Dara

Putu Agus Setiawan: Tetap Berkarya dalam Keterbatasan

Keterbatasan fisik rupanya tidak menjadi halangan untuk terus mengembangkan diri. Bahkan dibalik kekurangan yang dimiliki, Tuhan menyelipkan kelebihan luar biasa yang tidak dimiliki orang lain. siapa sangka dibalik fisiknya yang lemah ternyata tersimpan semangat juang yang begitu besar.
Ialah Putu Agus Setiawan. Pria kelahiran 14 Februari 1987 ini terlahir dengan tidak sempurna. Sejak kecil Agus sapaan akrabnya telah mengalami kelainan fisik. Tangan dan kakinya tumbuh kecil sehingga tidak mampu menopang berat tubuhnya. Sehari-hari selama bertahun-tahun agus hanya menghabiskan waktunya di rumah bersama ibu dan kedua orang adiknya. Ayah dan salah seorang saudaranya telah dipanggil yang maha kuasa. Bahkan Agus harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk mengenyam pendidikan.
Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan, akan tetapi Agus pandai membaca bahkan dirinya terbilang aktif di media sosial. Untuk ukuran anak difabel, Agus termasuk kritis dalam menyikapi dan melihat kondisi sosial yang sedang terjadi di sekitarnya. Dirinya bahkan sering membuat status yang isinya memotivasi pembaca. Dari kekurangan ia belajar menggali kelebihan yang ada pada dirinya. Menulis adalah salah satu kegiatan yang disukai Agus. “Saya suka menulis apalagi kata-kata motivasi,” ujarnya pria yang tinggal di dusun Yehanakan, kecamatan Seririt.
Melalui akun facebook Agus Kpopers, ia sering menuangkan tulisan-tulisan memotivasi seseorang untuk tetap semangat dalam menjalani hidup. Hingga akhirnya salah satu rekan di akun tersebut menawarkan ia untuk menulis sebuah buku. “Ada teman yang sering membaca tulisan saya, ia menawarkan untuk menulis buku. Ia menilai tulisan-tulisan saya di facebook lumayan,” paparnya.
Agus mencoba menulis dan telah menyelesaikan buku pertamanya. Sebuah naskah biografi mengenai kisah hidup keluarganya ia persembahkan kepada Ibu tercinta. Buku yang berjudul Kisah Hidup Ni Komang Warsiki berisi tentang perjalanan hidup ibunya sejak kecil hinga bertemu dan menikah dengan ayahnya. “Berkisah tentang perjalan Ibu, dari kecil hingga memiliki anak-anak,” imbuh pria yang bulan lalu sempat diundang di acara yang dipandu oleh Dedy Corbuzier tersebut.
Meskipun tidak pernah belajar menulis secara khusus, namun Agus mengaku hanya menggunakan bahasa sederhana dan mudah dimengerti pembaca. Ia berharap, kisah yang sudah ia tulis dalam buku mampu menginspirasi banyak orang. Bahkan kendala dalam menulis buku berdasarkan kisah nyata itu pun tidak menyurutkan niatnya. Agus mengaku menyelesaikan buku tersebut selama tujuh bulan sebab ia harus mengetik menggunakan satu jari. Bahkan komputer yang digunakan pun sempat rusak sehingga menunda pekerjaanya. Kesulitan mencari penerbit untuk menerbitkan bukunya pun juga menjadi salah satu kendala.
Perjuangannya selama ini berbuah manis, buku yang selama ini ditulis telah laku terjual sebanyak 500 eksemplar pada cetakan pertama. “Bukunya baru selesai cetak dua minggu lagi, tetapi responnya luar biasa, bahkan terjual 500 eks dalam satu minggu,” ujarnya. Dirinya mengaku akan terus berkarya walaupun dalam kondisi yang serba terbatas demi memberi motivasi dan menginspirasi banyak orang. (Wiwin Meliana).

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas