Sudut Pandang

Menyesal Jual Batik Warisan

Connie Sutedja dan Maya

Masyarakat Indonesia semakin bangga dengan batik yang merupakan warisan nenek moyang. Maya Septha dan Connie Sutedja adalah di antaranya. Maya yang namanya mulai dikenal setelah membintangi film ‘Gotcha’ mengaku sangat suka batik dan rajin memburu motif-motif batik yang unik. Tidak hanya itu, ia juga merancang gaun batiknya sendiri. Ia mengaku, meski tidak seperti kolektor batik namun ia memiliki sejumlah kain batik untuk dikoleksi.
“Aku pengagum batik. Aku punya beberapa koleksi, tidak banyak lah,” ungkap Maya yang memproduksi sendiri kebanyakan baju-bajunya. “Kebanyakan aku produksi sendiri ya. Misalnya mulai dari pembelian kain, memilih motif, warna, sampai desainnya,” kata artis yang banyak tampil di acara-acara komedi ini.
Batik tulis sutera, ujar Maya, paling digemarinya. Selain warnanya menarik juga nyaman dipakai. “Aku senang dan bangga karena masyarakat kini begitu mencintai batik yang merupakan budaya Indonesia. Kita ini memiliki banyak budaya bagus, salah satunya ya batik. Sebagai bangsa, kita harus melestarikan dan memajukannya. Ngapain kita ikut-ikutan berkiblat ke budaya asing, kita sendiri kan punya banyak budaya bagus. Batik adalah budaya kita, maka kita harus letarikan dan kembangkan, memakainya karena itu adalah kepribadian bangsa,” ujar ibu dua anak ini.
Hal yang sama juga disampaikan oleh artis senior Connie Sutedja. Artis gaek yang sampai sekarang tetap eksis di blantika hiburan Tanah Air, khususnya akting, mengaku sejak kecil telah mencintai batik. Hal itu karena ibunya yang rajin mengenalkan batik kepada anak-anaknya.
“Ibu saya, yang namanya orang dulu ya, tiap hari berkebaya dengan kain batik. Dulu itu kalau ibu sedang merapikan koleksi kain-kain batiknya saya kerap membantu. Jadi kepada kami, khususnya saya, dia bercerita bahwa motif-motif batik itu bukan sekadar gambar biasa tapi ada filosofi yang terkandung di dalamnya. Jadi ibu kerap menjelaskan motif batik ini-itu maknanya apa. Karena seringnya, tak sadar kalau akhirnya saya pun jadi suka batik. Apalagi tahu kalau membuat batik itu tidak mudah, perlu waktu berbulan-bulan untuk menghasilkan batik tulis yang siap pakai,” kata wanita kelahiran tahun 1944 ini.
Ketika anak-anak sudah dewasa, ujar Connie, ibunya pun membagikan koleksi batik miliknya kepada anak-anaknya yang berjumlah sembilan orang. “Semua anak, baik laki-laki maupun perempuan dapat batik. Yang dibagikan ibu bukan batik biasa tapi batik-batik lawas bahkan ada juga batik kuno koleksi ibu,” tuturnya.
Cony mengaku dirinya cukup banyak mendapat pembagian batik warisan sang ibu. Namun sayang katanya jumlah koleksinya kini semakin menyusut. “Hahaha…saya ini kan mata duitan ya..hahhaha, jadi ada teman-teman senang melihat batik koleksi saya lalu ingin membeli, ya saya kasih. Awalnya saya senang karena keuntungan menjual batik lawas, batik antik, cukup lumayan juga. Tapi lama-lama saya merasa menyesal juga karena akhirnya koleksi batik lawas saya semakin sedikit,” kata Connie sambil tertawa.

RUANG PENYIMPANAN KHUSUS

Sekarang, tambahnya, koleksi batik lawasnya hanya tersisa 20 lembar. “Saya kapok jual batik lawas, sayang,” ucapnya. Apalagi, ungkap Connie yang mulai berkiprah di dunia per-film sejak 1965, suatu ketika ia mendapat cerita dari temannya bahwa batik lawas dibelinya dia jual kembali ke seorang kolektor.
“Teman saya cerita, batik lawas yang dia beli dari saya, eh, dia jual lagi ke kolektor. Karena katanya kolektor itu sangat tertarik dengan motif batik lawas itu. Teman saya cerita sambil tertawa-tawa, katanya, dia dapat untung lumayan dari menjual batik itu. Saya pikir, wah, saya kira dia mau pakai sendiri batik dari saya, ternyata dijual lagi. Ya saya agak menyesal juga. Dari cerita itu saya semakin tidak ingin menjual batik-batik lawas koleksi saya,” ungkap Connie yang hobi mengoleksi barang-barang antik.
Selain batik lawas, kata Connie, dia juga mengoleksi batik-batik motif baru dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Cirebon dan batik-batik di luar Jawa. “Saya juga punya batik Papua. Kebetulan ketika saya berkunjung ke sana diberi souvenir batik khas daerah itu. Seperti batik pada umumnya, motif-motif batik Papua juga memiliki makna tersendiri,” ungkapnya.
Agar koleksi batiknya awet, tambahnya lebih lanjut, dia membuat ruang penyimpanan khusus. “Agar batik tahan lama harus dijaga jangan sampai kena ngengat. Bisa hancur itu kain. Apalagi kain batik saya usianya sudah berpuluh tahun, ya maklum itu kan milik ibu saya. Jadi di ruangan penyimpanan selain dijaga jangan sampai lembab juga saya menaruh semacam kayu cendena yang mengeluarkan aroma wangi tajam. Tujuannya agar serangga seperti ngengat dan lain-lain tidak mendekat,” katanya.
Connie mengaku sebelum batik populer seperti sekarang dia sudah suka memakai batik. Karena itu, ketika kini batik booming dan orang memakainya di setiap waktu dan kesempatan, dia mengaku senang dan terharu. “Saya bangga dan haru kini masyarakat mencintai produk negeri sendiri. Apalagi kalau melihat wanita memakai kebaya, perasaan saya haru banget ya, saya ingat ibu yang dulu sehari hari memakai kebaya dan kain batik,” ungkapnya.
Menurut Connie, di luar koleksi batik warisan dia memiliki koleksi batik biasa yang harganya tidak terlalu mahal. “Saya suka batik yang bahannya nyaman dipakai dan motif serta warnanya menarik dan unik,” kata Connie sebelum berangkat ke lokasi syuting sinetron ‘Gali Lobang Tutup Lobang’. “Ini syuting terakhir, ceritanya habis,” katanya tertawa. (Diana Runtu)

Laman: 1 2

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas