Sudut Pandang

Jadi Terkenal karena Radio

siti sapurah

Menjadi narasumber di radio tentu ada suka dukanya. Walaupun hanya suara yang didengar namun itu bisa membuat orang lain memperhatikan. Di sisi lain, kegemaran menyampaikan pendapat dan mengkritisi ternyata membuatnya menjadi incaran dan mendapat ancaman.
“Sejak duduk di bangku SD, saya memang suka aktif bicara. Saya suka membaca buku tokoh perempuan hebat seperti Margareth Teacher, Cut Nyak Dien, dan Kartini. Selain itu, saya juga suka menonton film dimana tokoh perempuan sebagai pembela (pengacara). Rasanya kok enak banget menjadi perempuan dewasa,” ujar Siti Sapurah tentang impiannya saat kecil.
Perempuan yang biasa disapa Ipung ini, menuturkan tiap kenaikan kelas, Ipung selalu berpartisipasi untuk mengisi acara, baca puisi atau menjadi MC. Sejak duduk di bangku SMP, ia selalu memenuhi mading sekolah dengan coretan puisinya tentang perempuan perkasa.
“Saya senang kalau ada acara diskusi, saya suka berdebat. Apalagi, topiknya, tentang anak-anak yang dipukuli orangtuanya,” kata Ipung. Sejak SMA, ia semakin aktif bicara dan jiwa nasionalisme terbangun sehinga ia sangat idealis. Namun, orangtuanya, selalu menasihatinya, agar jangan terlalu keras bicara. Apalagi, waktu awal mulai rezim reformasi, ia sangat aktif ikut berpendapat.
Begitu kuliah, ia mulai mengenal Radio Global. Ia tertarik dengan acara dialog interaktif, dimana para pendengar bisa ikut nimbrung berdiskusi. “Saya mulai ikut terlibat di dalam dialog tersebut. Rasanya plong saja sudah bisa bicara di warung diskusi. Saya sering mengritisi, kebijakan publik, aturan yang tidak pro rakyat, anggota DPRD yang korupsi. Sampai-sampai ada yang bilang ke saya, kamu kok berani sekali,” kata Ipung.
Setahun aktif di Radio Global, Ipung mulai dikenal banyak orang. Bahkan, banyak yang bilang, kalau gak ada Ipung di interaktif kurang seru. “Tahun 2000, saat Pemprov Bali membuat lokakarya di Bali Beach Sanur, Prof. Adnyana Manuaba menelepon, saya diundang ikut acara lokakarya tersebut,” tutur Ipung.
Ipung mengaku, merasa bangga, karena hanya dirinyalah seorang diri yang termasuk perempuan biasa. Peserta lain, adalah kepada dinas, kepala badan, pengacara, dan akademisi. Topik yang dibahas soal hukum. “Saya satu kelompok dengan dosen saya, Bapak Wisnu Murti. Saya mengajukan ide untuk membahas UU yang melindungi anak-anak. saya ditanya mengapa? Selama ini anak dipukul, dilempar oleh bapak atau ibunya, itu disebut hak pribadi, orang lain tak boleh masuk ke ranah itu. Sekarang kalau mau berjuang untuk anak-anak yang dipukul orangtuanya, kita tidak punya payung hukum. Anggota kelompok saya bilang, kalau begitu, kamu nanti yang bicara ke depan. Baiklah yang penting bapak-bapak izinkan saya membahas itu,” kata Ipung.
Dari 9 kelompok, usulan kelompok Ipung yang akhirnya direkomendasi untuk maju ke pusat. “Dari hasil presentasi itu, Prof. Adnyana Manuaba, memilih persentasi kelompok 7 yakni kelompok saya untuk direkomendasikan ke pusat. Langsung saya mendekati Prof. Adnyana Manuaba dan berkata, tolong perjuangkan ya Prof. UU ini harus ada di Indonesia,” kata Ipung. Akhirnya, Tahun 2002, Ipung mengetahui UU Perlindungan Anak ada, ia makin memacu dirinya untuk konsekuen dengan apa yang sudah diperjuangkan.
Sejak kasus Angeline yang ditanganinya berakhir dengan kesuksesan dan Ipung menjadi sorotan media, ia mulai didapuk menjadi narasumber di berbagai media baik cetak, televisi dan radio nasional. Selama ia menjadi narasumber, ia belum pernah tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan karena ia berkomitmen dan bicara hal yang memang ia kuasai dengan baik. “Saya selalu berusaha memberikan penjelasan, saya selalu membawa orang itu, andaikan ke diri kita sebagai korban. Bagaimana sih perasaan kita yang menjadi korban. Kalau tidak memosisikan diri kita sebagai korban, kita tidak bisa melihat persoalan dengan lebih jernih,” kata Ipung.
Soal suka duka menjadi narasumber, ia mengatakan, kalau soal ancaman, ia sudah biasa diancam. Bahkan, saat mengkritisi berbagai kebijakan publik seperti layanan umum di Radio Global, ia sering mendapat ancaman. “Biasanya setelah dialog, besoknya dimuat di koran. Nama saya ditulis, Ipung Denpasar. Ada orang yang berusaha mencari nomer ponsel saya dan mencari alamat rumah saya, mereka bahkan sampai ada yang mengancam saya ke rumah. Saya hadapi santai saja,” kata Ipung.
Bahkan, kata dia, saat interaktif di radio nasional soal kekekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, ada pendengar yang protes dengan pemikiran Ipung. “Tapi itulah konsekuensinya menjadi narasumber,” kata Ipung.
Ipung mengatakan, memang ia tak memungkiri, kalau Radio Global yang mengasahnya makin berani bicara. Dari Radio Global, orang mengenal yang namanya Ipung sampai sekarang. (Wirati Astiti).

Klik mengomentari

Tinggalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

Ke atas