Inspirasi

Gus Teja Luncurkan “Sundara”: Merakit Memori jadi Koleksi Pribadi

Sebuah perjalanan yang tak akan pernah terlupa. Bertemu dengan masyarakat perdesaaan yang ramah dan menikmati pemandangan indah buah karya Yang Maha Kuasa. Itu adalah sinopsis dari alunan suling berjudul “Journey” yang dimainkan Gus Teja.
“Journey” yang dimainkan saat show case peluncuran album Sundara didedikasikan bagi masyarakat sekitar Gunung Agung yang sedang mengungsi. “Semoga lagu-lagu di album Sundara ini bisa ikut memberi sumbangsih dalam menyebarkan energi positif. Kepada para pengungsi erupsi Gunung Agung, semoga semua pengungsi tegar dan kita semua berharap cobaan ini cepat berlalu,” harapnya.
Bagi pecinta musik, pasti mengenal alunan suling Gus Teja. Pria bernama lengkap Agus Teja Sentosa ini berhasil membawa alat musik tiup ini naik ke level tinggi. Bersama Gus Teja World Music, mereka sudah melanglang buana memperdengarkan alunan suling yang dipadukan dengan alat musik modern dan tradisional.
Gus Teja juga aktif mengeluarkan album. Album “Rhythm of Paradise” dirilis tahun 2009, disusul “Flutes for Love” tahun 2011, dan “Ulah Egar” tahun 2015. Kini, album “Sundara” siap menghibur penikmat musik. Album ini diluncurkan Kamis (5/10) di Kumulilir, Tegallalang, Gianyar.
“Sundara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya cantik, indah. Melalui album ini saya mendefinisikan Sundara sebagai suara suling yang indah yang membawa kedamaian dan ketenangan bagi jiwa. Selain itu, Sundara ini saya persembahkan untuk istri saya Agung Endang Yuliati yang selalu mendukung saya,” ujar Gus Teja dalam acara yang dipandu Ayu Saraswati dan Mark Harrison ini.
Album “Sundara: terdiri dari 10 lagu, “Awan Putih”, “Sandikala”, “Danu Suci”, “Kidung Giri”, “Sundara”, “Journey”, “Janger”, “Nagaraja”, “Saraswati”, dan “Langit Biru”. “Satu hal yang membedakan album Sundara dengan album terdahulu adalah, album solo ini untuk merakit memori jadi koleksi pribadi. Cara komposisinya beda dengan tiga album sebelumnya. Album terdahulu dibantu gamelan. Sekarang hanya suling dan dibantu gitar. Suling harus bisa tunjukkan jati dirinya sendiri, tanpa dibantu gamelan lain,” tegas putra dari I Nyoman Kadjil dan Ni Wayan Darpini ini.
Ia menambahkan dalam berkarya selalu mencari tantangan dan mencoba sesuatu yang baru. Album pertama, ia hanya memakai suling Bali. Album kedua menggunakan alat tiup berbagai negara. Album ketiga musik up beat. Album keempat hadir dengan suling spesial yang panjangnya satu meter. Nanti di album kelima yang sedang dipersiapkan, Gus Teja kembali bersama Gus Teja World Music dan tampil full band.
SULING SATU METER
Gus Teja mengaku sejak kecil sudah menyukai suling. Album Sundara ini pun terinspirasi dari perjalanan hidupnya. Sebagai orang biasa, musisi, suami, ayah, dan impian untuk jadi orang yang berguna. Lagu-lagu yang dihasilkan penuh dengan harapan dan syukur.
Ia juga menuturkan lagu “Sandikala” tentang masa kecil di saat yang hening. Setelah bermain di sore hari dan menjelang malam, sesaat sunyi. Dunia seakan berhenti. Perasaan itu pasti pernah dialami semua orang. Mendengar Gus Teja bermain suling dalam lagu ini akan membawa kita kembali ke masa lalu yang hening.
Mengenai rintangan saat membuat komposisi, Gus Teja pun membeberkan. Ia hanya menggunakan gitar dan suling. Alat musik minimalis namun ada makna dalam di tiap lagu. Rintangan berikutnya saat membuat suling sepanjang 1 meter. Suling ini spesial untuk “Sundara”. Ia yakin, apa yang dibuat dengan hati ketika didengarkan dengan hati dan telinga akan menghasilkan keindahan.
Proses rekaman yang dilakukan di Jakarta dan Bali, dengan sound engineering beda menjadi rintangan juga. Namun Gus Teja fokus merefleksikan musik dan para sound engineering paham apa yang diinginkan Gus Teja.
“Saya beruntung dikelilingi orang-orang baik dan peduli. Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung saya,” tegasnya. (Ngurah Budi)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas