Metropolitan

Memburu Batik Lawas

Seiring makin kinclongnya pamor batik, kini bermunculan para pemburu batik lawas. Mereka bukan hanya para kolektor tapi juga pemburu batik lawas untuk kepentingan bisnis. Maksudnya adalah, batik-batik lawas yang didapat di masyarakat kemudian dijual lagi dengan harga tinggi.
Sayangnya yang benar-benar masuk kategori batik lawas dan kuno kini semakin langka dan dimiliki orang terbatas. Beberapa dimiliki oleh para kolektor batik, sebagian dikoleksi oleh para penggemar batik di luar negeri, sebagian lagi ada di masyarakat biasa yang memang menyimpannya karena warisan keluarga.
“Batik lawas atau batik kuno memang sudah sulit dicari. Sebagian sudah hancur fisiknya karena usia kain yang sudah berpuluhtahun atau bahkan yang ratusan tahun. Namun kadang, kalau beruntung, ada juga batik lawas yang masih disimpan masyarakat yang biasanya adalah batik warisan turun temurun. Misalnya buatan tahun 1900-an. Kalau yang kuno, wah itu langka sekali. Tapi mungkin satu atau dua kolektor pasti menyimpannya,” ungkap seorang pemburu batik lawas di Senayan.
Karena sulitnya mendapatkan batik tempo dulu maka ada beberapa kolektor yang berupaya mereproduksi batik tempo dulu karena konon batik-batik kuno memiliki motif-motif unik. Salah satu yang mereproduksinya adalah Hartono Sumarsono, seorang kolektor batik lawas yang juga pengusaha batik terkenal. Kecintaannya pada batik bukan hanya dengan mengoleksi batik-batik lawas tapi juga berupaya mengembangkan batik agar semakin dicintai masyarakat Indonesia. Sumarsono rajin kampanye batik termasuk menyelenggarakan dan mengikuti pameran-pameran kerajinan unggulan juga pameran kain-kain khas Indonesia.
Seperti di Alun Alun Indonesia Grand Indonesia, Jakarta, Hartono menggelar pameran batik-batik lawas hasil reproduksinya. Pameran yang berlangsung hingga 9 Oktober ini menampilkan motif-motif batik kuno yang sudah punah dan hanya bisa kita lihat lewat foto-foto di buku. Salah satu yang ditampilkan adalah motif batik karya pembatik asal Belanda Carolina Maria Meyer yang dibuat tahun 1880. Karya lainnya adalah milik Kwee Siaw Tjay.
“Di Batik Citra Lawas kami mempertahankan motif asli batik kuno dengan batik tulis. Kami juga berinovasi dengan warna dan latar belakang untuk membuat motif berbeda,” ungkap Hartono yang pada saat yang sama juga menggelar pameran hasil reproduksi batik lawas di pameran Dekranas yang berlangsung di Jakarta Convention Center.
Menurut Hartono, dia sengaja mereproduksi batik-batik lawas itu agar generasi muda tahu tentang perkembangan motif batik dari dulu hingga sekarang. Jadi mereka tidak hanya melihat di foto tapi juga melihat wujud kain batik meski itu hasil reproduksi. “Misinya, agar motif batik lawas tidak punah,” ujarnya.
Selain karya CM Meyer dan Kwee Siaw Tjay, dia juga mereproduksi batik karya Ny L Metselaar, Ny B Fister, Oh Yoe Nio, dll, yang berasal dari berbagai daerah seperti Pekalongan, Banyumas, Cirebon, Tegal, Kudus dan Lasem yang dibuat antara tahun 1970-1940-an.
Hasil reproduksi tersebut, tambahnya, sebagian dikoleksi sendiri oleh Hartono sedang sebagian lagi dijual ke para pencinta batik lawas. Keputusannya menjual batik-batik hasil reproduksinya bukan semata-mata bisnis tapi lebih kepada agar motif batik lawas yang pernah dimiliki Indonesia menyebar ke masyarakat.
Saat ini, lanjutnya, dia juga mendapat banyak permintaan dari teman sesama kolektor untuk mereproduksi motif batik-batik lawas. Hanya saja, katanya, untuk mengerjakan reproduksi tersebut memakan waktu yang cukup lama. Seperti halnya membatik maka pengerjaan reproduksi batik lawas itu juga memakan waktu dari 3-6 bulan, tergantung kerumitan coraknya. Soal harga, ditentukan lamanya pengerjaan juga kerumitan motif. “Harganya lumayan mahal karena pengerjaannya memerlukan waktu lama,” ucap Hartono yang mulai mengoleksi batik sejak tahun 1980 ini.

Laman: 1 2 3

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas