Kuliner

Ronde Matoh: Bisa Panas bisa Dingin

Aromanya menggugah selera. Perpaduan kuah hangat serta bola-bola tepung ketan lezat nan kenyal dengan rasa khas rempah Indonesia. Ya, siapa tak kenal wedang ronde, disajikan dalam semangkuk porsi kecil bertabur kacang gurih menambah sensasi bagi penikmatnya.
Ronde adalah menu tradisional merakyat yang kaya manfaat. Mampu menghangatkan tubuh serta melancarkan peredaran darah berkat kandungan herbal yang terdapat di dalamnya. Menurut sejarah, ronde adalah makanan tradisional Tionghoa dengan nama asli Tāngyuán. Terbuat dari tepung ketan, dicampur sedikit air lalu dibentuk menjadi bola, direbus, dan disajikan dengan kuah manis.
Di salah satu sudut Surabaya, terdapat sebuah kios ronde dan angsle yang cukup fenomenal, yaitu Warunge Mas Pra1. Anda bisa menemukan aneka varian ronde dengan berbagai isian bernama Ronde Matoh. Mulai dari Ronde Matoh Ori, Ronde Matoh Keju, Ronde Matoh Kurma, hingga Angsle Matoh. Menurut sang pemilik, Pramudito, matoh sendiri memiliki arti enak, diambil dari bahasa Bojonegoro.
“Ronde yang kita sajikan tidak konvensional dan bisa diinovasi dengan berbagai isian,” kata pria yang akrab disapa Mas Pra tersebut.
Uniknya lagi, pelanggan bisa order ronde dingin bagi yang tidak suka panas. Cukup ditambahkan es batu jadilah ronde segar namun tetap menyehatkan.
“Ada yang minta ditambahkan es batu bagi yang tidak suka panas. Kita berpikir bahwa ronde tidak identik dengan menu malam,” tambahnya.
Ronde kurma menjadi menu favorit pilihan pengunjung. Kelezatan kurma dalam tiap gigitan bola-bola tepung ketan, kenyalnya kolang kaling dan jelly, serta kerenyahan kacang sungguh menggoda selera. Ditambah rasa kuah paduan resep khusus jahe bakar, pandan, sere dan kayu manis makin menghangatkan tubuh di cuaca angin kemarau maupun musim penghujan.
“Yang membedakan dengan lainnya, jahe dibakar dulu supaya tenggorokan sensitif bisa menikmati menu ini,” terang suami dari Widi Kurniati tersebut.
Selain ronde, Warunge Mas Pra juga menjual menu otentik lain. Seperti Ketan Belai (bumbu kedelai), Ketan Kutil dengan campuran kacang, Ketan Ayu, Ketan Miss Sus, Ketan Sus Chezz, Ketan Arab, Ketan Cream Pelangi, dan Ketan Kuah Duren. Semua menu tersebut dibanderol harga mulai dari Rp 9000 – Rp 12.000 saja.
“Makan apapun minumnya ronde. Justru kebanyakan cuaca panas banyak yang minum ronde,” imbuh sang istri, Widi Kurniati.
Mas Pra mengawali usaha sejak 2009 silam di Sidoarjo. Sempat vakum karena kesibukan serta mengobati kerinduan para pelanggan setia, akhirnya ia bersama istri kembali berjualan di Lambe Toerah, Kawasan Jalan Kendangsari, Surabaya. Mulai pukul 08.00 – 22.00. Dengan tagline “Warunge Mas Pra1, Gak Cuma Bikin Kenyang Perut”, pria kreatif ini mampu menghadirkan inovasi kuliner yang sayang jika dilewatkan begitu saja saat bertandang ke Surabaya.(Lely Yuana)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas