Presiden India, sehingga mengharuskan kami berjalan kaki untuk mencapai tempat cable car.
Di tengah hujan lebat kami berjalan menelusuri jalan berbelok dan agak menanjak. Di sekeliling perjalanan, tampak berjejer warung makanan kaki lima khas makanan lokal dan penjual suvenir. Sekitar 20 menit berjalan, kami berhasil mencapai tempat cable car berada. Setelah melakukan pemeriksaan yang super ketat, kami mendapatkan tiket untuk naik cable car.
Satu cable car dinaiki empat orang penumpang. Perjalanan naik cable car hanya memerlukan waktu 5 menit. Walaupun hanya sebentar, pemandangan indah terlihat dari atas bukit saat naik cable car. Kemudian, kami berjalan menuju beberapa kuil yang berada dalam satu lokasi di Dewi Mansa Temple. Untuk persembahan, kami membeli sarana persembahyangan, seharga 100 Rupee. Isinya, satu buah kelapa, dua buah roti kering, dan beberapa bunga.
Di sekitar kuil banyak pedagang yang menjual makanan dan suvenir khas India. Namun, karena sudah diberi masukan pemandu wisata yang mengantar kami, agar tidak sembarangan berbelanja makanan karena kebersihannya kurang terjaga, dan berhati-hati berbelanja karena wisatawan sering tertipu dengan uang palsu. Jadilah, kami hanya sebagai penonton melihat kondisi ramai pasar senggol ala Dewi Mansa Temple.
Sepulang dari kuil Dewi Mansa Temple perjalanan dilanjutkan menuju Har Ki Pauri dan melakukan Pitra Puja dan Gangga Aarti. Kebetulan, waktu itu, sedang berlangsung perayaan Nawa Ratri. Hujan deras dan angin semakin kencang, namun, kami pun tetap melanjutkan program yang sudah direncanakan.
Acara pertama adalah pitra puja, upacara untuk menyucikan para leluhur di Sungai Gangga. Kami diberi satu persembahan, yang isinya kue kering dan bunga dalam satu wadah daun pisang. Kami diminta menyebutkan nama keluarga yang sudah meninggal, dan mendoakan mereka. Kemudian, menirukan mantra-mantra yang diucapkan pendeta yang memimpin upacara, dan meletakkan persembahan tersebut ke sungai Gangga.
Acara dilanjutkan dengan Gangga Aarti. Kami dipersilakan mandi di sungai Gangga sebelum melakukan pemujaan kepada Dewi Gangga. Kami harus berhati-hati saat mandi, dan harus berpegangan di tepi sungai, karena derasnya air yang mengalir. Kalau tidak berpegangan, bisa-bisa kami hanyut. Waktu itu, jam sudah menunjukkan pukul 18.00, hujan makin deras dan angin kencang membuat air sungai Gangga terasa amat sangat dingin dan menusuk tulang. Saya menggigil kedinginan sembari terus berdoa semoga bisa bertahan sampai upacara selesai. Setelah berganti pakaian, kami melanjutkan doa-doa. Api suci membuat suasana agak menghangat.
Selesai upacara, kami mendapatkan tirta sungai Gangga. Masing-masing orang mendapatkan satu jerigen kecil. Semua orang pulang berbarengan malam itu, karena pintu baru saja dibuka, sehingga suasana amat sangat krodit. Anehnya, walaupun sebelumnya kami berjalan berbarengan, saya dan pemandu tur dari Bali, justru berjalan ke arah yang berbeda. Seperti ada yang sengaja menarik kami ke arah itu. Suasana gelap gulita dan sepi tak ada satupun lampu sehingga kami tidak bisa melihat bus kami. Saya merasa takut sekali, karena hanya kami berdua di sana. Saya menangis sekeras-kerasnya, sederas hujan yang semakin deras mengguyur kami.
Sambil menangis, saya terus berdoa menyebut nama Tuhan dan almarhumah ibu saya. Perjalanan ini merupakan nazar ibu saya ketika dia masih hidup. Saya bertekad mewujudkannya karena ibu sudah meninggal.
Setelah berjalan hampir 30 menit, kami bertemu seorang penduduk setempat yang tidak bisa berkomunikasi bahasa Inggris. Dengan memberanikan diri, teman saya si pemandu wisata, langsung memencet nomor telepon guide India yang ada di bus dan mendekatkan gagang telepon ke orang itu. Terdengar orang itu bicara panjang dengan si guide India. Kemudian orang tadi menunjukkan arah bus kami.
Karena kondisi gelap, kami berusaha berpikiran positif, apa yang disampaikan itu benar. Kami mengikuti petunjuk arah yang dia sampaikan. Namun, karena kondisi gelap gulita, kami tidak tahu jalan yang akan kami lalui banjir lumpur, mungkin tingginya kira-kira 50 cm. Waktu itu, hanya doa yang saya panjatkan agar saya bisa kembali menemukan bus kami. Saat berjalan beberapa langkah, kaki saya terasa ditarik ke dalam lumpur, karuan saja saya berteriak. Teman saya meminta, untuk berjalan pelan-pelan saja, agar selamat dan aman karena kondisi jalan tidak bisa di lihat mata saking gelapnya.
Setelah penuh perjuangan melewati banjir lumpur, kami akhirnya berhasil menemukan bus yang membawa rombongan kami. Sesampai di bus, saya bertanya kepada salah seorang teman, apakah dia melewati banjir lumpur. Teman saya berkata, jalannya aman-aman saja, dan beramai-ramai. Saya langsung terdiam. Hari itu, saya merasakan benar-benar melakukan perjalanan spiritual, penuh rintangan, penuh doa, perlu kesabaran tinggi dan keikhlasan. Mungkin Tuhan sedang menguji keikhlasan dan keberanian saya dalam menghadapi hidup. Saya bersyukur, bisa selamat dan kembali dalam kondisi sehat walafiat. (Wirati Astiti).

Laman: 1 2

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas