Inspirasi

Shafa Annisa Rahmadani Arianata: JUARA DUNIA MENGINGAT WAJAH DAN NAMA

Shafa Annisa Rahmadani Arianata (kanan)

Anda tentu pernah mengalami—mungkin sering— berkenalan dengan orang namun lupa namanya. Atau pernahkah anda suatu ketika bertemu dengan orang yang anda kenali wajahnya namun lupa namanya. Mungkin sebagian atau banyak di antara kita kerap punya pengalaman seperti itu. Tapi berbeda dengan Shafa Annisa Rahmadani Arianata, remaja putri yang baru berusia 12 tahun ini justru punya memory yang teramat kuat. Ia mampu mengingat puluhan nama dan wajah orang yang baru dikenalnya.
“Mengingat wajah dan nama orang ada rumusannya. Misalnya mengasosiasikan atau mengimajinasikan dengan sesuatu. Tapi semua itu tentunya saya pelajari,” ungkap Shafa Annisa yang baru saja meraih gelar Grandmaster of Asia Memory Championships di Hong Kong, Agustus lalu, di Jakarta.
Murid kelas 8 SMP Kesatuan Bangsa Yogyakarta ini mengaku mulai mempelajari memory sport sejak tahun 2013 lalu saat dia masih kelas 3 SD. “Jadi ketika itu saya masih kelas 3 SD. Awalnya adalah teman kantor ayah, kak Yudi Lesmana yang tengah mengembangkan les memory sport. Kemudian ayah mengikutsertakan saya dalam lesnya kak Yudi. Setelah beberapa lama les, kak Yudi bilang “Wah Shafa berpotensi nih”. Kemudian saya pun diikutsertakan dalam lomba,” tutur Shafa yang sudah beberapa kali diundang ke acara-acara televisi untuk memperkenalkan kemampuannya.
Tak tanggung-tanggung, melihat potensi Shafa yang menjanjikan itu, Yudi Lesmana, sang pelatih, membawa anak didiknya untuk ikut kejuaraan memory sport internasional di Hong Kong. “Waktu itu tahun 2014, aku diikutkan kejuaraan yang berlangsung di Hong Kong. Waktu pertama kali ikut lomba saya nggak dapat apa apa,” ungkap remaja yang bercita-cita menjadi dokter mata ini.
Meski begitu pengalaman mengikuti lomba daya ingat internasional itu menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi untuk terus belajar memperbaiki diri. Hasilnya memang tak mengecewakan. Karena tak berapa lama setelah itu, Shafa pun meraih berbagai prestasi dalam berbagai lomba termasuk dalam ajang kejuaraan internasional.
Betapa tidak, pada Asia Memory Championship & 3rd Hong Kong Open Memory Championship 2015, Shafa yang ketika itu masih SD bukan hanya berhasil menyabet medali emas namun dia juga berhasil memecahkan rekor dunia dalam cabang ‘Names and Faces’ untuk kategori anak-anak. Dia mampu mengingat 88 wajah dan nama dalam tempo 15 menit.
Rekor Shafa tersebut dicatat oleh Memory Sports Council yang berbasis di Inggris. Selain itu dia juga meraih medali perak di cabang ‘Spoken Numbers’. Kemampuan Shafa untuk menyisikan banyak pesaing patut diacung jempol. Untuk diketahui, dua event tersebut diikuti oleh 100 peserta dari 11 negara, delapan di antaranya dari Asia –di antaranya Korea Selatan dan Jepang– dan 3 negara non Asia sepertia Swedia, Amerika dan Jerman.
Bagi Shafa prestasi yang diraihnya dalam event-event internasional khususnya bukan saja menjadi kebanggan bagi dirinya tapi juga untuk Indonesia di mana anak-anak Indonesia mampu ‘berbicara’ (berprestasi) di ajang internasional.
Tapi, kata Shafa, berhasil meraih berbagai prestasi tidak membuatnya puas. Selagi masih muda dia ingin terus berprestasi. Salah satu ukiran prestasi yang dibuatnya adalah saat tampil dalam ajang ‘Asia Memory Championship’ yang berlangsung di Hong Kong 26-27 Agustus 2017 lalu. Saat itu dia bukan hanya berhasil meraih gelar Grandmaster tapi juga menyabet perunggu di bidang ‘Spoken Numbers’.
Menurut Shafa, belajar memory sport sangat membantunya dalam berbagai hal terutama dalam pelajaran di sekolah maupun dalam menghafal pelajaran Al-Quran. Karenanya dia sangat giat mempelajarinya. “Bentuk dari lomba misalnya kita peserta diberikan beberapa lembar kertas. Di setiap lembar kertas ada gambar wajah orang dan namanya. “
“Para peserta diberi waktu beberapa menit untuk menghafal secepatnya dan sebanyak-banyaknya. Setelah itu keras-kertas tadi diambil. Kemudian kami peserta dibagikan lembaran-lembaran kertas yang isinya wajah-wajah yang sudah diacak posisinya, jadi tidak lagi seperti posisi pertama kali kita menerima kertas. Nah kita harus menuliskan siapa nama-orang-orang itu,” ungkapnya tentang salah satu mata lomba ‘Name and Faces’ dimana Shafa kerap juara. Sebelumnya Shafa juga juara di Malaysia Open Memory, Juli 2017 lalu dimana dia menjadi juara umum junior dengan meraih 3 emas 3 perak dan 1 perunggu.
Capaian yang diraih Shafa baik itu di ajang kompetisi maupun prestasi di sekolahnya tentu tak lepas dari ketekunannya mempelajari memory sport. Di Indonesia memory sport atau berlatih daya ingat ini belum terlalu populer di masyarakat. Konon ilmu ini sudah ada sejak zaman Yunani kuno namun baru benar-benar dikembangkan sebagai sebuah olahraga sejak abad ke-20.
Mind sports of memory atau memory sport pertama kali diadakan pada 1991 oleh penemu metode Mind Map dan seorang ahli dalam mental literasi yakni Anthony Peter Buzan dan Grand Master Catur Raymond Keene OBE. Olahraga otak ini diatur dan dinaungi oleh World Memory Sport Council (WMSC) yang merupakan badan olah raga resmi dalam bidang daya ingat yang bermarkas di Inggris.
Ilmu ini boleh dibilang sangat bermanfaat bukan saja bagi generasi muda namun juga orang dewasa. Bagi yang sudah lihai menggunakannya akan mampu menyerap informasi-informasi dengan cepat serta mencegah demensia.
Menurut Yudi Lesmana, pelatih memory sport yang juga bergelar Grandmaster memory sport, banyak manfaat yang didapat dengan menekuni memory sport. Untuk anak-anak misalnya, melatih daya ingat dapat membantu meningkatkan prestasi anak di sekolah. Setidaknya, kata Yudi, hal tersebut diketahuinya dari pernyataan orangtua yang anak-anaknya mengikuti pelatihan memory sport.
Terkait dengan hal tersebut baru baru ini tim dari Indonesia Memory Sports Council (IMSC) yang diketuai Yudi Lesmana bertemu dengan Sekjen Kemendikbud Didik Suhardi di kantor Kemendikbud. Beberapa hal yang disampaikan antara prestasi siswa-siswi Indonesia di kancah kompetisi daya ingat internasional . Juga tentang manfaat dari pelajaran daya ingat ini untuk para siswa dalam meningkatkan prestasi belajar mereka.
Hasil dari pertemuan tersebut antara lain program IMSC akan dikaji lebih lanjut untuk menjadi salah satu program baru dalam pengembangan kemampuan belajar anak serta sarana belajar untuk berprestasi di kancah nasional maupun internasional. (Diana Runtu)

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas