Nine

Mengais Rezeki di Pantai Tanjung An

Pedagang di Pantai An

Seperti di hari-hari libur lainnya, bibir pantai Tanjung An Lombok Tengah dipenuhi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pantai An menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak dikunjungi. Terutama yang berdekatan dengan Bukit Merese, perbukitan yang terletak di sekitar pantai selatan Lombok yang sedang sangat diminati sebagai tempat wisata. Dari atas perbukitan ini, keindahan pantai selatan, seperti Pantai Kuta dan Tanjung An dapat dinikmati dengan leluasa. Pantai yang bening serta pasirnya yang putih, membuat pengunjung betah berlama-lama menghabiskan waktu liburannya.
Para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini, rata-rata mereka yang datang berkunjung menghabiskan waktu seharian, tidak menginap di sekitar objek wisata ini. Karena itulah kebutuhan makanan dan tempat membilas menjadi salah satu kebutuhan utama wisatawan. Meski sebagian wisatawan lokal ada yang membawa makanan sendiri, banyak juga yang memilih praktis makan di tempat wisata ini. Makanan yang dijual memang makanan sederhana dengan harga murah meriah.
Banyaknya pedagang yang jualan di sepanjang bibir pantai memudahkan para pengunjung untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama menghabiskan waktu liburannya di pantai ini. “Meski pun hanya nasi bungkus atau makanan sederhana lainnya, kami tidak perlu repot membawanya dari rumah. Jadi lebih praktis karena ada dijual di sini,” ungkap Linda, pengunjung Pantai An dari Mataram.
Puluhan pedagang di Pantai An setiap hari menggelar dagangannya dari pagi hingga sore hari, melayani para pengunjung dengan berbagai kebutuhannya seperti makanan, camilan dan minuman hingga kopi dan teh. Para pedagang ini rata-rata perempuan yang mencari nafkah untuk membantu ekonomi keluarganya. Para perempuan yang berjualan di sini adalah mereka yang berasal dari sekitar Pantai Kuta dan Pantai Tanjung An, seperti Desa Kuta, Dusun Ngolang, Gerupuk, Penyeli, Sekembang, Bunut Pokam dan lainnya. Ada pula penduduk setempat yang mencari rezeki dengan berjualan makanan di sini. (Naniek I. Taufan)

Liburan, Masa Emas Pedagang
Salah satunya adalah Inaq Hamzanwadi yang berasal dari Dusun Ngolang Desa Kuta yang berjualan makanan kecil dan kebutuhan lainnya di bawah bukit Merese di Pantai Tanjung An. Lebih dari dua tahun ia berjualan di tempat ini, diakui hasilnya sangat membantunya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ia berjualan dari pagi hingga sore setiap hari khususnya di waktu libur tiba. Karena hari-hari libur itulah yang merupakan masa emas ia dapat banyak menjual dagangannya. “Tapi jika hari biasa terkadang berjualan terkadang juga tidak, namun yang rutin setidaknya hari Senin, rabu dan hari minggu,” kata Inaq Hamzanwadi atau yang dikenal juga Sanim.
Penghasilan mereka terbilang lumayan. Jika masa liburan panjang tiba, omsetnya meningkat bahkan lima kali lipat. “Kalau hari biasa dapat berjualan sekitar Rp 100.000 namun jika hari libur bisa mencapai Rp 500.000 sehari,” ujarnya. Di masa liburan itulah, para pengunjung memenuhi bibir-bibir pantai selatan Lombok khususnya di Pantai Kuta dan Tanjung An.
“Bahkan kalau sedang perayaan Lebaran Topat (lebaran khas masyarakat Lombok), pantai ini ramai (sesak) dikunjugi. Saya bisa jualan hingga Rp 1,5 juta sehari,” ungkap perempuan berusia 35 tahun ini. Begitu pula di hari-hari besar lainnya, pengunjung banyak membuat omzet penjualan mereka meningkat. “Cukup lumayan untuk membantu suami dan memenuhi kebutuhan bersama anak-anak,” kata Sanim. Untuk membantunya berjualan, anaknya yang sudah dewasa membantu ia mengangkut barang dagangan dari rumahnya ke pantai An karena jaraknya terbilang lumayan jauh.
Selain para pedagang yang berjualan makanan dan minuman serta camilan, ada pula yang menangkap peluang menyiapkan tempat bilas dan kamar mandi. Di sepanjang Pantai An, terdapat beberapa kamar mandi dan tempat bilas yang dibuat sederhana juga tempat untuk melaksanakan salat. Tempat ini sangat membantu bagi para pengunjung untuk merasa lebih nyaman setelah mandi di pantai.
Pengelola tempat bilas juga rata-rata adalah perempuan. Salah satunya adalah Inaq Namati. Ia berasal dari kampung Gerupuk Lombok Tengah. Dengan modal Rp 4 juta, ia membuka usaha ini sejak beberapa tahun yang lalu. Setiap hari ia harus menyiapkan setidaknya 100 liter air untuk bilas dan mandi. Tetapi jika musim libur tiba, ia harus bekerja ekstra untuk menambah kebutuhan air. Setidaknya 700-800 liter sehari.
“Kalo hari libur bisa menghabiskan air sampai 800 liter sehari karena pengunjung banyak sekali,” kata Namati yang usianya tidak lagi muda ini. Kebutuhan air yang banyak di musinm liburan tiba, membuat Namati harus menyewa kendaraan untuk mendatangkan air tersebut bahkan hingga 10 kali angkut. Jika di hari-hari biasa, biasanya hanya 3-4 kali angkut.
Setiap kali bilas dan mandi, pengunjung hanya membayar Rp 5.000 perorang. Musim ramai liburan, sehari Namati bisa membawa setidaknya Rp 300.000 yang dibagi untuk penjaga yang menjadi rekannya. Hasil ini dinilainya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupannya sehari-hari, termasuk untuk kebutuhan lainnya (sewa mobil angkut air dan lainnya). (Naniek I. Taufan)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas